Karena Corona Toyota Cs Pacu Penjualan Mobil via Digital, Efektifkah?

Karena Corona Toyota Cs Pacu Penjualan Mobil via Digital, Efektifkah?
Ilustrasi, Toyota New Agya atau Toyota Agya versi baru resmi diluncurkan di Indonesia secara virtual pada Kamis, 19 Maret 2020 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Pemerintah menetapkan telah menetapkan perpanjangan status darurat bencana akibat wabah virus corona hingga 29 Mei nanti. Dalam surat bernomor 13A Tahun 2020 yang diteken Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo itu, berlaku sejak 29 Februari 2020 sampai dengan 29 Mei 2020.

“Iya, itu memang surat resmi dari Kepala BNPB sebagai dasar acuan pemberlakuan status tersebut. Sehingga, menjadi dasar kebijakan bagi BPNP maupun lembaga lain untuk mengambil tindakan atau langkah terkait dengan antisipasi maupun tindakan terkait dengan Covid-19 (wabah virus corona),” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, saat dihubungi Motoris, Jumat (20/3/2020).

Terkait dengan kondisi yang belum kondusif ini, Agen Pemegang Merek (APM) mobil di Tanah Air menerapkan strategi pemasaran dan penjualan kendaraan melalui aplikasi digital. Meski, cara ini tetap dikombinasikan dengan cara-cara konvensional atau cara offline.

“Iya, saat ini aktivitas (Toyota) lebih banyak di dunia digital. (Terlebih) customer Indonesia sudah lebih dari 60% mencari informasi dan promosi mobil di aplikasi digital,” tutur Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, saat dihubungi Motoris melalui aplikasi pesan elektronik, di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Ilustrasi, Astra Daihatsu Ayla seperti halnya Astra Toyota Agya juga membidik konsumen kalangan usia muda – dok.Istimewa

Kegiatan pemasaran dan penjualan serupa juga ditempuh Daihatsu Indonesia. Seperti dikatakan Marketing and CR Division Head Astra International Tbk-Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso, cara seperti itu ditempuh dengan melihat situasi dan kondisi saat ini terkait dengan wabah virus corona. Terlebih, pemerintah juga mengimbau agar semua lapisan masyarakat melakukan social distancing.

“Jadi kami saat ini meningkatkan lagi layanan dengan menggunakan media digital (baik dalam pemasaran maupun penjualan produk),” kata dia di Jakarta, Sabtu (21/3/2020).

Tak hanya kondisi darurat
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto yang dihubungi Motoris di Jakarta, Sabtu (21/3/2020) menyebut, cara pemasaran dan penjualan mobil dengan menggunakan aplikasi digital merupakan sarana yang tepat. Bahkan bukan hanya kondisi darurat saja.

“Karena kalau kita lihat, jumlah pengguna alat digital seperti hape (hand phone), laptop, komputer di Indonesia juga sudah banyak. Hape saja, dari beberaa penelitian disebut jumlahnya sudah lebih 125 juta. Begitu juga dengan internet, kan hape-hape itu kalau isi pula kan paket yang berisi internet dan pulsa,” papar dia.

Apa yang diungkapkan Jongkie klop dengan hasil riset yang dilakukan Wearesocial Hootsuite pada awal tahun 2019 lalu. Hasil penelitian itu menunjukan, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sekitar 56% dari jumlah penduduk.

Pada saat yang sama pengguna telepon seluler (ponsel) di Tanah Air telah mencapai 130 juta orang atau 48% dari jumlah penduduk. Sementara, pengguna internet di Indonesia juga terbilang aktif dengan rata-rata penggunaan harian selama 5 jam di komputer dan 3 jam di ponsel, serta 3 jam rata-rata sehari bermain di media sosial.

Ilustrasi, penggunaan ponsel oleh masyarakat – dok.The Shonet

Fakta lain yang terekam dari penelitian itu adalah, orang Indonesia sudah tak ragu untuk berbelanja online. Nilai transaksi e-commerce terus meningkat.“Tetapi, sejauh mana efektifitasnya ya tergantung kreatifitas dan effort APM dalam menraik minat konsumen,” ucap Jongkie.

Kegiatan offline tetap diperlukan
Sebelumnya, Chief Operation MarkPlus, Yosanova Savitry, menyebut saat ini masyarakat Indonesia telah memasuki era konektivitas. Termasuk dalam berbelanja.

“Pada saat ini, setiap individu bisa mengakses informasi dengan cepat di manapun dan kapanpun. Karena adanya konektivitas ini muncul tiga shifting (peralihan) dari eksklusif menjadi inklusif, vertikal yakni brand yang tadinya satu arah menjadi horizontal atau setara. Selain itu, dari individual jadi lebih sosial,” papar dia saat dihubungi Motoris melalui aplikasi pesan elektronik, Rabu (18/3/2020).

Meski begitu, kata dia, konsumen tetap memerlukan kegiatan yang bersifat offline. “Karena customer juga merindukan human interaction. Jadi dua-duanya (kegiatan online dan offline) harus dilakukan untuk saling memperkuat,” jelas Nova.

Ilustrasi calon pelanggan Toyota tengah bertransaksi – dok.Istimewa

Soal ini diamini Anton Jimmi Suwandy. Dia menegaskan, kendati di tahap awal saat penjualan menggunakan saluran digital, namun untuk keiatan yang lebih detil tetap melalui offline.

“Setelah itu (konsumen tertarik dengan mobil yang mereka inginkan dan ingin membeli) bisa menguhubungi diler Toyota dan dibantu lebih detilnya,” imbuh dia. (Mus/Fat/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This