Semester I Fuso dan Hino Ambles, Kini Pasar Truk Mulai Ngegas

Semester I Fuso dan Hino Ambles, Kini Pasar Truk Mulai Ngegas
Ilustrasi, truk ringan Hino - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Setelah penjualan di sepanjang semester pertama atau dari Januari – Juni lalu ambles hingga 21%, para agen pemegang merek truk meyakini di kuartal ketiga ini penjualan kembali naik. Kegiatan ekonomi yang membutuhkan sarana angkutan jenis ini, dan belanja modal menjadi pemicu.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, di rentang waktu itu total penjualan truk di Tanah Air sebanyak 40.729 unit. Penjualan para pemain utama di segmen ini, yakni Mitsubishi Fuso dan Hino juga ambrol.

Tercatat, penjualan Mitsubishi Fuso di periode itu hanya 42.205 unit atau ambrol 20% dibanding senster pertama tahun 2018 lalu yang masih sebanyak 53.000 unit. Sedangkan penjualan ritel Hino di waktu yang sama hanya 14.015 unit, alias ambles 19,6%.

Bahkan, seperti diakui Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Saes Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo, Hino Indonesia mengoreksi target penjualan tahun ini. Target yang semula dipatok 45.000 unit, kini dikere turun menjadi 37.000 unit.

Ilustrasi, Mitsubishi Fuso, tetapi truk Fuso 6×2 – dok.Motoris

“Tetapi di Juli kemarin kita sudah mulai naik lagi. Selama Juli naik 15%, karena ada limpahan dari Juni yang hari kerjanya lebih pebdek karena bersamaan dengan Lebaran. Tetapi, Agustus itu dikarenakan aktifitas ekonomi yang mulai rebound,” papar Santiko saat ditemui di sela acara Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019, di Jakarta, belum lama ini.

Dia meyakini, hingga akhir tahun nanti penjualan masih akan nanjak. Pasalnya, banyak perusahaan angkutan truk maupun perusahaan pengguna langsung truk – seperti pertambangan dan perkebunan – yang berbelanja modal.

“Kemungkinan besar juga lembaga-lembaga pemerintah, karena ini akhir tahun biasanya belanja modal dilakukan untuk anggaran yang sudah ditetapkan sebelumnya,” papar Santiko.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, Kyatmaja Lookman mengaku tidak tahu persis untuk kebutuhan perusahaan-perusahaan pengguna langsung truk seperti pertambangan dan perkebunan atau lainnya. “Tetapi, kalau perusahaan jasa angkutan baik untuk logistik maupun lainnya, sepertinya ada pertambahan tetapi tidak besar,” papar dia saat dihubungi, Senin (9/9/2019).

Ilustrasi, truk angkutan logistik – dok.Motoris

Pertambahan dipicu karena di akhir tahun biasanya agen pemegang merek menggelar program khusus penjualan dengan diskon harga. Sedangkan jumlahnya yang kecil, karena perusahaan angkutan kinerjanya masih belum maksimal.

“Karena tingkat utilisasi truk di kita yang masih rendah karena berbagai hal, terasuk permintaan yang masih belum tinggi, tingkat kemacetan, dan lainnya,” kata dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This