Poles Citra Almaz, Wuling Habiskan Rp 73 Miliar

Poles Citra Almaz, Wuling Habiskan Rp 73 Miliar
Wuling Almaz varan 7 penumpang - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sebagai pendatang baru di pasar SUV medium, Wuling Almaz, terus berupaya memoles citra diri. Program promosi SUV yang diluncurkan Februari 2019 ini terus digeber dengan biaya hingga Rp 70 miliar lebih.

Hasil riset yang dilakukan PT Sigi Kaca Pariwara (Adstensity) menunjukan, sepanjang Januari – Oktober lalu, biaya PT SAIC General Motors Wuling (SGMW) Motor Indonesia merogoh kocek Rp 73,84 miliar. Duit sebanyak itu, digunakan untuk iklan Wuling Almaz di stasiun televisi.

Penjualan Wuling Almaz memang terbilang cukup moncer. Senior Brand Manager Wuling Motors Indonesia, Dian Asmahani, mengatakan, penjualan sepanjang September hingga Oktober, penjualan Almaz masih berada di teen kenaikan, meski di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

“Almaz menjadi backbone (tulang punggung) penjualan kami. Kontribusinya ke penjualan 40% lebih,” kata Dian, di Tangerang, Selasa (12/11/2019).

Baca juga: Xenia Tertinggal Pesaing dan Ketendang Wuling, Ini Kata Daihatsu

SUV Wuling Almaz – dok.Motoris

Dari total penjualan itu, mayoritas atau hingga 80% dibukukan oleh varian tujuh kursi penumpang. Meski begitu, penjuln SUV ini masih belum bisa menggeser “penguasa” segmen pasar SUV medium, yakni Honda CR-V.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, selama Januari – September lalu, Honda CR-V terjual  7.264 unit. Jumlah ini lebih banyak 1.011 unit dibanding Wuling Almaz yang hanya 6.253 unit.

Tantangan 
Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah, menilai wajar jika Wuling Indonesia pol-polan menggelontorkan duit untuk mempromosikan produk-produk andalannya, termasuk Almaz.

Sebagai pendatang baru di pasar otomotif Indonesia,  kata Piter, tentu Wuling sangat berkepentingan, atau bahkan harus melakukan brand image, dan brand awareness di masyarakat. Ini bahkan sebagai strategi yang paling dasar sebuah perusahaan apapun dalam membangun citra merek produknya.

“Bahkan, dengan nilai sebesar itu (Rp 73 miliar) sebeneranya masih tergolong biasa-biasa saja,” papar dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Pernyataan serupa diungkapkan Kepala Riset Eternity Marketing Ressearch Specialist, Eko Wahyu Utomo. Dia menegaskan, Wuling memang harus bekerja ekstra keras untuk membangun persepsi publik terhadap mereknya.

Baca juga: SUV Adik Wuling Almaz Segera Lahir, Masuk Indonesia?

Ilustrasi, Wuling Almaz versi lima kursi – dok.Motoris

“Sebab, harus diakui, sebelum Wuling datang di 2017. Citra produk Cina di Indonesia itu tidak bagus. Kualitas produk yang rendah plus layanan purna jual yang jelek menancap di benak publik. Persepsi negatif itulah yang kemudian secara perlahan terhapus oleh Wuling. Jadi tantangan Wuling itu dua kali lebih berat dibanding merek-merek lain, terutama dari Jepang,” ucap Eko saat dihubungi, Jumat (6/12/2019).

Oleh karena itu, lanjut Eko, adalah sesuatu yang wajar jika Wuling membangun persepsi positif terhadap mereknya melalui produknya. Indikator atau ukuran nyata dari keberhasilan pembangunan citra merek adalah, penjualan yang dibukukan.

Tapi, kata Eko, itu saja belum cukup. Membangun brand image juga harus dilakukan dengan cara menancapkan nama ke benak publik, sehingga ketika orang ditanya, SUV apa yang mereka kenal, diharapkan menyebutkan nama Wuling Almaz.

Baca juga: Almaz Diekspor Wuling Jadi Captiva, Karena Ada GM di Sana

Sejak diluncurkan 27 Februari lalu, pemesanan Wuling Almaz diklaim terus meningkat – dok.Motoris

“Artinya, nama Almaz berada di top of mind masyarakat. Nah, agar ini terjadi, dibutuhkan promosi yang intensif, baik above the line (promosi secara langsung melalui iklan) maupun below the line (melalui aktifitas selain iklan),” terang Eko. (Fan/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This