Menciut 2,9%, Ekspor Toyota Masih yang Terbanyak

Menciut 2,9%, Ekspor Toyota Masih yang Terbanyak
Ilustrasi, Toyota Innova yang diangkut mobil gendong menuju pelabuhan untuk diekspor- dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Ekspor mobil secara utuh (CBU) yang dibukukan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di rentang waktu Januari – Juni lalu sebanyak 93.700 unit atau menciut 2,9% dibanding semester pertama 2018. Meski begitu, volume pengiriman mobil Toyota ke luar negeri di sepanjang waktu itu tercatat masih yang terbanyak dibanding merek-merek lain.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, di kurun waktu enam bulan pertama itu Toyota berada di urutan pertama dalam daftar pengekspor terbanyak. Dia disusul Mitsubishi yang mengekspor sebanyak 24.356 unit.

Urutan ketiga Suzuki dengan volume 12.230 unit. Keempat, Honda yang mengirim 3.691 unit. Kelima Hyundai dengan 1.531 unit. Sedangkan keenam dan ketujuh, masing-masing ditempati Hino yang mengekspor 1.020 unit, dan Daihatsu yang sebanyak 819 unit.

Ihwal susutnya ekspor di semester pertama tersebut, Direktur Administration, Corporate, & External Affairs PT TMMIN Bob Azam, menyebut karena kondisi di negara tujuan ekspor. “Ada beberapa faktor yang membuat permintaan impor (di negara tujuan turun),” kata dia di Kemang Village, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (6/8/2019).

Ilustrasi, ekspor SUV Indonesia. Proses Scanning Toyota Fortuner sebelum diekspor – dok.TMMIN

Salah satu faktor itu adalah, penjualan di negara yang bersangkutan disebabkan situasi dan kondisi ekonomi yang berdampak ke pasar otomotif. Diantara negara yang menurunkan volume permintaan adalah Filipina.

“Tetapi, kita terus berusaha untuk kembali menggenjot ekspor ini. Baik di existing market (negara-negara yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor) maupun pasar baru (negara yang baru akan dibidik),” ujar Bob.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto yang dihubungi, Selasa (6/8/2019) mengatakan, persoalan pasang surut ekspor merupakan hal yang lumrah. Terlebih, pengiriman mobil ke suatu negara juga tergantung kondisi pasar di negara yang bersangkutan.

Lantaran itulah, lanjut dia, industri otomotif Indonesia dituntut untuk terus jeli melihat dan menembus pasar baru. Menurut dia, saat ini Indonesia memiliki peluang untuk mengekspor ke Australia. Sebab, antara Indonesia dengan negara itu telah memiliki perjanjian kerjasama ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

“Selain itu, permintaan mobil dari Australia itu sebanyak 1,2 juta unit dari impor. Sebab, banyak industri di sana yang tutup. Ini peluang, tinggal bagaimana peluang itu bisa dimanfaatkan tergantung masing-masing industri yang ada di kita (Indonesia),” kata Jongkie. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This