Tak Separah Truk, Penjualan Bus di Semester I Tertopang Bus Kecil

Tak Separah Truk, Penjualan Bus di Semester I Tertopang Bus Kecil
Ilustrasi, bus kecil, Jumbo Jetbus karya karoseri Adiputro dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Seperti penjualan (ritel) truk sepanjang Januari – Juni atau semester satu kemarin, penjualan bus juga ambrolm meski dengan besaran yang tak separah truk. Jika penjualan truk di rentang waktu itu ambrol 44% yakni dari 41.309 unit selama tahun 2019 menjadi 23.330 unit di tahun ini, penjualan bus hanya ambrol 20%.

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, di enam bulan pertama itu total penjualan ritel bus sebanyak 1.483 unit. Jumlah ini ambrol 20% dibanding semester pertama tahun 2019 yang sebanyak 1.849 unit.

Fakta menunjukkan, penjualan bus pada kurun waktu tersebut banyak tertopang oleh penjualan bus ukuran kecil yakni bus dengan GVW 5-10 ton. Bus kategori ini terjual sebanyak 806 unit selama Januari – Juni.

Memang, jumlah yang dibukukan bus kecil itu masih turun dibanding semester pertama 2019. Tetapi hanya sedikit yakni 3 unit. Sebab selama semester pertama 2019, penjualan bus kecil sebanyak 809 unit.

Bus kecil Jetbus 3+ Adiputro yang sudah digunakan perusahaan travel – dok.Motoris

Penjualan bus kecil paling joss terjadi selama bulan Juni, yakni sebanyak 196 unit. Jumlah itu melejit 85% dibanding bulan sebelumnya. Bahkan meroket hingga 111% dibanding bulan Juni 2019.

Berkat kinerja penjualan bus kecil itu pula, total penjualan bus selama bulan Juni bertambah 200 unit dibanding bulan Mei. Walau, jika dibanding bulan Juni 2019, penjualan bulan keenam 2020 itu masih ambles 16%.

Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menyebut, di bulan Juni masih banyak pengusaha angkutan bus yang menahan pembelian unit armada baru. Pelaku usaha, kata dia, masih disibukkan oleh upaya pemulihan kas internal dan meramu strategi baru menghadapi era baru di tengah wabah virus corona (Covid-19) yang hingga hingga masih membayangi dunia termasuk negeri ini.

“Kalau pun ada pengiriman chassis baru, kemungkinan besar itu yang dipesan pada bulan-bulan sebelumnya. Karena April – Mei kan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di sejumlah daerah. Sebab, selama periode itu, pasar angkutan bus juga menurun drastis, bahkan bus pariwisata sampai nol persen, sehingga kebanyakan masih menahan pembelian karena menunggu perkembangan kondisi sosial dan ekonomi,” ungkap dia saat dihubungi di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Formasi tempat duduk Jumbo Jetbus Adiputro yang 2+1 – dok.Motoris

Dia menduga bus-bus ukuran kecil merupakan pesanan dari lembaga pemerintah – baik di pusat maupun daerah – untuk merealisasikan anggaran belanja guna memicu pergerakan ekonomi nasional. Selain itu, juga perusahaan angkutan bus untuk armada layanan angkutan antar kota dalam provinsi yang jauh-jauh hari telah memesan. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS