Penjualan Mobil Sepanjang Mei Diperkirakan Makin Ambyar

Penjualan Mobil Sepanjang Mei Diperkirakan Makin Ambyar
Ilustrasi, Toyota Innova yang dipajang di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Meski hingga kini masih belum ada data resmi yang dirilis, namun sejumlah kalangan di industri kendaraan bermotor roda empat di Indonesia memperkirakan penjualan sepanjang bulan Mei lebih buruk dibanding April. Berlakunya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melorotnya permintaan karena lebaran menjadi faktor pemicunya.

“Kita tahu, pada April PSBB sudah berlaku dimana-mana. Kegiatan masyarakat di luar rumah juga berkurang. Kegiatan di diler juga begitu. Jadi kalau sepanjang Mei permintaan semakin turun, itu bisa dimengerti. Apalagi, Mei kan ada lebaran, jadi ada libur,” papar Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (28/5/2020).

Pernyataan serupa diungkapkan Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, saat dihubungi Jumat (28/5/2020). Bahkan, kata dia, sejatinya menurunnya permintaan kendaraan bermotor roda empat atau lebih di sepanjang Mei sudah diprediksi Gaikindo, saat melakukan pertemuan Februari lalu.

Ilustrasi, suasana di pameran mobil GIIAS 2019 – dok.Motoris

“Mei belum ada data yang kita sampaikan, masih dihitung. Meskipun diperkirakan turun lebih dalam (dibanding April 2020 maupun bulan yang sama tahun 2019),” kata dia.

Dia menyebut dalam pertemuan pengurus Gaiindo, pada Februari lalu, sudah diperkirakan Januari sampai Maret masih terjual sekitar 240.000-an unit. Tetapi diperkirakan April hingga Juli akan semakin anjlok.

“Karena saat PSBB apakah masih banyak orang yang berpikir beli mobil? Padahal, April sampai Mei daerah yang menerapkan PSBB semakin banyak, terutama di wilayah Jabodetabek. Padahal, wilayah ini kontribusinya terhadap penjualan yang paling banyak,” papar Jongkie.

Daya beli dan konsumsi
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, yang dihubungi sebelumnya juga menyatakan berkurangnya kegiatan masyarakat selama masa PSBB juga berperan dalam penurunan penjualan mobil.

“Tetapi, faktor yang dominan adalah penurunan daya beli dan minat beli. Apalagi, lembaga pembiayaan baik bank maupun non bank (leasing) juga semakin selektf dengan menetapkan uang muka lebih tinggi, hingga 40% untuk pembelian secara kredit,” papar dia.

Penurunan daya beli bisa dilihat dari menyusutnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga sepanjang Januari – Maret atau kuartal pertama lalu. Badan Pusat Statistik (BPS), kata Faisal, menunjukan konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84%.

Ilustrasi, booth Suzuki di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Padahal, di kuartal pertama 2019 pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih mencapai 5,02% year on year (yoy). Masyarakat membuat skala prioritas, lanjut dia, hanya membeli barang-barang kebutuhan pokok atau non pokok yang dibutuhkan saja.

Barang yang dinilai bukan mendesak seperti kendaraan bermotor, apalagi mobil banyak yang ditunda atau diurungkan.”Mudah-mudahan kondisi pandemi segera berakhir, dan new normal bisa menjadi pemicu kenaikan permintaan,” imbuh dia.

Sekadar catatan, data Gaikindo menunjukkan, Januari-April, penjualan wholesales dan ritel mencapai 244.762 unit dan 243.634 unit. Masing-masing anjlok 27,9% dan 28,7% dibanding periode sama tahun 2019.

Ilustrasi, Honda Accord diluncurkan di gelaran GIIAS 2019 – dok.Motoris

Sedangkan penjualan ke diler (wholesales) sepanjang April saja sebanyak 7.871 unit atau ambrol 90,6% dibanding April 2019 yang masih sebanyak 84.056 unit. Adapun dibanding bulan sebelumnya, atau Maret, penjualan April itu juga longsor sangat dalam, karena sepanjag Maret wholesales masih sebesar 76. 811 unit. (Fat/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This