Tujuh Bulan Penjualan Truk di RI Anjlok 59%, Heavy Duty Paling Parah

Tujuh Bulan Penjualan Truk di RI Anjlok 59%, Heavy Duty Paling Parah
Ilustrasi, truk Quester baru dari UD Trucks yang diperkenalkan di hajatan GIICOMVEC 2020 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang Januari hingga Juli kemarin total penjualan truk ke konsumen (ritel) di Indonesia tercatat masih muram, karena masih anjlok 46% dibanding penjualan selama periode sama tahun lalu. Semua penjualan kategori truk merosot, namun yang terparah diderita truk kategori truk berat dengan Gross Vehicle Weight (GVW) lebih dari 24 ton alias truk heavy duty.

Data yang dikompilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, di rentang tujuh bulan pertama itu total penjualan truk sebanyak 26.367 unit. Padahal, di kurun waktu yang sama tahun lalu penjualan masih sebanyak 48.476 unit.
Artinya, penjualan sepanjang Januari – Juli tahun ini menyusut 22.418 unit alias ambrol 46% dibanding tahun lalu. Perekonomian yang lesu akibat dampak wabah virus corona yang mendera Indonesia disebut sebagai salah satu penyebabnya.

“Kendaraan niaga atau kendaraan niaga itu permintaannya sangat tergantung dengan kondisi ekonomi. Sebab, kendaraan ini merupakan barang modal untuk kegiatan penunjang bisnis. Kalau ekonomi turun, tentu permintaan juga akan mengikuti. Tahun ini kuartal pertama ekonomi kita tumbuh 2,97% (turun jauh dibanding kuartal pertama 2019 yang masih berada di kisaran 5%). Terus kuartal kedua, -5,32%,” papar Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, saat dihubungi di Jakarta, akhir pekan lalu.

truk Hino FM 350 TH – dok.Istimewa

Terlebih, fakta menunjukkan, semua kategori truk di kurun waktu tersebut penjualannya ambles. Truk kategori GVW 5 – 10 ton penjualannya turun 39% atau berkurang 12.857 unit. Jika di Januari – Juli tahun lalu masih 33.187 unit, tahun ini hanya 20.330 unit.
Kemudian truk kategori GVW 10 – 24 ton yang tahun lalalu terjual sebanyak 4.025 unit, tahun ini hanya 1.888 unit. Artinya, penjualan ambrol hingga 53% dari tahun ke tahun.

Namun, ambrolnya penjualan terparah dibukukan oleh truk kategori GVW lebih dari 24 ton. Jika di tujuh bulan pertama tahun lalu masih sebanyak 11.573 unit, tahun ini hanya 4.151 unit alias ambrol 64%.

“Truk-truk berat, banyak pengusaha yang menyetop pembelian. Karena kita tahu sejak awal tahun ini, atau bahkan akhir tahun 2019 lalu, kondisi tambang kita (batubara) belum membaik. Harga komoditas masih fluktuatif dan besarannya masih di bawah tahun-tahun sebelumnya. Jadi, perusahaan-perusahaan tambang yang menyewa truk pun banyak yang menurunkan permintaan. Jadi buat apa nambah armada,” kata pengurus Asosiasi Perusahaan Rental Truk Kalimantan Timur, Muhammad Husein, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (21/8/2020).

Mitsubishi Fuso Fighter, produk baru di segmen truk menengah di Indonesia. (KTB)

Memang, di sepanjang Juli saja, penjualan truk di Tanah Air naik 12,4% atau lebih banyak 335 unit dibanding Juni. Jika di juni penjualan masih sebanyak 2.704 unit, pada Juli sebanyak 3.039 unit.

Namun, jika dibanding bulan Juli 2019, penjualan bulan Juli tahun ini masih ambrol 59%. Tahun lalu masih sebanyak 7.476 unit, dan kini hanya 3.039 unit. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This