Bisnis Logistik Diprediksi Anjlok 80%, Ini Potret Penjualan Kendaraan Niaga

Bisnis Logistik Diprediksi Anjlok 80%, Ini Potret Penjualan Kendaraan Niaga
Ilustrasi, truk terbaru Hino Ranger FG 235 JU - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Dampak wabah virus corona (Covid-19) yang mendera dunia termasuk Indonesia terhadap perekonomian nasional cukup terasa, termasuk ke sektor bisnis logistik. Kondisi ini memberi efek domino terhadap kinerja penjualan kendaraan komersial yang loyo.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita memperkirakan bisnis logistik secara keseluruhan turun hingga 80% di masa pandemi virus corona dibanding periode sama tahun 2019 lalu.

“Apalagi, sektor jasa logistik ini sudah mulai kontraksi sejak Januari, karena menurunnya ekspor dan impor dari maupun ke Cina. Paling terasa dari Januari sampai Maret. Bahkan, pada Maret sektor logistik yang melayani industri atau perdagangan berhenti akibat Covid-19,” papar dia di Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Pernyataan serupa diungkap salah seorang pengusaha angkutan truk Mulyadi Bunarto Pengusaha asal Semarang, Jawa Tengah, itu mengaku merasakan penurunan order sejak Feruari hingga Mei lalu. Dia menyebut, banyak negara di dunia yang sudah menerapkan penutupan wilayah atau lockdown pada Maret. Tak sedikit industri mereka yang diistirahatkan demi mencegah paparan wabah.

Ilustrasi, Truk Medium Mitsubishi Fuso 6×2 – dok.Motoris

“Di kita, Indonesia, April ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah dan di nasional pada Mei. Memang ada angkutan yang beroperasi untuk sembako dan energi, tetapi itu bukan segmen paling besar untuk angkutan logistik yang ada selama ini,” papar dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Seperti halnya Zaldy, Mulyadi menyebut sepanjang Maret – Mei, bisnis e-commerce, food and beverages, dan fast moving customer goods, masih memberikan nafas bagi bisnis logistik. Namun, di Juni – Agustus sektor-sektor itu juga rawan mengalami tekanan karena faktor daya beli, bahkan di saat new normal sekalipun.

“Jadi, kalau ditanya, apakah permintaan kendaraan niaga untuk sektor logistik tumbuh, tentu jawabnya belum ada. Karena volume bisnis bukan berkembang, tapi malah turun. Lha kalau turun mengapa harus berekspnasi tambah armada. Ya, mungkin untuk angkutan (kendaraan) ukuran kecil (seperti pikap, blind van, atau van) masih ada (permintaan), tapi kalau truk sepertinya belum. Enggak tahu kalau sektor lain (konstruksi, tambang, dan lainnya),” papar Mulyadi.

Truk Mercedes-Benz Axor – dok.Motoris

Kinerja penjualan kendaraan
Sementara itu, data yang dikompilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, sepanjang lima bulan pertama atau dari Januari hingga Mei, Mitsubishi Fuso membukukan penjualan ke konsumen (ritel) terbanyak di daftar penjualan kendaraan komersial (pikap hingga truk berat). Merek ini mengantongi angka penjualan 10. 472 unit.

Sementara, Isuzu (termasuk di dalamnya adakendaraan penumpang) sebanyak 6.472 unit. Dia disusul Hino bercokol di urutan dengan penjualan 5.672 unit.

Kendaraan komersial Mercedes-Benz (termasuk ada bus) menempati urutan keempat. Penjualan merek ini sebanyak 463 unit.
UD Trucks yang dipasarkan Grup Astra, bertengger di posisi kelima dengan total penjualan 430 unit. Kemudian Tata Motors yang mengolrksi angka penjualan 180 unit.

Ilustrasi, FAW Indonesia memberikan jaminan suku cadang dan pelatihan mekanik kepada perusahaan pembelinya – dok.Motoris

Di urutan berikutnya, ada merek asal Cina, FAW, yang menjual sebanyak 130 unit, dan dibelakangnya ada Scania yang melego 84 unit. Posisi terakhir ditempati merek asal Munich, Jerman, MAN Trucks & Bus, dengan penjualan 9 unit.

Beberapa waktu sebelumnya, saat dihubungi di Jakarta, Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, permintaan kendaraan komersial – secara umum – sangat dipengaruhi kondisi perekonomian. Jika pertumbuhan ekonomi berkontraksi, maka permintaan juga menurun.

“Dan sebaliknya. Karena kendaraan niaga (komersial) itu merupakan barang modal untuk kegiatan ekonomi produktif. Jadi permintaannya sangat tergantung kondisi ekonomi. Ini beda dengan kendaraan penumpang yang lebih bersifat konsumstif,” kata dia.

Ilustrasi, truk Scania yang dipasarkan di Indonesia – dok.Motoris

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu melansir angka pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama atau Januari – Maret hanya sebesar 2,97%. Angka ini jauh melotor dibanding angka pertumbuhan di rentang waktu sama tahun 2019 yang sebesar 5%. (Ril/Fat/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This