Januari – Juli, Penjualan Bus di RI Merosot hingga 25%

Januari – Juli, Penjualan Bus di RI Merosot hingga 25%
Ilustrasi, bus garapan Karoseri Tentrem dengan basis Mercedes-Benz dipamerkan di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang tujuh bulan pertama atau dari Januari hingga Juli lalu, total penjualan chassis bus (atau disebut bus) ke konsumen (ritel) di Indonesia tercatat sebanyak 1.576 unit. Jumlah ini merosot 25%, dibanding penjualan di sepanjang Januari – Juli tahun 2019 yang masih sebanyak 2.110 unit.

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penurunan penjualan terparah di periode tujuh bulan pertama itu dialami oleh bus dengan Gross Vehicle Weight (GVW) 10 – 24 ton, yakni 41%. Jika di Januari – Juli 2019 penjualan bus kategori ini masih sebanyak 1.174 unit, di tahun ini hanya 694 unit.

Sedangkan bus dengan GVW 5 – 10 ton, penjualannya di kurun waktu itu menyusut 6%, yakni dari 923 unit menjadi 868 unit. Sementara bus dengan GVW lebih dari 24 ton, penjualannya di sepanjang Januari – Juli tahun ini masih naik 8%, meski hanya bertambah 1 unit, yakni dari 13 unit tahun lalu menjadi 14 unit pada tahun ini.

Adapun khusus di bulan Juli saja, total penjualan bus (berbagai kategori) tercatat masih anjlok hingga 64%, dibanding bulan yang sama tahun 2019. Jika pada tahun lalu masih sebanyak 261 unit, tahun ini hanya 93 unit.

Bus Sleeper Suite Class garapan Karoseri Laksana di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Sepanjang bulan ketujuh ini, bus kategori 5 – 10 ton terjual 59 unit atau ambrol 137% dibanding penjualan di bulan sama tahun 2019 yang masih sebanyak 196 unit. Bus kategori 10 – 24 ton terjual sebanyak 34 unit atau naik 240% dibanding bulan Juli 2019 yang sebanyak 10 unit, dan bus kategori 24 ton lebih tidak membukukan penjualan alias nihil di juli tahun ini atau ambrol 100% dibanding Juli 2019 yang sebanyak 2 unit.

Sedihnya lagi, penjualan Juli tahun ini tercatat juga ambrol 55,3% dibanding penjualan Juni. Sebab, sepanjang bulan Juni jumlah bus yang terjual ke konsumen masih sebanyak 208 unit.

Soal amblesnya pasar bus ini, beberapa waktu lalu Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menyebut, karena banyak pengusaha jasa angkutan bus yang menahan pembelina dikarenakan pasar jasa angkutan bus masih muram. Setelah ada Pembatasan Sosial Berskala Besar diterapkan pada April yang kemudian pengendalian arus bus keluar masuk DKI Jakarta sampai larangan mudik, omset angkutan bus menurun drastis.

Ilustrasi, bus ber-chassis Hino yang dipamerkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Terlebih, di kalangan masyarakat juga masih ada yang enggan bepergian dengan angkutan umum, tak terkecuali dengan bus karena alasan khawatir dengan potensi penularan wabah virus corona. “Celakanya, proses restrukturisasi kredit yang ditawarkan (perusahaan pembiayaan dan bank) tidak seperti yang diharapkan oleh pengusaha berdasar kondisi riil mereka. Jadi, orang mau menambah unit juga mikir-mikir. Kalau pun di Mei, Juni, Juli, masih ada tambahan itu umumnya pengiriman dari kontrak kredit yang disetujui sebelumnya,” ujar dia yang dihubungi di Jakarta. (Fer/Ara)

Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan – dok.Istimewa

CATEGORIES
TAGS
Share This