Penjualan Rontok, Industri Mobil Coba Selamatkan 1,5 Juta Pekerja

Penjualan Rontok, Industri Mobil Coba Selamatkan 1,5 Juta Pekerja
Ilustrasi, proses produksi mobil di pabrik TMMIN - dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Kalangan industri mobil saat ini merasa terhimpit, karena pada satu sisi penjualannya semkin rontok karena diterpa dampak wabah virus corona dan di sisi lain harus berusaha untuk menyelamatkan 1,5 juta orang pekerjanya. Karena itu, dukungan pemerintah kepada industri untuk tetap eksis dan lolos dari “lubang jarum maut” sangat dibutuhkan.

“Kami melihat penjualan di April yang anjlok 90%, merupakan yang terburuk sejak 10-15 tahun terakhir. Dan kalau melihat kondisi sekarang, saya khawatir penjualan Mei juga masih tertekan,” papar Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, saat dihubungi di Jakarta, Senin (18/5/2020).

Namun, kendati tekanan datang bertubi-tubi, industri otomotif terus berusaha menyelamtkan nasib 1,5 juta orang yang bekerja di sektor ini.

“Mereka bekerja di pabrik, kemudian di supplier-nya, di agen pemegang merek, maupun diler-diler mereka. Artinya yang bekerja secara langsung di sektor ini. Jumlahnya 1,5 juta pegawai. Dan itu tidak termasuk mereka yang bekerja di leasing, di toko aksesoris, di perusahaan asuransi, dan sebagainya atau yang tidak langsung,” kata mantan Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia itu.

Ilustrasi, kegiatan servis mobil di bengkel resmi Mitsubishi – dok.Mitsubishi

Namun, lanjut dia, Gaikino meyakini upaya pemerintah untuk segera memulihkan kondisi sosial dari wabah virus corona dan perekonoian nasional bakal tercapai. Sehingga, seperti yang diprediksi selama ini, kondisi bakal kembali normal  (kondisi new normal) pada Juli nanti.

Perlu stimulus
Nangoi menegaskan, agar sektor industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak dan memberi kontribusi pendapatan ke negara baik pajak maupun non pajak, bisa kembali berlari kencang semsstinya mendapatkan situmulus. Gaikindo, kata dia, telah melayangkan surat kepada Gubernur di seluruh Indonesia, dan Kementerian Dalam Negeri, agar memberikan stimulus berupa relaksasi pajak kendaraan bermotor.

“Kami minta Pajak Kendaraan Bermotor yang besarannya 10-12,5%, jika meang memungkinkan direlaksasi. Artinya dipotong 30-50%,” kata dia.

Selain itu, industri juga diberi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dan kemudahan proses restitusi pajak. Begitu pula dengan kemudahan proses importasi. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir proses importasi sedikit terganggu akibat wabah virus corona di negara-negara pengekspor.

Ilustrasi, Toyota Innova yang diekspor TMMIN atau Toyota Indonesia -dok.TMMIN

Data Gaikindo menunjukan, sepanjang Januari – April tahun ini penjualan mobil dari pabrik ke diler (wholesales) ambles 27,66% yakni dari 338.388 pada tahun lalu menjadi 244.762unit di saat ini. Sedangkan penjuala ke konsuen (ritel) ambles 28,46% yakni dari 340.585 unit menjadi 243.634 unit.

Sedangkan di bulan April wholesales mobil hanya 7.871 unit. Jumlah penjualan tersebut rontok hingga 89,7% dibanding bulan Maret yang masih sebanyak 76.811 unit.

Jika dibanding bulan April 2019, penjualan tersebut longsor hingga 90,6%. Sebab selama April tahun 2019, penjualan masih sebanyak 84.056 unit. (Chr/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This