Mimpi Indonesia jadi Sentra Produksi Kendaraan Listrik Dunia

Mimpi Indonesia jadi Sentra Produksi Kendaraan Listrik Dunia
FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Toyota Merayu Pemerintah Indonesia Melalui Riset Mobil Listrik.

Jakarta, Motoris – Pemerintah terus menjaga kinerja perdagangan internasional sekaligus memperkuat permintaan domestik lantaran perekonomian Indonesia diproyeksikan masih dipengaruhi dinamika situasi global maupun domestik.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah tetap fokus meningkatkan ekspor dengan merevitalisasi industri manufaktur, yang diharapkan dapat meningkatkan diversifikasi, nilai tambah dan daya saing dari produk ekspor non-komoditas.

Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat investasi, yang pertumbuhannya ditargetkan lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai target ini, investasi asing dan domestik harus didorong melalui berbagai kebijakan yang menimbulkan kemudahan berinvestasi di negara ini. Termasuk diantaranya relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI), program fasilitasi investasi, pemberian tax holiday, peningkatan performa Ease of Doing Business (EoDB), serta penyusunan Omnibus Law untuk membangun ekosistem investasi.

Kemudian, langkah yang ketiga adalah mempersiapkan rencana pembangunan jangka menengah yang mengedepankan transformasi struktur ekonomi. Transformasi tersebut fokus memperbaiki sektor industri manufaktur, mendorong ekspor, menjaga impor, serta menciptakan lapangan kerja baru. Pasalnya, hal ini merupakan solusi penting untuk mengatasi jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap), agar Indonesia mampu menjadi negara berpendapatan tinggi.

Baca juga: Toyota Kongsi dengan BYD Bikin R&D Mobil Listrik

Ilustrasi, seorang pengunjung GIIAS 2019 melihat detil sebuah mobil listrik di booth DFSK – dok.Motoris

Untuk memajukan industri manufaktur, Indonesia telah berkomitmen mempercepat implementasi Revolusi Industri 4.0.

“Kami percaya dengan mempercepat itu, maka akan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja, daya saing global dan market share ekspor dunia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat memberi keynote speech di Seminar “Electric Vehicles Expansion in Indonesia,” di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Kontribusi Industri Otomotif
Pada tahap awal, fokus Indonesia lebih kepada lima sektor industri, yang salah satunya adalah industri otomotif. Pemerintah sedang berusaha membuka pasar baru dan membentuk supply chain yang kuat untuk industri otomotif ini. Dengan disokong oleh pasar domestik yang kuat dan investasi dari perusahaan-perusahaan otomotif ternama, Indonesia sedang berada dalam jalurnya untuk menjadi negara produsen mobil terbesar di ASEAN.

Saat ini, Indonesia merupakan eksportir otomotif kedua terbesar di ASEAN. “Maka itu, kami sadar akan adanya tantangan tertentu di industri ini, karena produksi kendaraan masih sangat bergantung kepada impor bahan mentah, seperti logam, bahan kimia, juga komponen eletronik lainnya,” tutur Menko Airlangga.

Jumlah total kendaraan listrik di pasar global pada 2018 adalah sekitar 2 juta unit, dan Indonesia sangat bertekad menjadi bagian dari pasar kendaraan listrik tersebut. Di 2025, ditargetkan sebanyak 20% mobil yang beroperasi di Indonesia adalah mobil listrik. Maka itu, Indonesia akan fokus mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicles).

Baca juga: Jurus Anyar Toyota di Mobil Listrik, Bikin Mirai Kian Menarik

Ilustrasi, All New Ertiga Mild Hybrid, model pertama Suzuki Indonesia dalam melangkah ke era mobil listrik di Tanah Air – dok.PT SIS

Guna mendukungnya, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicles) untuk Transportasi Jalan, serta Peraturan Pemerintah (PP) No. 73 Tahun 2019 tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Tujuan dari aturan-aturan itu adalah mendukung pengembangan industri otomotif berteknologi tinggi dan menyediakan solusi untuk mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil.

“Setelahnya, defisit neraca perdagangan diharapkan akan berkurang, sehingga ke depannya akan bisa meningkatkan kualitas lingkungan kita sebagai hasil pengurangan emisi karbon,” ungkap Airlangga.

Di sisi lain, pemerintah secara aktif juga mendukung pabrikan kendaraan dari luar negeri untuk memproduksi kendaraan listrik di negara ini. “Kami mendorong perusahaan-perusahaan tersebut dan akan menyediakan kemudahan akses untuk mewujudkan cita-cita kami menjadi pusat produsen kendaraan listrik di ASEAN, Asia dan dunia,” tutupnya. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This