Perusahaan Otobus Mulai Tinggalkan Bus Jepang

Perusahaan Otobus Mulai Tinggalkan Bus Jepang
Bus Voyager berbasis chassis Volvo B11R milik PO Gunung Harta yang melayani trayek Bogor - Jakarta - Malang dengan keberangkatan pagi hari - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Meski penjualannya masih belum melampaui chassis bus asal Jepang, namun kini penjualan chassis bus asal negara-negara Eropa sejak beberapa tahun terakhir mulai menanjak. Tak sedikit pengusaha angkutan bus dan Perusahaan Otobus-nya (PO) yang beralih dari chassis bus asal Jepang ke chassis bus buatan pabrikan Eropa.

“Memang bukan semua, tetapi kenaikan permintaan chassis bus-bus asal Eropa saya lihat sejak tahun 2018 mulai meningkat. Teknologi menjadi kata kunci bagi perusahaan (PO). Sebab, mereka ingin memberikan layanan terbaik kepada pelanggan sesuai dengan kondisi infrastruktur yang membaik. Kecepatan dan kenyamanan, tentunya menjadi tuntutan, karena berdasar kebutuhan dan selera konsumen,” ungkap Direktur Utama PT SAN Putra Sejahtera atau Perusahaan Otobus Siliwangi Antar Nusa (PO SAN), Kurnia Lesani Adnan, kepada Motoris, di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Pria yang juga Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) itu menjelaskan, perusahaan jasa angkutan bus ingin meningkatkan pelayanan kepada pelanggan seiring dengan kebutuhan dan tuntutan. Waktu tempuh yang lebih cepat dari sebelumnya merupakan tujuan utama karena diinginkan penumpang.

Sarana infrastruktur – yakni jalan tol yang menyambung di Jawa dan sebagian Sumatera – saat ini telah memungkinkan untuk itu. Untuk mempercepat waktu tempuh di jalan tol yang sudah tersambung tentu bus harus digeber, jalan terus.

Ketua Umum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan – dok.Pribadi

Di sinilah, kata Lesani, dibutuhkan bus yang memiliki spesfikasi kapasitas atau isi silinder yang besar, tenaga gede, letupan torsi yang tinggi, plus sistem pengereman yang mumpuni. “Bus juga harus memiliki teknologi yang memungkinkan memonitor mesin, serta sekaligus menganalisa kinerja maupun attitude (sikap perilaku) pengemudi.Bukan dengan fitur yang “nanya” ke pengemudi,” terang pria yang akrab disapa Sani itu.

Keamanan investasi
Pernyataan senada diungkapkan, Direktur Utama PO Gunung Harta, I Gede Yoyok Santoso. Dia mengaku unit-unit armada terbarunya di tiga tahun terakhir ini, didominasi bus-bus asal Eropa seperti Mercedes-Benz, Scania, dan bahkan Volvo.

“Sejak tahun 2016, PO kami menambah unit baru beberapa puluh unit. Dan 24 unit diantaranya untuk kelas eksekutif dengan tambahan fitur Avod (video on demand) di setiap kursinya. Ini terdiri dari (chassis bus) Scania K410 Opticruise sebanyak 8 unit, Mercedes-Benz OH 2542 sebanyak 8 unit, Scania K369 Opticruise 6 unit, dan Volvo B11R 430 hp sebanyak 2 unit,” kata Yoyok saat dihubungi Motoris, Kamis (9/1/2020).

Bus Mercedes Benz OC 500RF 2542 SHD , armada milik PO Gunung Harta yang melayani trayek Jember – Surabaya – Jakarta – dok.Istimewa

Dia menyebut, pilihan bus-bus bermesin besar merupakan bagian dari strategi meningkatkan daya saing layanan, agar mampu berkompetisi dengan mda transportasi lain sepert pesawat terbang dan kereta api. Bus, kata dia, memiliki keunggulan fleksibilitas layanan dari satu tempat ke tempat lain yang mendekati tempat tujuan penumpang, harga tiket terjangkau.

Penggiat komunitas Bismania, Irwanto, sepakat dengan pernyataan Yoyok. Namun, kata dia, motif para pengusaha untuk menggunakan bus bermesin besar ini bukan sekadar untuk jor-joran pelayanan saja, tetapi juga mengamankan investasi.

“Karena mereka berinvestasi dalam nilai besar, tetapi kalau kemudian mesin busnya kecil tetapi jebol saat digeber terus menerus, justeru akan memunculkan masalah baru. Cost ekstra harus mereka keluarkan, atau operasional perusahaan terganggu. Cash flow kena imbasnya. Padahal, investasi bus BEP-nya (break event point) juga lama. Artinya, mereka tak mau spekulasi dalam meningkatkan pelayanan melalui investasi,” ungkap dia kepada Motoris, Kamis (9/1/2020).

Ilustrasi, chassis bus Mercedes-Benz dengan bodi karoseri Tentrem – dok.Motoris

Pesanan Mercedes-Benz 
Soal penjualan chassis bus Eropa, menurut Sani, dalam catatan IPOMI, merek Mercedes-Benz membukukan permintaan terbanyak. Sepanjang tahun 2019 lalu, kata dia, chassis bus asal Jerman ini terjual sekitar 900 unit.

“Bahkan, yang saya tahu, untuk semester pertama tahun 2020 ini, pesanan yang sudah masuk sudah 300 unit. Trennya naik,” kata dia.

Merek Eropa lainnya yang juga mulai moncer adalah Volvo. Unit, chassis bus asal Swedia itu itu tahun lalu telah terpesan dalam jumlah lumayan. “Dalam catatan kami PO Gunung Harta membeli 2 unit, PO Bejeu 2 unit, PO Rosalia Indah 2 unit, PO Simpati Star 1 unit, dan PO Borlindo 2 unit. Bahkan, kabarnya Borlindo akan membeli lagi 15 unit,” imbuh Sani.

Dia menyebut meski penjualan bus Eropa masih belum mengalahkan bus Jepang, namun dari sisi komposisi bus asal Negeri Matahari permintaannya – dalam prosentase pertumbuhan – tak setinggi bus asal Eropa. Sehingga, meski ada pertumbuhan di pasar bus, namun laju bus Eropa lebih cepat.

Ilustrasi bus Hino dites jalan di Jawa Tengah – dok.HMSI

“Bus-bus non Eropa (Jepang) banyak digunakan oleh pembeli fleet (pembelian borongan oleh perusahaan) yang satu grup dengan APM (agen pemegang merek). Atau instansi non komersial,” ucap Sani.

Sementara itu, Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo, tak memberi jawaban saat ditanya soal tren pengusaha angkutan bus yang mulai memilih bus dengan mesin besar asal Eropa. Pertanyaan Motoris melalui aplikasi Whatssap yang dikirim Rabu (8/1/2020) tak dijawab, meski telah dibaca. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS