Mobil Elektrik dan Listrik Byar Pet, Ini Kata Kemenperin

Mobil Elektrik dan Listrik Byar Pet, Ini Kata Kemenperin
Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik-dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Persoalan listrik di Indonesia yang masih kerap padam alias byar pet dinilai Direktor Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin  Harjanto , bukan sebagai kendala serius untuk memasyarakatkan mobil listrik. Selain perusahaan listrik yang diyakini bakal terus berbenah, ragam mobil listrik dan cara pengecasan baterainya juga beragam.

Harjanto menegaskan, mobil terelektrifikasi atau mobil listrik ada beberapa macam. Mulai dari hybrid dan plug-in hybrid yang memadukan antara mesin pembakaran konvensional dengan motor listrik, hingga mobil listrik murni yang berbasis baterai.

“Mobil hybrid  dan plug-in hybrid, ketika daya listrik bagi motor listriknya yang tersimpan di baterai habis, bisa berganti menggunakan mesin konvensional. Begitu juga, kalau pas daya baterai habis, masih bisa digunakan,” paparnya saat ditemui di sela acara Digimod AMMDes, di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Ilustrasi, konsep MPV hybrid Daihatsu yang diperkenalkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Selain itu, cara dan metode pengecasan baterai kendaraan listrik – baik mobil maupun sepeda motor – juga bernacam-macam. Salah satunya adalah, battery swap, yakni lepas-pasang.“Kalau Pak Menteri (Perindustrian) sudah bilang ya. Bus, taksi, sepeda motor (listrik) bisa pakai battery swap. Jadi, kalau charging time (listrik padam) itu jadi kendala bisa pakai charging swap hingga bisa diganti,” ucap Harjanto.

Artinya, baterai tersebut bisa dilepas dari dudukan baterai di kendaraan jika telah habis arus setrumnya dan kemudia dicas di stasiun pengecasan atau di rumah. Selanjutnya, kendaraan menggunakan baterai cadangan untuk jalan.“Dengan kata lain, baterai yang digunakan gentian. Jadi, ketika listrik padam mobil listrik masih bisa digunakan karena baterai cadangan masih tersedia,” terang dia.

PT Toyota Astra Motor gencar melakukan edukasi kepada masyarakat soal mobil hybrid. Di hajatan GIIAS 2019, Toyota menyuguhkan sedan Prius hybrid yang dibelah sebagai sarana edukasi – dok.Motoris

Infrastruktur

Pada bagian lain, alumni jurusan teknik metalurgi Universitas Indonesia itu mengatakan, dari hasil kajian enam perguruan tinggi di Indonesia beberapa waktu lalu, mobil listrik hibrida merupakan salah satu yang cocok untuk Indonesia. Setidaknya, untuk saat ini ini dimana infrastruktur pendukung masih minim dan kesiapan masyarakat untuk menuju kendaraan listrik murni atau berbasis baterai.

Berkaitan dengan hal itu, kata dia, kini yang menjadi perhatian Kemenperin adalah ketersediaan infrastruktur dan keterjangkauan harga mobil listrik.

Untuk pembangunan infrastruktur, pemerintah memberikan insentif bagi swasta yang membangun charging station seperti yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) mobil listrik.

Ilustrasi, infrastruktur fasilitas pengisian baterai mobil listrik – dok.Istimewa

“Melalui Perpres mobil listrik sudah ada payung hukum yang kami anggap memberikan dorongan industri dalam negeri membangun charging station,” imbuhnya. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This