Mobil Hybrid Bakal Laris Kalau Harganya Rp 250 Jutaan

Mobil Hybrid Bakal Laris Kalau Harganya Rp 250 Jutaan
Ilustrasi, konsep MPV hybrid Daihatsu yang diperkenalkan di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Pemerintah telah mematok target populasi kendaraan bersumber tenaga dari listrik – baik listrik murni berbasis baterai (BEV), hybrid (EH), Plug-in Electric Hybrid (PHEV) – sebanyak 2.200 unit atau 20% dari total pasar pada tahun 2025. Namun, untuk menggenjot target tersebut dibutuhkan upaya terobosan agar mobil jenis itu diminati masyarakat, sebab harganya lebih mahal.

“Memang, kalau kita bandingkan dengan mobil konvensional, harga mobil terelektrifikasi atau mobil listrik itu kan lebih mahal. Itu yang menjadi pertimbangan orang untuk membeli. Karena itu, diperlukan insentif dan terobosan,” papar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto, saat ditemui Motoris, di sela seminar yang berlangsung pada hajatan Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019, di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Selain membuat komponen di dalam negeri – terutama baterai yang memberi porsi 60% dalam struktur kompoen harga jual – pilihan jenis dan kategori produk yang pas juga menentukan harga.

“Oleh karena itu, dalam beberapa kajian yang dilakukan, dengan kondisi yang ada di kita saat ini, mobil listrik yang ternasuk di dalamnya ada hybrid, PHEV, dan BEV, mobil yang bisa mendorong percepatan pemasyarakatan (populasi) adalah mild hybrid berharga Rp 250 jutaan,” kata Harjanto.

All New Ertiga Hybrid, model pertama Suzuki Indonesia dalam melangkah ke era mobil listrik di Tanah Air – dok.PT SIS

Sebab, lanjut alumni Teknik Metalurgi Universias Indonesia ini, selama ini mobil yang paling di Indonesia merupakan mobil dengan rentang harga di bawah 300 jutaan. “Jadi, kita juga melihat fakta ini. Harga Rp 250 jutaan untuk mild hybrid itu sudah net (termasuk pajak) atau on the road ya,” kata dia.

Pernyataan ini diamini Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gakindo), Jongkie Sugiarto. Menurutnya, dengan tingkat Produk Domestik Brutto atau tingkat pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia yang masih berada di kisaran US$ 3.500, maka untuk pemasyarakat mobil listrik – bahkan hybrid sekali pun – dibutuhkan waktu.

Masih perlunya waktu tersebut, kata Jongkie, bukan sekadar untuk adaptasi dengan teknologi, tetapi juga menyangkut daya beli. “Jadi kalau mobil hybrid itu harganya Rp 250 jutaan itu pasti akan laris. Karena segmen terbesar yang ada sekarang ya di kisaran itu,,” ungkap dia saat dihubungi, Jumat (6/9/2019).

Ketua Program Mobil Listrik Nasional yang juga Ketua Laboratorium Konversi Energi Elektrik ITB, Agus Purwadi yang ditemui Motoris di sela acara IEMS 2019, di Jakarta, Rabu (4/9/2019) juga memberi alasan serupa. Faktor harga masih menjadi tantangan besar dalam pemasyarakatan mobil listrik (termasuk hybrid dan PHEV).

Ilustrasi, konsep mobil hybrid yang dikembangkan Perodua – dok.Paultan.org

“Karena komponen terbesar itu harga baterai, yaitu 60%. Sedangkan baterai masih belum dibuat di dalam negeri. Kalau hybrid kan tidak perlu infrastruktur charging station. Jadi dari hasil riset kami selama ini menyimpulkan, untuk saat ini mobil terlektrifikasi yang pas itu hybrid, sambil terus berjalan hingga ke BEV, atau bahkan fuel cell,” ucap dia. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This