Perpres Kendaraan Listrik Minus Istilah Hybrid, Ini Kata Toyota

Perpres Kendaraan Listrik Minus Istilah Hybrid, Ini Kata Toyota
Toyota C-HR hybrid - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 yang sudah diteken Presiden Joko Widodo berisi tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan Umum. Bahkan jika ditelisik, isinya juga tegas-tegas menyebut KBL berbasis baterai, tidak ada istilah hybrid atau plug-in hybrid di dalamnya.

Lantas, akankah itu berarti pemerintah hanya fokus ke pengembangan kendaraan listrik murni alias kendaraan listrik berbasis baterai bukan hybrid dan plug-in hybrid, meski keduanya juga mengusung motor listrik yang berbaterai? PT Toyota Astra Motor (TAM) memilih sikap untuk menunggu kepastian dari aturan turunannya.

“Inat, ini kan Perpres ya. Tentu bahasanya pun normatif karena memang bukan petunjuk tenis pelaksanaan di lapangan. Karena seperti induk sebagai acuan untuk aturan berikutnya yang lebih rinci sebagai petunjuk tenis dan petunjuk pelaksanaan. Jadi, kami masih menunggu aturan turuannnya itu,” papar Marketing Director TAM, Anton Jimmi Suwandy, saat ditemui sebelum konferensi pers Toyota Fun/Code, di Kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (15/8/2019) petang.

Ilusrasi, Toyota Prius Plug-in Hybrid dipamerkan di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Anton memperkirakan pemerintah juga memiliki pemikiran bahwa peta jalan atau roadmap menuju pemasyarakatan kendaraan listrik di Tanah Air juga akan bertahap. Setidaknya, kata dia, dari bocoran isi Perpres Nomor 55 Tahun 2019 itu yang menyebut Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada mobil listrik yang besarannya juga bertahap.

“Kan disebutkan pada periode tahun 2019 – 2021 sebesar 35%, dan seterusnya. Artinya, kalau melihat ini tentu tahapan-tahapan (perkembangan mobil listrik ke mobil listrik murni hanya berbasis baterai) akan dilalui,” kata dia.

Terlebih, lanjut Anton, pemerintah juga mematok target dari roadmap menuju produksi kendaraan listrik sebesar 20% dari total produksi kendaraan di Tanah ir pada tahun 2025 nanti. Jika melihat infrastruktur mobil listrik, harga jual mobil listrik (murni berbasis baterai), dan sumberdaya pendukung produksi seperti komponen, jika angka 20% itu dipersepsi sebagai mobil listrik murni masih cukup berat.

Fransiscus Serjopranoto (berbaju batik) saat berbincang soal Prius hybrid, salah satu varian sedan berteknologi hybrid yang dijajakan Toyota di Indonesia- dok.Motoris

“Ketiga, kita juga dapat bocoran soal Peraturan Pemerintah (PP) tentang PPnBM. Kan bocoran yang ada menyebut, acuan PPnBM itu kan tingkat emisi kan? Nah, artinya masih ada emisi gas buang yang menjadi tolok ukur (artinya masih ada kendaraan yang menggunakan mesin pembakaran termasuk hybrid dan plug-in hybrid),” jelas Anton.

Ekosistem industri 
Executive General Manager PT TAM, Fransiscus Soerjopranoto saat ditemui di tempat yang sama usai acara konferensi pers secara tegas mengatakan, Toyota Indonesia bukan mengingnkan proses produksi dan pemasyarakatan mobil listrik di Indonesia dilakukan secara gradual.

“Bukan seperti itu. Kami juga idak pernah menyatakan sebaiknya gradual (bertahap). Tetapi, kami akan memasarkan model (mobil listrik termasuk di dalamnya ada hybrid dan plug-in hybrid) sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasar. Karena, secara teknologi dan produk, Toyota sudah punya itu semua (mulai dari mobil hybrid, plug-in hybrid, listrik berbasis baterai, hingga fuel cell),” ungkap dia.

Menurut dia, untuk memproduksi sebuah mobil listrik memang tak bisa dilakukan dengan serta merta secara sendirian oleh satu pabrikan atau merek. Pasalnya, untuk membuat kendaraan bersumber tenaga itu dibutuhkan partisipasi dari industri lain atau bahkan produsen mobil lain dari merek yang lainnya.

Ilustrasi, beberapa konsep mobil listrik Toyota – dok.Toyota

“Karena memang butuh pasokan komponen-komponen yang berbeda dan banyak. Misalny baterai. Nah, kita disebut punya sumber bahan baku baterai (nikel, kobalt). Itu bagus, karena kita bisa produksi baterai. Tetapi, yang harus diingat, baterai itu kan macam-macam ya, ada yang berbahan lithium dan nikel, dengan masing-masing keunggulannya. Nah, mana yang sesuai dengan kondisi Indonesia? Itu juga jadi hal yang harus dipikirkan juga,” papar Soerjo.

Oleh karena itulah, lanjut Soerjo, untuk memulai produksi kendaraan listrik, faktor ekosistem industri itu sangat menentukan. Tapi, ekosistem saja masih belum cukup, para investor yang akan memproduksi tentu juga akan melihat pasar yang ada, yakni seberapa besar penjualan unit.

“Makanya, ekosistem dan pasar ini juga jadi penentu, selain insentif-insentif yang ada,” imbuh dia. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This