Penjualan Mobil Merek Jepang Sepanjang Juli Ambles 12,2%

Penjualan Mobil Merek Jepang Sepanjang Juli Ambles 12,2%
Ilustrasi, proses produksi mobil Honda - dok.Honda via SteelGuru

Tokyo, Motoris – Penjualan global tujuh produsen mobil asal Jepang – antara lain Toyota, Honda, Suzuki, Nissan, Daihatsu, dan Mitsubishi – sepanjang bulan Juli diperkirakan masih ambles 12,2% dibanding bulan yang sama tahun 2019. Meski pabrik dan diler-diler mereka yang tersebar di berbagai belahan dunia telah dibuka kembali setelah sempat tutup karena kebijakan lockdown terkait pencegahan wabah virus corona (Covid-19).

Seperti dilaporkan Reuters, Jumat (28/8/2020), dari perhitungan berdasar data penjualan yang dirilis masing-masing merek pada Jumat (28/8/2020), total penjualan global tujuh merek itu hanya 2,01 juta unit.

“Penurunan penjualan pada Juli tahun ini merupakan penurunan yang kelima dalam lima bulan secara berturut-turut karena permintaan mobil tetap lesu setelah pabrik dan diler dibuka kembali setelah adanya kebijakan lockdown terkait virus corona awal tahun ini,” tulis kantor berita Inggris tersebut.

Ilustrasi, Toyota Camry TRD – dok.Toyota Global

Penurunan penjualan bulanan pabrikan Jepang mulai melambat secara signfikan sejak bulan April, yang menurun 50%. Sedangkan angka penurunan penjualan mulai mengecil pada bulan Juni, yakni hanya 21,3%.

Total produksi tujuh produsen mobil itu hanya 1,99 juta unit atau melorot 14,4% dibanding bulan Juli tahun lalu. Namun, jumlah produksi selama bulan itu masih lebih baik dibanding produksi selama bulan Juni yang merosot 26,1% dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Permintaan mobil di pasar global diketahui mulai melemah pada bulan Maret seiring dengan adanya pembatasan sosial yang meminta masyarakat untuk tetap tinggal di rumah terkait wabah virus corona.

Ilustrasi, Nissan Rogue atau yang di sejumlah negara dinamai dengan Nissan X-Trail, salah satu mobil yang dibuat di pabrik Kyushu, Jepang – dok.The Car Connection

Kini banyak negara telah melonggarkan pembatasan tersebut, meski sejumlah pakar menyebut butuh waktu lima tahun untuk memulihkan permintaan mobil dengan level seperti tahun 2019. (Ril/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This