Perpres Mobil Listrik Tak Bikin LCGC Cepat Punah

Perpres Mobil Listrik Tak Bikin LCGC Cepat Punah
LCGC Daihatsu Sigra di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Datangnya era mobil listrik di Indonesia ditambah rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dengan acuan tingkat emisi gas buang kendaraan, menjadikan masyarakat bertanya soal nasib mobil murah ramah lingkungan (LCGC). Maklum, dengan PP itu, maka mobil yang di bahasa resmi pemerintah disebut Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) itu bakal dikenai PPnBM sebesar 3%.

Namun, sejumlah kalangan meyakini LCGC tak akan cepat punah atau segera hilang dari pasar otomotif nasional. Salah satunya adalah PT Toyota Astra Motor (TAM).

Seperti diungkapkan Executive General Manager TAM, Fransiscus Soerjopranoto, setidaknya ada beberapa hal yang membuat LCGC bakal bertahan. Konsep awal dari lahirnya LCGC adalah, memberikan pilihan kepada masyarakat kendaraan yang ramah lingkungan dengan konsumsi bahan bakar yang irit, yakni 1:20 kilometer atau lebih.

“Jadi, dari awal LCGC dirancang sebagai mobil yang irit bahan bakar, yang tentu secara emisi juga rendah,” tutur dia, saat ditemui usai konferensi pers Toyota Fun/Code, di Jakarta, Kamis (15/8/2019) petang.

Ilutrasi, mobil LCGC MPV 7 kursi penumpang yang dipasarkan TAM, anak perusahaan Astraa – dok.Motoris

Kedua, pabrikan akan melakukan terobosan agar tingkat emisi gas buang LCGC tetap rendah, sehingga tarif PPnBM yang dikenakan juga tetap rendah, meski tak mungkin 0%.

“Karena nol persen (tarif PPnBM) kabarnya kan hanya diberikan yang emisinya juga nol, berarti battery electric atau fuel cell battery electric. Tapi, setidaknya akan ada inovasi, entah apa itu, enggak tahu. Tapi kalau kita lihat seperti di Toyota, muncul teknologi VVTi, kemudian dual VVTi, dan sebagainya. Saya kira di LCGC nantinya ada terobosan,” papar dia.

Ketiga, dilihat dari peta jalan atau roadmap pemasyarakatan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) di Tanah Air yang ditetapkan pemerintah, perjalanan untuk menuju mobil listrik juga berjalan linear. Misalnya, pada tahun 2025 ditetapkan, porsi kendaraan listrik (yang diartikan sebagai mobil hybrid, plug-in hybrid electric vehicle/PHEV, hingga listrik murni atau battery electric vehicle), sebanyak 20% dari total produksi.

“Sampai nanti, porsinya terus naik. Nah, pada saat yang sama, jumlah mobil internal combustion (mesin pembakaran internal) terus diturunkan. Tapi, saya kira mobil-mobil ICE (Internal Combustion Engine) juga tidak akan benar-benar hilang, karena faktor penyesuaian teknologi itu, sehingga emisinya juga semakin rendah,” terang Soerjo.

Ilustrasi, model LCGC Toyota yakni Toyota Agya dengan dandanan sport – dok.Motoris

Pernyataan senada diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto. “Memang kuncinya di inovasi. Bagaimana tingkat emisi bakal lebih rendah lagi, saya kira teman-teman di industri punya itu. Entah apa namanya, mild hybrid, atau apa merek punya,” ujar dia saat dihubungi, Jumat (16/8/2019).

Pasar masih besar
Selain dua faktor di atas, menurut Jongkie, LCGC masih akan melaju kencang penjualannya dalam beberapa waktu mendatang. Alasannya, karena ceruk pasarnya masih besar.

Menurutnya,  rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih rendah yakni 87 unit di setiap 1.000 orang penduduk. Jumlah ini jauh dibawah Thailand yang mencapai 240 unit per 1.000 penduduk.

“Dengan tingkat pendapatan yang sebesar US$3.000 – 3.500 per tahun, tentu LCGC bakal menjadi pilihan. Artinya, pasar segme ini masih besar. Kalau sekarang naik turun, itu dalam bisnis hal yang biasa,” kata dia.

Soerjopranoto mengamini Jongie. Dia menyebut, porsi pasar LCGC selama ini mencapai 20% dari total penjualan. “Karena ada LCGC ini, tahun lalu penjualan bisa mencapai 1,1 juta lebih. Coba bayangin, kalau tidak ada LCGC,” ucap dia.

Honda Brio, LCGC andalan Honda Indonesia – dok.Istimewa

Data Gakindo menunjukan dalam rentang waktu Januari – Juni lalu penjualan LCGC ambles hingga 12,41%. Dari 115.076 unit di enam bulan pertama 2018 lalu, tahun ini hanya 14.284 unit.

Bahkan di tahun lalu, total penjualan LCGC di Tanah Air tercatat sebanyak 230.444 unit. Jumlah ini menyusut 1,6% dibanding tahun sebelumnya. (Fer/Ara)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This