Ekonomi dan Kredit Seret, Penjualan Motor Terancam Anjlok 50%
Ilustrasi, proses produksi sepeda motor Honda - dok.AHM

Ekonomi dan Kredit Seret, Penjualan Motor Terancam Anjlok 50%

Jakarta, Motoris– Penjualan sepeda motor di sepanjang tahun 2020 ini diperkirakan anjlok 50% dari target yang sebelumnya dipatok sebanyak 6,4 juta. Wabah virus corona yang berdampak terhadap perekonomian nasional yang juga memantik semakin ketatnya penyaluran pembiayaan kredit disebut sebut sebagai penyebabnya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Johannes Loman, dalam dalam diskusi virtual bertema “Automotive Industry Perspective” di Jakarta, Jumat (15/5/2020) mengungkap kemungkinan tersebut. Maklum, sepeda motor kini bukan sebatas sarana mobilitas masyarakat dari dan menuju suatu tempat.

Kendaraan bermotor roda dua, sebut Loman, sekarang telah menjadi alat produksi atau sarana pendukung kegiatan ekonomi produktif. Alhasil, jika ekonomi kurang bagus maka masyarakat akan menahan pembelian.

Terlebih, jika muramnya ekonomi nasional juga diikuti pengetatan penyaluran pembiayaan kredit oleh lembaga keuangan baik bank maupun non bank bagi calon pembeli. Pasalnya, kata Loman, 70% pembelian sepeda motor selama ini dilakukan secara kredit.

Ilustrasi, peluncuran All New Yamaha XSR 155 di Indonesia – dok.Motoris

“Total market yang kami prediksi pada tahun ini sebanyak 6,4 juta unit. Tetapi, mungkin bisa turun 40-50%. Yang kami pikirkan di asosiasi sat ini adalah bagaimana industri ini tetap bertahan. Untuk bisa survive harus saling bahu membahu, antara vendor, agen pemegang merek, customer, jaringan, dan finance company,” pria yang juga menjabat Vice President Director PT Astra Honda Motor itu.

Data yang dihimpun AISI menunjukan, sepanjang Januari – Maret lalu atau di kuartal pertama, penjualan sepeda motor di Tanah Air tercatat sebanyak 1.570.464 unit. Jumlah ini mengkerut 6,6% dibanding periode sama tahun lalu yang sebanyak 1.681.454 unit.

Ekonomi masih tertekan
Sementara itu, beberapa waktu lalu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 kemungkinan besar akan negatif. “Dilihat dari angka-angkanya, memang triwulan II ini lebih berat dari triwulan I. Kemungkinan besar akan negatif. Makanya kita siapkan batalannya supaya dampak negatifnya tidak terlampau dalam,” papar dia saat konferensi pers virtual, di Jakarta, Rabu (13/5/2020).

Kementerian Keuangan, lanjut Febrio, telah melakukan koreksi pertumbuhan ekonomi 2020 menjadi -0,4 hingga 2,3%. Lemahnya pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkatkan angka kemiskinan menjadi 1,16 – 3,78 juta. Bahkan memicu pengangguran 2,92 – 5,23 juta orang.

Ilustrasi, skutik Suzuki NEX II Cross diluncurkan – dok.Istimewa

Perkiraan serupa diungkap Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah. Menurutnya, pemerintah perlu mengefektifkan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat, sehingga konsumsi masyarakat juga meningkat.

“Karena pertumbuhan ekonomi kita tetap masih berat, kemungkinan besar berada di kisaran 0% – 2%,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis (15/5/2020). (Fat/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )