Cuma Medioker Tapi Berani Investasi, Kupas Prospek Hyundai di RI

Cuma Medioker Tapi Berani Investasi, Kupas Prospek Hyundai di RI
Ilustrasi Hyundai (goodfon.ru)

Jakarta, Motoris – Status Hyundai di pasar otomotif Indonesia bisa dibilang sebagai medioker, biasa-biasa saja. Tapi, meski penjualan produk di Indonesia maupun di ASEAN boleh dibilang belum moncer seperti pabrikan Jepang, namun Hyundai Motor Company berani menggelontorkan investasi ke Indonesia senilai US$ 1,55 miliar atau sekitar Rp 21,8 triliun.

Menariknya, selain jumlahnya yang besar, dana ini digunakan untuk membangun pabrik yang memproduksi mobil konvensional dan mobil listrik yang tidak hanya dijual di Indonesia tetapi juga diekspor.

Sederet pertanyaan pun mencuat tentang apa yang mendasari pabrikan asal Korea Selatan itu begitu yakin berinvestasi di Indonesia. Apa pertimbangannya? mengapa Hyundai begitu berani investasi? bagaimana prospeknya?.

Maklum, hingga saat ini model yang ditawarkan Hyundai di Tanah Air juga masih tergolong medioker alias biasa-biasa saja. Belum pernah ada cerita penjualannya menjulang tinggi jika dibandingkan model-model bermerek  Jepang.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, di rentang Januari – Oktober 2018 lalu penjualan merek ini hanya 1.177 unit atau menciut 0,3% dibanding kurun waktu sama tahun 2017 yang sebanyak 1.181 unit. Pangsa pasar Hyundai hanya 0,1%.

Bahkan, seperti dilaporkan Reuters, Selasa (26/11/2019), tak hanya di Indonesia, di kawasan regional ASEAN pun, penjualan Hyundai masih tertinggal jauh. Terutama, dengan pemain utama yakni Toyota.

Baca juga: Hyundai Mau Produksi SUV, MPV, dan Mobil Listrik di RI

Presiden Joko Widodo dan rombongan berkunjung ke kantor pusat Hyundai di Korea Selatan – dok.Istimewa

Mengutip data lembaga riset dan market intelligent otomotif asal Inggris – LMC Automotive Limited – Reuters, menyebutkan, sepanjang Januari – September lalu, total penjualan Hyundai di seluruh negara anggota ASEAN hanya 122.883 unit. Sedangkan pada saat yang sama, Toyota sudah menjual 854.032 unit.

Namun, ternyata, fakta itu tak menyurutkan nyali Hyundai untuk berinvestasi di RI. Pabrikan berkomitmen mendirikan pabrik di Bekasi, Jawa Barat yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) dan diteken di Ulsan, Korea Selatan, Selasa (26/11/2019).

Penandantanganan MoU yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia (BKPM) dengan Hyundai itu bahkan disaksikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Sedangkan dari Hyundai, diwakili Presiden Hyundai Motor Company Lee Won-hee, dan Executive Vice Chairman Hyundai Motor Group Chung Euisun.

Baca juga: Jokowi ke Korsel, Hyundai Teken Investasi Mobil Listrik

Ilustrasi, Hyundai Kona dengan sentuhan modifikasi ringan hadir di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Prospek pasar
Melihat langkah Hyundai itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, Johnny Darmawan, mengaku tak heran. Sebaliknya, mantan Presiden Direktur Astra itu mengacungkan jempol atas kejelian pabrikan itu.

“Karena, Hyundai jeli melihat prospek bagus tidak hanya di Indonesia, tetapi juga kawasan ASEAN. Pasar otomotif di Indonesia maupun kawasan sangat bagus. Indonesia punya penduduk 270 juta jiwa, tetapi rasio kepemilikan mobil masih 87 unit dalam 1.000 penduk. Indonesia masih tertinggal jauh dalam rasio ini. Thailand misalnya sudah 230 unit di setiap 1.000 penduduk,” papar Johny saat ditemui usai pembukaan Electric Vehicle Indonesia Firum Exhibition 2019 di The Tribrata, Jakarta Selatan, Selasa (26/11/2019) lalu.

Artinya, lanjut Johny, prospek penjualan mobil masih sangat terbuka lebar. Prospek ekonomi Indonesia juga bagus dengan kekayaan alam yang besar.

Baca juga: Bos Hyundai Masih Keluhkan 10 Mitos Mobil Listrik Ini

Ilustrasi, mobil listrik Hyundai Ioniq 2019 – dok.The Car Connection

Terlebih, jika berbicara soal produksi mobil listrik. Sebab, Indonesia telah memiliki regulasi khusus percepatan pengembangan kendaraan listrik yakni Peratutan Presiden Nomor 5 Tahun 2019, yang dalam aturan turunannya bakal memberikan berbagai insentif dan kemudahan bagi industri yang mempoduksi mobil bersumber tenaga dari arus setrum.

“Keuntungan lainnya, Indonesia juga memiliki bahan baku untuk baterai motor listrik, yaitu nikel. Baterai merupakan komponen utama kendaraan listrik. Harganya mahal, bisa 30-40% dari harga mobilnya. Jadi, pas kalau Hyundai memutuskan berinvestasi,” ucap mantan presiden direktur PT Toyota Astra Motor itu.

Berlomba-lomba
Pernyataan serupa diungkapkan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika, saat ditemui sebelum peresmian fasilitas quick charging mobil listrik milik Mitsubishi Motors Indonesia, di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

“Hyundai tidak hanya fokus ke Indonesia saja. Tetapi juga ke negara-negara lain, dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi. Ini saya kira tepat, karena prospek ASEAN dan Indonesia memang sangat besar,” ujar dia.

Putu mengatakan, soal prospek itu sudah diteliti oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia yang dirilis ke publik dunia, Juni lalu. Hasil riset itu menunjukan, Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam bakal mengalami pertumbuhan jumlah kendaraan 2,5 kali lipat pada tahun 2040 nanti.

Baca juga: Kinerja Mengkilap Geely dan Ambisi Besar Proton di Asean

Ilustrasi, konsep Low MPV Hyundai Hexa Space diperkenalkan di India – dok.Indian Drives

“Akibatnya, kebutuhan BBM juga terus meningkat tiap tahunnya. Di Indonesia misalnya peningkatan permintaan BBM mencapai 3,2% per tahun, Vietnam 4,3%, Thailand 1,8%, dan Malaysia 2,3%,” papar dia.

Namun, karena sumber BBM fosil terus menipis alias semakin langka, kini negara-negara anggota Asean mulai berusaha untuk beralih ke kendaraan terelektrifikasi atau kendaraan listrik. “Ini prospeknya. Kan investasi pada sekarang, hasilnya tidak terjadi langsung sekarang, tetapi untuk masa mendatang,” imbuh Putu. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This