DP Rendah Diyakini Pacu Permintaan Kendaraan Komersial
Sebagian dari truk Hino yang dipasarkan di Indonesia - dok.Motoris

DP Rendah Diyakini Pacu Permintaan Kendaraan Komersial

Jakarta, Motoris – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengerek turun besaran uang muka (DP) kredit kendaraan roda empat – baik kendaraan penumpang maupun komersial – dinilai menjadi sentimen positif bagi pasar kendaraan komersial. Terlebih jika kebijakan itu juga dibarengi dengan jangka waktu kredit (tenor) yang lebih panjang.

“Kebijakan uang muka yang lebih ringan akan berdampak positif untuk menarik minat konsumen, apalagi kalau angsurannya juga ringan. Tetapi, kebijakan ini kan eksekusinya di lapangan tergantung lembaga keuangan atau leasing,” tutur Direktur Penualan dan Promosi PT Hino Motor Saes Indonesia (HMSI) saat dihubungi, Jumat (20/2019).

Pernyataan senada diungkapkan 4W Sales Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Makmur. Menurut dia, pengguna kendaraan komersial pikap Suzuki New Carry yang terbanyak merupakan kalangan wirausahawan.

“Sebagian besar pengguna pikap Carry itu pebisnis di bidang usaha kecil menengah, pertanian, perkebunan, dan lainnya. Nah, DP lebih ringan akan memberi insentif ke mereka untuk berinvestasi pengembangan usaha termasuk pengadaan barang modal, kendaraan angkutan,” kata Makmur saat dihubungi, Jumat (20/9/2019).

Pengurus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten, Syaiful Bachri mengatakan, kebijakan tersebut memang memberikan keringanan kepada pengusaha yang akan menambah armadanya. Namun, kata dia, langkah pengusaha angkutan truk untuk menambah unit baru juga tergantung kondisi pasar, yakni permintaan oleh sektor-sektor yang selama ini mengunakan jasa angkutan tersebut.

Pikap Suzuki New Carry yang diluncurkan di IIMS 2019 diharapkan menjadi penopang gerak roda perekonomian negeri – dok.Motoris

“Ya, tentu kita juga harus melihat seberapa besar pasar jasa angkutan truk. Artinya, bagaimana kondisi yang dihadapi user (pengguna) jasa angkutan truk, kalau kondisi mereka bagus tentu permintaan ke kita juga tinggi. Kalau pasar bagus, ya perusahaan angkutan akan juga akan menambah unit. Meskipun tidak bisa serta merta, karena juga tergantung kondisi perekonomian,” ungkap dia.

Dengan kata lain, kata Syaiful, persoalan uang muka dn suku bunga kredit bukanlah satu-satunya faktor untuk mendorong pembelian unit baru bagi pengusaha. “Kalau pebisnis, tentu yang dijadikan patokan kan kondisi bisnisnya, bagaimana pasar, bagaimana kondisi ekonomi. Bagi mereka bukan sekadar bagaimana membeli, tapi bagaimana bisa mengansur dengan lancar tanpa mebebani bisnisnya, itu jauh lebih pentinhg,” kata dia.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/9/2019) mengatakan, BI bakal menurunkan DP Kredit kendaraan bermotor mulai 22 Desember nanti. “Tetapi kita lihat bagaimana dengan NPL (Non Perforing Loan/Kredit Bermasalah) perbankan. NPL harus di bawah 5%, karena kita tetap memegang prinsip prudential,” kata dia.

Ilustrasi, logo Bank Indonesia – dok.Reuters

Jika saat ini besaran DP untuk kredit sepeda motor masih sebesar 20-25%, dan BI berniat menurunkannya menjadi 15-20%. Sedangkan untuk kendaraan roda empat atau lebih, besaran uang muka kredit bakal dipangkas menjadi 15-25%, dari yang ada sekarang 25-30%.

Sedangkan, untuk kendaraan yang mengedepankan aspek lingkungan atau ramah lingkungan, DP-nya lebih ringan. Untuk kendaraan roda dua hanya 10-20%, sedangkan untuk kendaraan roda empat atau lebih 10-20%. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )