Pikap Bima Meluncur, Ini “PR” Berat Esemka

Pikap Bima Meluncur, Ini “PR” Berat Esemka
Tampilan depan pikap Esemka Bima - dok.BMI Setpres

Jakarta, Motoris – Seiring dengan diresmikannya pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di Boyolali, Jawa Tengah, oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Jumat (6/9/2019) lalu, produk perdana yakni pikap Esemka Bima diluncurkan. Langkah meluncurkan varian pikap dinilai realistis di tengah kondisi pasar otomotif, tetapi “pekerjaan rumah” manajemen Esemka juga tak ringan.

Kepala Riset Eternity Marketing Ressearch Specialist, Garibaldy Warlinan, mengatakan pada saat Esemka Bima lahir, keadaan pasar otomotif di Tanah Air juga dalam keadaan tak baik. Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dia menyebut penjualan mobil di tujuh bulan pertama tahun ini, termasuk hingga Agustus masih lesu.

“Dari Januari sampai Juli turun 13,75% (dari 661.247 unit tahun lalu menjadi 570.331 unit tahun ini), penjualan ini juga ternasuk pikap. Nah, ini menjadi tantangan yang cukup berat, terutama jika dikarenakan faktor daya beli karena kondisi eksternal dan internal (ekonomi) kita,” papar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Faktanya, data Gakindo juga menunjukan, di rentang waktu tujuh bulan itu penjualan pikap juga menyusut. Di kurun waktu itu penjualan yang dibukukan hanya 72.586 unit, sehingga jika dibanding periode sama tahun sebelunya menciut 8,62%.

Pikap Esemka Bima saat dicoba Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto – dok.BMI Setpres

“Tetapi, harus diakui, strategi PT Esemka dengan menyodorkan kendaraan komersial dalam “babat alas” atau membuka pasar merupakan langkah yang realistis. Kenapa? Di kendaraan penumpang sudah berjubel merek-merek terkenal milik pabrikan yang secara brand image dan kekuatan jaringan penjualan maupun layanan purna jual yang kuat,” papar Garibaldy.

Pekerjaan rumah berat
Keputusan Esemka menyodorkan pikap untuk langkah pertama, lanjut dia, juga tepat jika karakteristik dan perilaku konsumen mobil penumpang yang sangat berbeda dengan kendaraan komersial. Di segmen kendaraan penumpang, faktor pride atau gengsi menjadi pertimbangan selain harga, teknologi serta fitur yang disandang mobil.

“Ini berbeda dengan segmen kendaraan komersial yang lebih mementingkan aspek fungsional. Kekuatan, ketahanan, kapasitas angkut, plus harga yang miring, dan layanan purna jual mulai dari servis sampai ketersediaan suku cadang,” ungkap alumni Monash University, Australia itu.

Maklum, penyerap kendaraan komersial adalah sektor-sektor bisnis yang lebih condong mengkalkulasi untung rugi penggunaan barang modal – termasuk kendaraan sebagai angkutan penunjang operasional/produksi – ketimbang faktor gengsi. Sehingga, jika Esemka Bima berhasil masuk ke ceruk pasar kendaraan komersial di Tanah Air, dia akan memiliki basis konsumen loyal.

Tampilan belakang pikap Esemka Bima – dok.BMI Setpres

“Tetapi justeru di sini tantangan dan pekerjaan rumah berat yang harus diselesaikan oleh PT Esemka selaku produsennya. Pertama tentu saja membangun brand image atau citra merek. Citra merek bukan sekadar memperkenalkan nama saja, tetapi men-delivery brand value atau nilai-nilai utama sebuah merek. Mulai dari kualitas produk, hingga layanan purna jualnya,” terang Garibaldy.

PT Esemka harus bergerak cepat membangun jaringan baik untuk penjualan, layanan servis dan perawatan, hingga penyediaan suku cadang. Faktor ini sangat dibutuhkan dan mendesak. Esemka harus bekerja ekstra cepat untuk menggaet investor sebagai mitra membagun diler.

Proses produksi pikap Esemka Bima di pabrik Esemka, Boyolali, Jawa Tengah – dok.Istimewa

Terlebih, jika melihat para pesaing di ceruk pasar pikap yang sudah lama malang melintang di segmen pasar itu sejak puluhan tahun lalu, dengan jaringan yang luas. Mereka antara lain, Suzuki, Daihatsu, Tata Motors, dan yang baru masuk DFSK.  Mereka juga terus agresif menggarap pasar. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This