Toyota Dominasi Ekspor via IPCC, Fortuner Paling Moncer

Toyota Dominasi Ekspor via IPCC, Fortuner Paling Moncer
Ilustrasi, Toyota Fortuner, SUV dengan tujuh kursi penumpang- dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Ekspor mobil Toyota dalam keadaan utuh alias CBU (completely built up) di terminal internasional PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) pada Januari-September 2019 tercatat sebanyak 147.806 unit. Ekspor Toyota di periode itu berkontribusi sebesar 62,70% dari jumlah total ekspor CBU dari terminal internasional IPCC sebanyak 235.721 unit.

Jumlah ekspor Toyota di sembilan bulan tahun ini membukukan peningkatan sebesar 5,47% apabila dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 140.142 unit.

Filipina adalah negara tujuan ekspor yang paling banyak mengimpor mobil Toyota Made in Indonesia, yaitu Fortuner.

“Adapun jenis kendaraan yang di ekspor Toyota dari Indonesia yang menempati jajaran tiga besar ekspor paling banyak itu adalah Fortuner yang porsinya sebesar 25,2% dari jumlah total ekspor Toyota di Januari hingga Septembe tahun ini. Disusul Rush 24,76%, dan Avanza 15,11%,” ujar Sofyan Gumelar, Sekretaris Perusahaan IPCC dalam pernyataan tertulis, dikutip Selasa (22/10/2019).

Selain Toyota, Sofyan menjelaskan, beberapa pabrikan lain yang mengekspor mobilnya adalah Mitsubishi sebanyak 43.168 unit, Suzuki 26.736 unit, Daihatsu 11.447 unit, Honda 5.431 unit, Chevrolet 800 unit, dan lainnya.

Tampilan belakang Toyota New Fortuner TRD Spprtivo – dok.Motoris

Ekspor Mitsubishi masih berasal dari model Expander dengan porsi ekspor sebesar 18% dan volume ekspor Expander ini meningkat 200% jika dibandingkan dengan jumlah ekspor pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Untuk ekspor Suzuki memiliki porsi ekspor 11% yang ditopang model Ertiga dengan porsi 71,72% dan APV sebesar 16,48% dari total ekspor CBU Suzuki. Sisanya dikontribusikan dari ekspor model lainnya, yakni Swift, Carry, dan lainnya.

Berikutnya, volume ekspor Daihatsu ditopang oleh model Gran Max. Lalu, Brio masih menjadi andalan ekspor dari Honda. Sementara itu, Chevrolet mengandalkan Captiva alias Wuling Almaz (versi Indonesia) untuk ekspor CBU-nya.

Ilustrasi, konsep All New Ertiga yang disebut-sebut sebagai cikal bakal Ertiga varian termewah, hadir di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Filipina Tujuan Utama
Negara Filipina masih menjadi tujuan utama ekspor CBU dari Indonesia dengan pangsa pasar berjumlah 30% dari total ekspor CBU yang melalui terminal kendaraan internasional IPCC. Jumlah ekspor mobil ke Filipina pada Januari-September 2019 ini sebanyak 235.721 unit. Ekspor ke Vietnam di nomor kedua dengan pangsa pasar 15%, Arab Saudi 10,60%, Thailand 10,49%, Meksiko 4,81%; dan lainnya.

Adapun, Filipina paling banyak mengimpor Toyota Fortuner sebanyak 16.426 unit, diikuti Wigo (Agya/Ayla versi Indonesia) sejumlah 14.114 unit Rush 12.880 unit dan lainnya. Sementara di luar Toyota, Filipina juga mengimpor Mitsubishi dengan model Expander dari Indonesia sebanyak 11.297 unit.

Ilustrasi, Toyota New Fortuner TRD Sportivo diluncurkan di gelaran GIIAS 2019 di ICE, Serpong, Tangerang – dok.Motoris

Untuk Vietnam, negara ini banyak melakukan impor kendaraan jenis Mitsubishi Expander dari Indonesia sebanyak 15.304 unit. Selanjutnya, Toyota dengan jumlah 13.675 unit yang terdiri dari Fortuner sebesar 5.829 unit, dan Wigo 5.371 unit. Pada aktivitas impor di terminal IPCC mengalami penurunan sebanyak 14,26% yang sebanyak 58.585 unit dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar 68.326 unit.

Pasar Mobil Domestik
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatatkan penjualan mobil domestik pada Januari-September 2019, sebanyak 753.594 unit, atau turun 12% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 856.559 unit.

Di periode ini, Toyota masih menguasai pangsa pasar mobil nasional yang membukukan penjualan sebanyak 245.515 unit, diikuti Daihatsu di urutan kedua yang berhasil melego mobil sebanyak 132.988 unit. Mitsubishi menempati posisi ketiga dengan penjualan sebesar 122.481 unit. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan ketiga merek itu tercatat minus, yang masing-masing sebesar 6,2%, 10,2% dan 19,7%.

Sebelumnya, penjualan mobil Grup Astra pada sembilan bulan tahun ini melorot sebesar 6,6%, atau menjadi 396.138 unit dari 424.406 unit di periode yang sama tahun 2018. Penjualan Toyota, Daihatsu, dan Isuzu yang menjadi andalan Grup Astra menyusut lantaran kondisi pasar tak mendorong penjualan mobil. Daihatsu mencatatkan penjualan yang turun 10,2% atau hanya 132.988 unit.

Ilustrasi, LCGC Toyota Agya, salah satu mobil yang dipasarkan anak perusahaan Grup Astra yakni PT Toyota Astra Motor – dok.Motoris

Tak hanya itu, penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) sebanyak 156.642 unit, atau menyusut sebesar 7,1% dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 168.756 unit. Data yang dirilis oleh PT Astra International Tbk, meski penjualan merek-merek di bawah naungannya ambles, namun penguasaan pangsa pasar grup ini masih cukup mengkilap. Bahkan naik 2% menjadi 52% dibandingkan tahun lalu.

Perihal loyonya pasar mobil domestik di kuartal III/2019, Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto menyebutkan faktornya disebabkan daya beli konsumen dan sentiment negatif yang disebabkan Perang dagang Amerika Serikat – China yang membawa dampak lesunya ekonomi di berbagai negara sehingga harga komoditas global yang menjadi andalan ekspor Indonesia belum juga membaik. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This