Pasar Truk Diprediksi Masih Berat hingga Akhir Tahun

Pasar Truk Diprediksi Masih Berat hingga Akhir Tahun
Ilustrasi, salah satu Dump Truck Hino - dok.HMSI

Jakarta, Motoris – Sepanjang Januari hingga April tahun ini penjualan kendaraan komersial jenis truk merosot hingga 36,1% dibanding kurun waktu yang sama tahun 2019. Tren penurunan yang muncul sejak awal tahun semakin menjadi sejak Maret, ketika wabah virus corona (Covid-19) mendera negeri ini.

Sejumlah kalangan menyebut kondisi ekonomi nasional yang ikut “demam” karena terdampak wabah virus sangat berpengaruh terhadap penyerapan truk oleh konsumen. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan menyebut, pasar truk sangat tergantung dengan kondisi perekonomian nasional.

Padahal, kata dia, sepanjang kuartal pertama pertumbuhan ekonomi nasional hanya 2,97%. Besaran itu jauh dari target yang sebesar 4%.

“Permintaan truk sangat tergantung kepada omset bisnis pengusaha jasa angkutan truk. Sementara, kalau kita lihat fakta di lapangan, kegiatan masih ada, tetapi sejak awal tahun trennya terus menurun. Bahkan, saat ini penurunan sudah 60% lebih. Karena banyak industri manufaktur yang istirahat operasi, atau bahkan tutup,” papar dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Ilustrasi, Truk Medium Mitsubishi Fuso 6×2 – dok.Motoris

Pernyataan senada diungkap Chief Executive Officer Lookman Djaja Group, Kyatmaja Lookman. Menurut dia, kondisi yang ada di empat bulan pertama semakin menekan tingkat utilitas atau produktifitas truk.

Sebab, lanjut dia, utilitas truk di Indonesia hingga saat ini baru 40-50%, karena berbagai faktor. Salah satunya karena tingkat kemacetan yang tinggi. Artinya, produktifitas yang tidak maksimal semakin tertekan oleh dampak Covid-19.

“Angkutan logistik masih boleh beroperasi, tapi perusahaan pengguna jasa truk banyak yang istirahat. Truk banyak yang menganggur, sehingga pemasukan juga terganggu. Jadi, dengan kondisi seperti itu, pengusaha (truk) juga berpikir ulang untuk menambah armada baru. Apalagi 90% lebih pembelian truk dilakukan secara kredit,” kata dia.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap preduksinya bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa di bawah 2,3% di sepanjang tahun 2020 ini. Hal itu jika melihat tingkat konsumsi masyarakat dan dinamika sektor industri manufaktur, serta masa permberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Truk Mercedes-Benz Axor – dok.Motoris

“Waktu puncak, (pemberlakuan) PSBB terjadi pada April sampai pertengahan Juni. Sementara, wilayah PSBB kurang lebih 70 persen dari wilayah ekonomi Indonesia. Kalau pertumbuhan (ekonomi) kuartal I 2,97% bagaimana tahun 2020? Mungkin lebih rendah dari 2,3%,” ujar dia dalam konferensi video, di Jakarta, Rabu (6/5/2020).

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto juga memprediksi pasar kendaraan komersial khususnya truk juga berpotensi masih menghadapi tekanan berat hingga akhir tahun. “Karena, bisa saja kita sudah new normal (karena wabah Covid-19 berakhir), tetapi masih perlu penyesuaian. Apalagi, pasar kendaraan komersial itu sangat tergantung kondisi ekonomi. Tetapi, mudah-mudahan ekonomi segera melaju lagi,” ucap dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan sepanjang Januari – April penjualan ritel yang dibukukan Hino hanya 5.363 unit. Jumlah merosot 49% dibanding periode sama tahun 2019.

Ilustrasi chassis truk yang diperkenalkan di GIICOMVEC 2020 – dok.Motoris

Sedangkan penjualan Mitsubishi Fuso – di kurun waktu yang sama – tercatat sebanyak 9.628 unit. Jumlah ini melorot 28,3% dibanding empat bulan pertama 2019. (Fer/Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This