Kondisi Otomotif Global Terhuyung Lebih Parah dari Krisis 2008

Kondisi Otomotif Global Terhuyung Lebih Parah dari Krisis 2008
Proses produksi mobil di pabrik Audi - dok.Autoevolution

New York, Motoris – China sebagai pasar mobil terbesar di dunia mengalami penurunan penjualan sebesar 11% tahun ini. Ibarat petinju yang terhuyung sempoyongan, kondisi ini berdampak besar bagi industri mobil di Amerika Serikat dalam dua tahun berturut-turut terus terhuyung.

Penjualan mobil di negeri Paman Sam ini melorot drastis, dan bahkan lebih parah dari krisis tahun 2008.

Di Jerman, kondisinya lebih mengkhawatirkan. Jerman sudah berada di ambang resesi. Selasa (26/11/2019) kemarin, produsen mobil Audi mengumumkan akan memangkas 7.500 pekerjanya. Tentu saja, ini menjadi pertanda buruk bagi pemulihan industri manufaktur global.

Kepala Ekonom Fitch, Brian Coulton mengatakan, bahwa penurunan penjualan di pasar mobil global sejak pertengahan 2018 telah menjadi faktor utama di balik kemerosotan industri manufaktur global.

“Gambaran penjualan mobil berubah jauh lebih buruk dari yang kami harapkan,” ujar Coulton dilansir CNN.

Baca juga: Industri Komponen Ketampol Kondisi APM dan Konsumen

Ia melanjutkan, dengan hanya satu bulan tersisa di tahun ini, penjualan mobil global mengalami penurunan 3,1 juta atau sekitar 4%. Kondisi ini menurut data Fitch akan menjadi penurunan terbesar sejak tahun 2008, ketika dunia dilanda krisis keuangan.

Ilustrasi, proses produksi mobil di Cina – dok.South China Morning Post

Fitch memperkirakan penjualan mobil di seluruh dunia menjadi 77,5 juta unit pada tahun 2019. Adapun faktor pemicunya adalah penurunan permintaan dari China, yang merupakan pasar mobil terbesar di dunia, di mana penjualannya turun sebanyak 11% tahun ini.

Awal tahun ini, Beijing sendiri menurunkan subsidi untuk kendaraan listrik, yang menyebabkan terjadinya penurunan penjualan.

“Tampaknya ada sedikit alasan untuk mengantisipasi rebound dalam penjualan mobil global pada tahun 2020, bahkan jika penjualan China terlihat adanya pemulihan marjinal sekitar 1%,” ujar Coulton.

Kondisi di Jerman lebih miris lagi, yang sudah berada di ambang resesi. Meskipun demikian, ada beberapa celah menggembirakan. Pada indeks manufaktur global turun kurang dari bulan-bulan sebelumnya hingga Oktober, meskipun dalam catatan penurunan ini terjadi enam bulan berturut-turut.

Baca juga: Bedah Modal Manufaktur Mitsubishi di Indonesia

Ilustrasi, Indian Auto Expo – dok.Zigwheels

Direktur Eksekutif CIO dari RDM Financial Group di High Tower, Michael Sheldon mengatakan, mungkin saja industri manufaktur global bisa pulih pada tahun 2020 tetapi ini juga tergantung pada beberapa hal. Termasuk kebijakan The Federal Reserve yang diharapkan akan memangkas suku bunga, pastinya akan mengarah ke kondisi keuangan yang bisa membantu perekonomian dunia.

“Anda benar-benar perlu memiliki perjanjian perdagangan untuk menghilangkan ketidakpastian ini,” ujar Michael Sheldon. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This