Peluncuran Produk via Live Streaming, Bakal Gusur Cara Biasa?

Peluncuran Produk via Live Streaming, Bakal Gusur Cara Biasa?
Ilustrasi, Live Streaming - dok.MarTech Advisor

Jakarta, Motoris – Pandemi virus corona (Covid-19) yang melanda berbagai belahan dunia, merupakan musibah alias force majeur yang tak hanya menurunkan ketahanan fisik manusia tetapi juga menggerogoti sendi-sendi ekonomi berbagai negeri. Derap langkah kegiatan ekonomi produktif seolah terhalau di berbagai celah.

Namun, jika kita cermati, di balik deraan musibah ini ternyata ada sebuah berkah. Masyarakat – pelaku bisnis, penggiat lembaga sosial, rumah tangga, lembaga pendidik, hingga layanan publik – justeru dituntut untuk lebih kreatif. Terlebih, jika tools atau peralatan untuk mewujudkan ide-ide kreatif itu telah ada di sekitar kita dan sudah akrab digunakan masyarakat.

Tak usah membahas berbagai bidang dengan cakupan yang sangat luas sebagai contoh betapa corona telah mengajarkan dan “memaksa” kita untuk berkreasi dan menjadikannya sebagai sebuah berkah, tetapi kita ambil contoh industri otomotif. Di lingkup global, pameran otomotif  kesohor sejagat – Geneva Motor Show 2020, yang sedianya digelar 5 – 15 Maret harus batal gegara wabah virus corona.

Namun, bagi para pelaku industri, pembatalan perhelatan bukanlah akhir segalanya. Inovasi dan kreatifitas justeru muncul, dengan memanfaatkan dan kebiasaan masyarakat dunia yang telah ada. Aplikasi digital, khususnya live streaming pun menjadi pilihannya.

Sebuah model yang sebelumnya disebut sebagai calon SUV baru Toyota dengan basis Toyota Yaris  yang rencana diluncurkan di Geneva Motor Show 2020- dok.AutoExpress

Seperti dilansir Reuters, Selasa (3/3/2020), sejumlah merek kondang BMW, Mercedes -Benz, Audi berencana memperkenalkan produk melalui saluran digital mereka. Toyota, yang berniat meluncurkan SUV anyar berbasis Toyota Yaris, setali tiga uang.

Peluncuran Agya dan Ayla
Sementara, di Indonesia, setelah Kamis (12/3/2020) lalu BMW Indonesia meluncurkan BMW 630i Gran Turismo M Sport secara virtual, hari ini, Kamis (19/3/2020) PT Toyota Astra Motor dan PT Astra Daihatsu Motor meluncurkan mobil kembar – Toyota Agya dan Daihatsu Ayla versi facelift – juga melalui live streaming. Prosesi dilakukan masing-masing manajemen secara terpisah dengan waktu yang tak berselisih lama.

Alasannya pun sama, demi mencegah kondisi buruk bagi semua kalangan yang terkait dengan prosesi peluncura akibat paparan virus corona. “Iya, cara ini kami tempuh karena mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Termasuk masukan dari teman-teman media juga. Aspek kepentingan bersama untuk mengedepankan faktor kesehatan menjadi alasannya,” tutur Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, saat dihubungi Motoris, Rabu (18/3/2020).

Pernyataan senada diungkapkan manajemen PT Astra Daihatsu Motor melalui keterangan tertulis soal pembatalan hajatan peluncuran Daihatsu Ayla versi facelift. Disebutkan, Daihatsu mengambil langkah sesuai kebijakan pemerintah dengan melangsungkan acara Peluncuran Ayla & Sirion dalam bentuk Digital Launching pada 19 Maret 2020.

Ilustrasi, LCGC Toyota, Agya versi balap untuk tim balap TTI yang membetot perhatian pengunjung booth Toyota – dok.Motoris

“Saat ini Daihatsu berkomitmen untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan dari seluruh pihak yang akan terlibat dalam penyelenggaraan Launching ini serta masyarakat umum,” bunyi pernyataan resmi PT Astra Daihatsu Motor yang diteken Corporate Planning & Communication Division Head, Elvina Afny, yang diterima Motoris, Rabu (18/3/2020).

Meski, cara peluncuran melalui aplikasi digital itu bukanlah sesuatu yang baru, namun setidaknya bisa menjadi alternatif baru bagi industri untuk memperkenalkan atau meluncurkan produk. Maklum, dunia digital mulai dikenal publik Indonesia – yang secara struktur demografis porsi terbanyak merupakan kalangan usia muda 15 – 45 tahun atau milenial – akan membuat cara seperti itu lebih mudah.

“Tapi, apakah akan menjadi pilihan selanjutnya untuk acara-acara serupa, ya kita ihat hasil evaluasinya seperti apa,” ujar Anton.

Ilustrasi, Daihatsu Ayla – dok.Istimewa

Direktur penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, yang dihubungi Motoris, Rabu (18/3/2020) pun tak menampiknya. Menurut dia, cara peluncuran seperti itu bisa menginspirasi kalangan industri. Meski, lanjut dia, cara seperti itu – terutama di Tanah ir – bukanlah jurus yang utama.

Terlebih, jika melihat budaya dan karakter masyarakat. Meski mereka telah melek teknologi digital sekalipun. Tetapi, kata Santiko, budaya bertemu antara penjual dan pembeli, serta hajatan yang mengumpulkan bayak orang disertai seremoni resmi masih dinilai lebih mengena.

“Karena  walaupun saat ini channel marketing bahkan penjualan juga mulai digitalisasi, tetapi cara konvensional tetap perlu. Sebab, human interaction masih dibutuhkan karena budaya kita itu suka bertatap muka langsung, apalagi dirasa ada special touch (sentuhan khusus) yang unik ketika produk diluncurkan secara langsung atau offline. Jadi saya kira, meski saat ini jadi alternatif di tengah wabah corona, tetapi cara digital bukan cara utama ketika kondisi normal,” ujar dia.

Cara biasa tak akan tergusur
Meski memiliki tujuan yang berbeda, peluncuran produk secara live streaming dengan pemasaran secara digital memiliki karakter yang sama, yakni virtual dengan menggunakan tools yang sama pula yakni aplikasi digital.

Sedangkan dalam digital marketing, seperti diungkapkan  Chief Operation MarkPlus, Yosanova Savitry, kegiatan online (secara virtual) tak bisa dengan serta merta meninggalkan atau bahkan menggusur kegiatan offline (cara konvensional).

Meski, di saat masyarakat Indonesia telah memasuki era konektivitas sekali pun, seperti sekarang.“Pada saat ini, setiap individu bisa mengakses informasi dengan cepat di manapun dan kapanpun. Karena adanya konektivitas ini muncul tiga shifting (peralihan) dari eksklusif menjadi inklusif, vertikal yakni brand yang tadinya satu arah menjadi horizontal atau setara. Selain itu, dari individual jadi lebih sosial,” papar dia saat dihubungi Motoris melalui aplikasi pesan elektronik, Rabu (18/3/2020).

Ilustrasi, GIIAS 2019 – dok.Motoris

Nova – panggilan akrabnya – menyebut, jika dulu orang mengenal brand kemudian menyukainya, kemudian membeli dan jika puas membeli lagi, tetapi saat ini sudah berubah. “Sekarang kalau suka, tidak begitu saja langsung membeli, tetapi juga bertanya-tanya dulu karena butuh social confirmation (konfirmasi ke orang lain), baru beli,” ujar dia.

Artinya, kini masyarakat konsumen semakin leluasa – atau bahkan lebih kritis – dalam menyikapi informasi tentang produk maupun brand sebuah produk. Meski begitu, konsumen tetap memerlukan kegiatan yang bersifat offline.

Begitu pun dengan peluncuran produk dan kegiatan pemasarannya. “Karena customer juga merindukan human interaction. Jadi dua-duanya (kegiatan online dan offline) harus dilakukan untuk saling memperkuat,” jelas Nova. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This