Penjualan LCGC Semakin Ambles

Penjualan LCGC Semakin Ambles
LCGC MPV 7 kursi penumpang Toyota Caya di IIMS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Penjualan Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dengan Harga Terjangkau (KBH2) atau LCGC sepanjang semester pertama lalu ambles 12,4% dibanding rentang waktu yang sama tahun 2018. Kalangan industri menyebut fakta ini sebagai kondisi normal yang sebenarnya dari mobil yang juga disebuah sebagai mobil murah ramah lingkungan itu.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan di kurun waktu Janurai – Juni lalu penjualan LCGC hanya 100.792 unit. Padahal, di periode sama tahun 2018, penjualan masih sebanyak 115.076 unit.

Sejatinya, tren penurunan penjualan LCGC bukan pertama kali ini saja terjadi. Lagi-lagi, data Gaikindo berbicara, total penjualan di sepanjang tahun 2018 lalu haya 234.444 unt. Padahal, tahun sebelumnya penjualan mencapai 234.554 unit.

Soal fakta yang menunjukan tren penurunan itu, Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut sebagai kejadian yang wajar, mengingat penjualan secara keseluruhan di paruh pertama tahun ini juga ambles sekitar 13%.

Ilustrasi, Daihatsu Sigra dok.Motoris

“Kalau kita lihat penjualan atau pasar pada semester pertama kan turun sekitar 13%-an. Ya termasuk di dalamnya kana da LCGC,” kata dia saat dihubungi, Selasa (31/7/2019).

Penyebab
Menurut Jongkie ada beberapa penyebab yang memicu susutnya penjualan LCGC. Pertama, karena faktor kondisi politik yang menyebabkan orang menunggu perkembangan situasi.

Kedua, LCGC sudah melenggang di pasar otomotif nasional selama lima tahun. Sehingga, perlu ada stimulus baru untuk memantik minat konsumen.

“Ini tantangan terendiri bagi teman-teman di pemegang merek. Dan yang ketiga, memang sebenarnya pasar LCGC itu yang sebsar itu,” kata mantan Presiden Direktur Hyundai Indonesia itu.

Ilustrasi, model LCGC Toyota yakni Toyota Agya dengan dandanan sport – dok.Motoris

Pernyataan serupa diungkapkan Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy yang dihubungi beberapa waktu sebelumnya. Dia menyebut, kondisi yang ada saat ini merupakan gambaran riil dari permintaan LCGC yang sebenarnya.

“Artinya, ya inilah normal demand (permintaan) dari LCGC. Kalau lima atau empat tahun lalu, barangkali orang masih euforia. Terus kemudian ada tren taksi online. Nah, sekarang taksi online sendiri juga sudah pada titik tertentu dimana pemerintah membuat aturan untuk pembatasan armada,” kata Anton.

Honda Brio – dok.Istimewa

Selain itu, keberadaan taksi dan ojek online juga ikut menyebabkan orang lebih memilih menggunakan jasa mereka ketimbang membeli kendaraan. “Tetapi, bukan berarti pasar LCGC akan hilang atau berhenti sama sekali. Masih tetap aka nada, karena segmen pasarnya memang ada. Kelompok masyarakat yang tahapannya baru menjangkau (kemampuan daya beli) LCGC juga tetap ada,” imbuh Anton. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This