Industri 4.0: Sektor Otomotif Jadi Andalan Penopang Ekspor

Industri 4.0: Sektor Otomotif Jadi Andalan Penopang Ekspor
Ilustrasi, Toyota Innova yang diangkut mobil gendong menuju pelabuhan untuk diekspor- dok.TMMINToyota Innova yang diekspor - dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan industri otomotif sebagai sektor andalan meningkatkan ekspor dalam peta jalan (roadmap) Industri 4.0. Tidak hanya mobil konvensional, namun sampai 2030 nanti produksi mobil listrik dari dalam negeri ditargetkan bisa memenuhi kebutuhan ekspor.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Harjanto di Jakarta, Kamis (15/8/2019). Ia mengaku optimistis para pelaku industri otomotif bisa memenuhi ekspektasi pemerintah.

“Kami optimistis, sektor industri otomotif bisa menjadi primadona untuk mendongkrak ekspor nasional. Targetnya pada tahun 2030, industri otomotif di Indonesia ada yang menjadi Champion, baik itu untuk produksi kendaraan internal combustion engine (ICE) atau electrified vehicle (EV),” kata Harjanto.

Untuk bisa membantu pelaku industri otomotif mencapai target tersebut, pemerintah menurutnya akan fokus mendorong penguatan rantai pasok dan memperdalam struktur manufakturnya.

Ilustrasi, konsep MPV hybrid Daihatsu yang diperkenalkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

“Kami berusaha untuk terus menumbuhkan ekspornya, sehingga pada tahun 2025, industri otomotif nasional dapat melakukan ekspor kendaraan CBU sebesar 1 juta unit ke lebih dari 80 negara,” tegasnya.

Produktivitas dan Daya Saing
Tidak hanya itu, Kemenperin juga akan membantu pabrikan untuk mengembangkan produktivitas dan daya saing industri otomotif. Hal tersebut dilakukan berbarengan dengan pengembangan industri komponen.

Sebab produk industri alat-alat kendaraan bermotor merupakan bagian dari rantai pasok bagi original equipment manufacturer (OEM) maupun layanan purna jual industri kendaraan bermotor, yang memiliki pangsa pasar sangat luas baik pasar domestik maupun ekspor.

“Jadi, sektor tersebut juga berpeluang untuk terus dikembangkan teknologinya sehingga mampu bersaing di pasar global,” ujar Harjanto.

Ilustrasi, komponen – dok.Istimewa

Kemenperin mencatat saat ini ada 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia yang terbagi dalam Tier 1, Tier 2 dan Tier 3 yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Potensi Ekspor 
Harjanto menambahkan, potensi industri otomotif di Indonesia terlihat dari capaian ekspor produk otomotif dan komponennya yang terus menunjukkan peningkatan.

Tahun lalu, Kemenperin mencatat adanya ekspor kendaraan CBU sebanyak 265 ribu unit, CKD sekitar 82 ribu set, serta komponen lebih dari 86,6 juta.

“Sampai Juli 2019, nilai ekspor produk tersebut telah melampaui 50 persen dari nilai ekspor 2018,” ungkapnya.

Untuk tahun ini, ekspor mobil produksi Indonesia ditargetkan menembus di angka 400 ribu unit.

“Produsen otomotif nasional sudah bisa ekspor ke lebih dari 80 negara, dengan lima negara tujuan utamanya, antara lain Filipina, Saudi Arabia, Jepang, Meksiko, dan Vietnam,” imbuhnya.

Ilustrasi, Presiden Joko Widodo saat menyaksikan ekspor Toyota Fortuner didampingin Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono – dok.TMMIN

Kekuatan industri otomotif di Indonesia, juga akan dipacu melalui peningkatan kapasitas seiring dengan masuknya sejumlah investasi baru. Pada periode Januari hingga Juni 2019, produksi mobil sudah mencapai 600 ribu unit. Adapun penjualan domestik sebesar 500 ribu unit.

“Naiknya penjualan juga didorong dari penyelenggaraan pameran, seperti gelaran GIIAS beberapa waktu lalu yang menampilkan banyak model kendaraan baru termasuk yang mempunyai emisi rendah,” terangnya.

Mobil Listrik
Kemenperin mencatat, produksi otomotif nasional pada tahun 2018 mencapai angka 1,2 juta unit. Adapun pemerintah menargetkan produksi dalam negeri terus meningkat hingga mencapai 2 juta unit pada tahun 2030. Sementara itu, Indonesia membidik produksi mobil bertenaga listrik bakal menyentuh 20 persen dari total produksi pada tahun 2025.

“Kalau kita bicara kendaraan EV, ada mulai dari hybrid, PHEV, termasuk juga fuel cell,” sebutnya.

Dalam hal ini, pemerintah telah berkomitmen untuk mempercepat pengembangan produksi mobil listrik di dalam negeri.

Rencana pengembangan mobil listrik didukung dengan diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Harapannya, para pelaku industri otomotif di Indonesia segera merancang dan mulai melakukan pengembangan mobil listrik.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, dalam Perpres tentang mobil listrik itu akan diatur juga mengenai pengoptimalan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang harus mencapai 35 persen pada tahun 2023. Hal itu juga memungkinkan upaya ekspor otomotif nasional ke Australia.

Ilustrasi, pengecasan baterai mobil listrik di Cina – dok.Caixingglobal.com

“Karena dalam skema kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), ada persyaratan 40% TKDN, sehingga kami sinkronkan dengan fasilitas yang ada,” jelas Airlangga beberapa waktu lalu.

Tidak hanya Perpres Mobil Listrik, pemerintah juga sedang memfinalisasi revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Dalam skema PPnBM yang baru, akan ditambahkan parameter penghitungan konsumsi bahan bakar dan emisi CO2. Ini juga untuk menyesuaikan minat pasar global, sehingga kita bisa mendorong produksi kendaraan seperti sedan,” imbuhnya. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This