Penjualan LCGC  di Januari Masih Naik, Ini Faktor Penyebabnya

Penjualan LCGC  di Januari Masih Naik, Ini Faktor Penyebabnya
LCGC Honda Brio Satya yang ditawarkan dengan uang muka kredit sebesar Rp 15 Juta di sebuah pusat perbelanjaan di Bintaro, Jakarta Selatan - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang Januari kemarin, total penjualan mobil – yang dijumlah dari penjualan seluruh merek di Indonesia – tercatat sebanyak 79.983 unit, atau merosot 2,44% lebih dibanding Januari tahun 2018 yang masih sebanyak 81.988 unit. Namun, dalam kondisi seperti ini, penjualan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) masih naik.

Fakta ini disebut sebagai bukti bahwa mobil kategori ini masih berpotensi besar di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih dibayangi perlambatan akibat tekanan domestik maupun global.

“Penurunan penjualan selama Januari kemarin kan memang ada faktor banjir yang ikut berpengaruh ke aktifitas distribusi maupun di diler. Tetapi, kondisi ekonomi juga masih lemah, kan di tahun 2019 lalu (pertumbuhan) hanya 5,02%. Tetapi seperti yang saya bilang, penurunan tidak dialami semua brand dan semua model. Buktinya, LCGC juga masih naik. Artinya, segmen itu (LCGC) masih tahan di situasi seperti sekarang,” tutur Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto, saat dihubungi, di Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Data yang dikompilasi Gaikindo menunjukan, penjualan LCGC sepanjang Januari 2020 tercatat sebanyak 17.056 unit. Jumlah ini naik tipis naik tipis 0,55% dibanding periode yang sama tahun lalu 16.962 unit.

Menurut Jongkie, segmen LCGC yang pembeli terbesarnya merupakan konsumen yang baru pertama membeli mobil (first buyer), jumlahnya di Indonesia paling banyak. Keinginan yang tinggi untuk memiliki mobil pada mereka, di pengujung tahun 2019 maupun di awal tahun 2020, klop dengan serangkaian program keringanan pembelian yang digeber diler seperti uang muka (DP) ringan, tenor panjang, hingga bunga yang ringan.

Ilustrasi, MPV LCGC Daihatsu Sigra – dok.Motoris

“Keinginan atau minat yang tinggi, ditambah kebutuhan untuk persiapan lebaran, pas dengan program penjualan diler,” kata dia.

Pernyataan serupa diungkapkan Pembina Komunitas Toyota Calya Indonesia (KTCI) Laksono Sapto Prayitno. Faktor kebutuhan untuk kegiatan mudik, memang menjadi pendorong masyarakat – terutama calon pembeli LCGC- untuk mendapatkannya.

Tetapi, lanjut Sapto, dari semua faktor harga yang menjadi pertimbangan utama. “Maklum, sebagai orang pembeli yang baru pertama atau first buyer, faktor harga di segmen ini cukup sensitif bagi konsumen. Sedangkan, LCGC saat ini harganya masuk di hitungan mereka, masih cukup kompetitif. Soal diskon bukan yang utama, malah. Karena besarannya sama saja dengan segmen lain (yang lebih tinggi),” ujar Sapto yang juga mantan Ketua Umum KTCI itu saat dihubungi, Selasa (18/2/2020).

Ketua Umum KTCI – saat itu – Laksono Sapto Prayitno berfoto bersama Toyota New Calya – dok.Istimewa

Harga dan kemudahan
Masih potensialnya segmen pasar LCGC juga diakui Marketing Director PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy. Penjualan mobil LCGC yang selama ini memberi kontribusi penjualan sebesar 20 – 21% ke total penjualan mobil secara keseluruhan di Tanah Air masih akan terus menggeliat.

“Soal naik turunnya kan wajar ya, karena memang tergantung berbagai faktor. Tetapi pasarnya masih akan dinamis, permintaan masih akan terjadi karena kebutuhan mobil untuk segmen ini masih ada. LCGC masih banyak dibutuhkan orang, kalau kita lihat dari profil customer, justeru segmen ini yang terbanyak,” ungkap dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Namun, Anton meningatkan gairah pembelian di segmen ini juga seperti halnya di segmen lain yakni kondisi perekonomian nasional, terutama di sektor riil yang bersentuhan langsung dengan pendapatan masyarakat. “Tetapi, kita perkirakan tahun ini (penjualan mobil) secara keseluruhan naik di atas 3%,” ucap Anton.

Senada dengan Anton, Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal menyebut segmen pembeli pertama mobil merupakan kelompok terbesar dalam struktur konsumen di Tanah Air. Namun, lanjut dia, mobil tetaplah barang kebutuhan dasar bagi masyarakat, sehingga pembeliannya juga tergantung kemampuan daya beli.

Ilustrasi, LCGC Toyota Agya,- dok.Motoris

“Daya beli masyarakat tergantung seberapa besar ekonomi tumbuh. Dan daya beli bisa dilihat dari berapa spending masyarakat setiap bulan dan setiap tahunnya,” kata dia saat dihubungi Selasa (18/2/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia atau purchasing power parity masyarakat Indonesia sepanjang tahun 2019 lalu sebesar Rp 11,3 juta per tahun. Nilai ini meningkat Rp 240 ribu dibanding tahun sebelumnya.

“Besaran pengeluaran per kapita masyarakat ini merepresentasikan standar hidup layak masyarakat karena menyangkut daya beli. Capaian ini juga sekaligus menunjukan bahwa pembangunan Indonesia berstatus tinggi pada tahun lalu,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers, di Jakarta, Senin (17/2/2020) lalu. (Fat/Mus/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS