Gagal Gaet Milenial, Penjualan Harley Davidson Ambyar

Gagal Gaet Milenial, Penjualan Harley Davidson Ambyar
Ilustrasi, pengendara motor Harley Davidson - dok.Zabikers.co.za

Wisconsin, Motoris – Nama besar merek Harley Davidson sebagai pabrikan motor gede yang kondang di seantero dunia tak ada yang menyangkal masih dikenal publik. Namun besaranya nama itu, kini tak lagi diikuti dengan angka penjualan yang tinggi.

Bahkan seperti dilaporkan Bloomberg, Jumat (27/2/2020) lalu, deraan amblesnya penjualan dalam lima tahun terakhir terhadap kinerja keuangan perusahaan telah menyebabkan Chief Executive Officer (CEO) pabrikan yang berdiri sejak 1903 itu – Matt Levatich – memilih lengser.

“Penjualan Harley Davidson terus mengalami penurunan sejak lima tahun terakhir, dan penurunan penjualan berada di titik terendah sepanjang tahun 2019. Harga saham perusahaan merosot hingga 42% dalam rentang waktu 12 bulan (sepanjang tahun 2019),” tulis media itu mengutip laporan keuangan perusahaan.

Pabrikan yang didirikan William Harley dan Arthur Davidson di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat ini menapak puncak kejayaan penjualan pada dekade 80-an. Saat itu, generasi baby boomer yang tengah berada di puncak karir dan finansial “dilanda demam” motor gede. Alhasil, model-model besutan Harley Davidson laris manis.

Ilustrasi, wanita pengendara moge Harley Davidson – dok.Sturgis

“Namun, kegemilangan mulai surut sejak tahun 2007 ketika krisis ekonomi menerpa dunia. Terlebih di saat yang sama, pembeli dan loyalis Harley (Davidson) semakin menua. Orang-orang paruh baya itu tak lagi membutuhkan motor gede. Sehingga, pabrikan pun kehilangan akar penggemarnya,” ungkap analis di New York Stock Excnhange, Mike Patterson, seperti dilansir New York Post belum lama ini.

Pernyataan senada disampaikan LongBow Research, David MacGregor, kepada Bloomberg. “Harley tidak lagi memiliki daya saing. Terlebih jika harus bersaing dengan motor berharga terjangkau dengan bobot yang lebih ringan. Sementara motor-motor berat seperti yang ditunggangi Marlon Brando dalam film The Wild One sudah tidak zamannya lagi,” kata dia.

Artinya, motor-motor Harley tak menarik bagi kalangan milenial – yakni mereka yang lahir pada awal 1980-an – sementara penggemar loyalnya telah menua. Meski sejatinya, pabrikan ini telah berupaya keras untuk menghadirkan motor yang kekinian, yakni motor kompak dengan banderol terjangkau.

LiveWire, motor listrik besutan Harley Davidson yang diperkenalkan di EICMA 2018 – dok.Slashgear

Namun ternyata tak cukup nendang. Kemudian, berupaya menyodorkan motor listrik LiveWire, namun hingga kini belum ada tanda-tanda dijual.

Ambles di sejumlah wilayah
Data penjualan Harley Davidson yang dilansir laman Motorcycles Data belum lama ini menunjukan, di sepanjang tahun 2019 lalu penjualan merek ini di pasar global tercatat hanya 218.400 unit. Jumlah ini ambles hingga 4,6% dibanding tahun sebelumnya.

Di wilayah Amerika Utara yang selama ini menyerap 61% produk pabrikan itu, juga ambles. Pasar Amerika Serikat yang merupakan kampung halamnnya sendiri, penjualan ambles 5,2%.Sedangkan di Kanada, penjualan Harley anjok 7,7%. Meski di Meksiko masih tercatat stabil.

Prototipe Harley Davidson LiveWire diperkenalkan pada tahun 2014, setelah itu terus disempurnakan antara lain melalui serangkaian tes – dok.Electrek

Penjualan di wilayah Eropa menciut 7%. Sementara di Asia Selatan – yakni India, Pakistan, dan Sri Lanka – penjualan motor gede ini ambrol hingga 26.6%.

Namun, merek ini masih tertopang oleh penjualan di wilayah Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), meski tak di semua negara namun secara keseluruhan rata-rata melonjak 71%. Tercatat di Thailand dan Vietnam permintaannya meroket hingga 270%. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This