Setelah Gusur CEO, Aston Martin akan PHK 500 Pekerja

Setelah Gusur CEO, Aston Martin akan PHK 500 Pekerja
Ilustrasi, Aston Martin DBS Superleggera James Bond varian warna merah- dok.Aston Martin

Gaydon, Motoris – Pabrikan mobil mewah asal Inggris Aston Martin Lagonda Global Holdings Plc bakal memangkas jumlah karyawan sebanyak 500 orang dari 2.600 orang pekerja yang ada saat ini. Langkah tersebut menyusul amblesnya penjualan mobil produknya akibat wabah virus corona (Covid-19).

“Aston Martin Lagonda Global Holdings Plc mengatakan pada hari Kamis (4/6/2020) bahwa pihaknya berencana untuk memangkas hampir 20% dari tenaga kerja atau sebanyak 500 orang. Ini untuk mengatasi penurunan permintaan mobil mewah,” tulis Bloomberg, Jumat (5/6/2020).

Aston Martin akan berembuk dengan karyawan dan serikat pekerja dalam beberapa hari mendatang untuk membahas masalah ini. Termasuk, menyampaikan ke mereka tentang langkah perusahaan yang akan lebih fokus memproduksi mobil sport dengan jumlah yang lebih sedikit.

Ilustrasi, produksi mobil Aston Martin – dok.Istimewa via PES Media

Dengan memutus hubungan kerja (PHK) karyawan itu, pabrikan akan bisa menghemat baya operasional hingga 18 juta poundsterling atau sekitar Rp 321 miliar. Selain itu, belanja modal juga bisa dikurangi hingga 10 juta poundsterling atau sekitar Rp 178 miliar lebih.

Laman Autocar, Jumat (5/6/2020) menyebut selama kuartal pertama atau tiga bulan pertama tahun ini pabrikan itu membukukan kerugian (sebelum dikurangi pajak) senilai 118,9 juta poundsterling atau setara dengan Rp 2,12 triliun.

Kantor Pusat Aston Martin, di Geydon, Inggris – dok.Telegraph

Andy Palmer digusur
Sebelumnya pabrikan yang bermarkas di Gaydon, Inggris, ini mencopot Andrew Charles Palmer (Andy Palmer) dari kursi Chief Executive Officer. Dia diganti dengan mantan CEO Mercedes-AMG, Tobias Moers.

Laman Financial Times, Senin (25/5/2020) tegas-tegas menyatakan tergusurnya Andy Palmer merupakan bagian dari perombakan kepemimpinan perusahaan. Tetapi pernyataan yang lebih lugas dan tegas dinyatakan The Guardian dengan mengutip sumber orang dalam perusahaan.

Media itu menulis, Aston Martin memecat chief executive-nya, Andy Palmer. “Hal ini dilakukan menyusul jatuhnya harga saham perusahaan hingga 98%. Dan ini menjadi penurunan (harga saham) terburuk sejak dua tahun terakhir,” kata sang sumber.

Lawrence Stroll, miliarder asal Quebec, Kanada yang menjadi juragan baru Aston Martin – dok.Planet F1

Manajemen baru – setelah masuknya miliarder asal Quebec, Kanada, Lawrence Stroll dengan membeli 16,7% saham Aston Martin – memang sejak awal menginginkan perubahan. Terlebih, kinerja perusahaan semakin terpuruk setelah wabah virus corona mendera dunia, termasuk Inggris.

Tetapi yang pasti, Aston Martin memapras jumlah pekerja itu hanya dua bulan setelah Stroll masuk ke manajemen pabrikan. Ayah dari pembalap F1 Lance Stroll, itu sebelumnya diketahui memimpin penggalangan dana 536 juta poundsterling untuk penyelamatan Aston Martin dari jerat utang. Dia sendiri membeli saham mayoritas perorangan.

Tampilan depan SUV Aston martin DBX – dok.Motor1

Setelah resmi mengenggam 16,7% saham pabrikan tersebut,  pemilik tim balap Formula 1 – yakni F1 Racing Point – itu, langsung woro-woro untuk fokus ke mobil sport, termasuk SUV Aston Martin DBX. Mobil sport ikonik yang terkenal di film James Bond itu dijagokan sebagai andalan penjualan. (Fat/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This