Omnibus Law Revisi Batas Areal Tambang, Pasar Truk Berkembang

Omnibus Law Revisi Batas Areal Tambang, Pasar Truk Berkembang
Ilustrasi, Truk Tata Prima 2528.K 6x4 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang telah disusun pemerintah saat ini tidak lagi membatasi luas wilayah produksi tambang mineral dan batubara. Sejumlah kalangan menilai jika aturan tersebut terealisasi akan membawa dampak positif terhadap industri otomotif segmen kendaraan komersial karena dapat memicu permintaan truk.

Kabar ini terungkap di pasal 83 huruf c Rancangan Undang-undang Cipta Kerja yang salinannya diperoleh Motoris, Jumat (14/2/2020). “Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) untuk tahap kegiatan operasi produksi minerba diberikan dari hasil evaluasi pemerintah pusat terhadap rencana kerja seluruh wilayah yang diusulkan oleh pelaku usaha pertambangan khusus,” bunyi pasal itu.

Sebelumnya, di pasal 83 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) luasan WIUPK untuk operasi produksi pertambangan mineral logam dibatasi maksimal 25.000 hektare. Sedangkan batas luas wilayah produksi batu bara maksimal 15.000 hektare.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyambut positif kabar itu. Menurit dia, jika perubahan yang diusulkan melalui Omnibus Law itu terealisasi akan memberikan kepastian hukum dan angina segar bagi sektor usaha pertambangan di Tanah Air.

Ilustrasi truk Volvo FMX – dok.Istimewa

“Ini terlihat jelas bahwa urgensi pemerintah sekarang ini adalah mendorong investasi. Sehingga diharapkan dengan peningkatan investasi itu juga membawa dampak ikutan yang besar terhadap perekonomian nasional karena berbagai sektor juga terdorong. Ekspor, tenaga kerja, hingga industri pendukung seperti otomotif,” ungkap dia saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Kebutuhan truk
Pernyataan senada diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto. “Ya, tentu kalau market yang dibidik bertambah luas. Tentu, kegiatan produksi di dalamnya kan juga bertambah. Kalau kegiatan produksi meluas, maka keburuhan truk-truk dan kendaraan komersial jenis lainnya untuk mendukung operasional juga akan naik tentunya,” ucap dia kepada Motoris di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman juga tak menampik kemungkinan seperti itu. Sebab, kata dia, pengusaha truk akan mengimbangi kebutuhan pasar yang menggunakan jasa angkutan truknya, ketika di pasar tersebut juga ada investasi baru. Sebab, investasi berarti ada sesuatu yang ditambah, bisa kapasitas produksi atau ekspansi perluasan skala bisnis.

Ilustrasi, salah satu Dump Truck Hino – dok.HMSI

“Intinya, kita memberikan pelayanan. Kalau demand-nya membesar, tentu layanan akan disesuaikan. Dan bicara layanan tentu juga bicara kesiapan armada. Artinya, kemungkinan menambah armada juga sangat mungkin,” kata dia, saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Data yang dikompilasi Gaikindo menunjukan, sepanjang tahun 2019 kemarin penjualan kendaraan komersial berbagai jenis dan varian di Tanah Air ambrol hingga 18,6%. Pada saat yang sama penjualan kendaraan komersial jenis truk ke diler (wholesales), hanya 93.594 unit.

Jumlah ini longsor cukup dalam dibanding penjualan tahun 2018 yang masih sebanyak 113.909 unit. (Mus/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS