Setelah Ambles 36,1%, Pasar Truk dan Bus Diramal Makin Ambyar

Setelah Ambles 36,1%, Pasar Truk dan Bus Diramal Makin Ambyar
Ilustrasi,bus baru dengan karoseri garapan perusahaan karoseri Tentrem - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang Januari hingga April penjualan kendaraan komersial truk hingga bus – seperti terungkap di data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) – merosot 36,1%. Bahkan, ambrolnya penjualan itu diprediksi bakal semakin dalam pada kuartal II ini.

“Kalau permintaan kendaraan komersial itu kan sangat terkait dengan kondisi ekonomi,khususnya sektor-sektor atau pasar yang digarap oleh konsumen penyerap kendaraan tersebut. Sehingga, jika ekonomi tubuh maka permintaan akan naik dan sebaliknya,” papar Ketua I Gakindo, Jongkie Sugiarto, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Padahal, kondisi perekonomian nasional di sepanjang kuartal pertama tumbuh jauh di bawah angka yang ditargetkan, setelah tersengat dampak wabah virus corona yang juga mendera Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan menyebut di kurun waktu itu pertumbuhan ekonomi hanya 2,97%, dibawah target 4,5 – 4,6% yang ditargetkan dengan menghitung dampak wabah.

Ilustrasi chassis truk yang diperkenalkan di GIICOMVEC 2020 – dok.Motoris

Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, menyebut pasar kendaraan komersial sangat tergantung atau bahkan sensitif terhadap gejolak perekonomian, baik lokal maupun global. Maklum, kata dia, produk komoditas – yang dihasilkan konsumen penyerap kendaraan komersial khususnya truk – sangat tergantung dengan harga di pasar global.

Padahal, faktanya – meski di kuartal ketiga tahun 2019 sempat membaik, namun turun lagi di kuartal keempat – terus menyusut setelah wabah virus corona (Covid-19) mendera dunia. “Bus kan juga seperti itu. Apalagi, ada kebijakan pembatasan sosial, karantina wilayah, dan sebagainya,” ujar dia yang dihubungi belum lama ini.

Ilustrasi truk di jalan raya – dok.Motoris

Omset turun, arus kas minus
Senada dengan dengan Santiko, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menyebut, sejak pandemi virus mematikan itu menyebar di Indonesia, permintaan jasa angutan truk juga merosot. Bahkan hingga 60% lebih.

“Sehingga, jangankan untuk menambah armada baru. Untuk membayar angsuran kredit armada yang sebelumnya dibeli juga berat. Karena sebagian besar, ya sekitar 90% truk baru, itu dibeli pengusaha dengan sekema kredit,” kata dia saat dihubungi, Selasa (12/5/2020).

Pernyataan serupa disampaikan Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan. “Kalau Ketua OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengatakan, tingkat kredit macet (NPL) di bank naik pada kuartal pertama lalu (Januari – Maret) yang salah satunya dikarenakan sektor transportasi, itu masuk akal. Karena omset PO (Perusahaan Otobus) turun drastis. Bahkan yang pariwisata sampai 100%,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Ilustrasi,bus yang berbasis chassis Scania – dok.Motoris

Akibatnya, arus kas perusahaan angkutan bus banyak yang minus. Sementara, angsuran kredit harus tetap dibayar. “Sebagian besar bus baru dibeli secara kredit. Nah sekarang banyak yang kesulitan dan sanat berharap stimulus perpajakan dan kredit segera direstrukturisasi. Jadi, dalam kondisi seperti sekarang, sulit atau bahkan tidak mungkin menambah armada,” imbuh pria yang juga Direktur PO SAN itu. (Fan/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS