APM Vietnam Lebih Suka Jual Mobil Impor dari RI dan Thailand, Ini Alasannya

APM Vietnam Lebih Suka Jual Mobil Impor dari RI dan Thailand, Ini Alasannya
Ilustarsi, Nissan Navara yang diproduksi di Thailand dipamerkan di hajatan Vietnam Motor Show 2019 - dok.Viet Gia Tri

Hanoi, Motoris – Para Agen Pemegang Merek (APM) mobil-mobil merek asal Jepang di Vietnam mengaku lebih suka menjual mobil impor – yang sebagian besar dari Thailand dan Republik Indonesia (RI) – ketimbang produk yang sama yang dipriduksi lokal. Pasalnya, ongkos produksi di lokal ternyata lebih mahal, sehingga harga jual pun juga mahal.

Pernyataan tersebut diungkap sejumlah sumber di Asosiasi Produsen Mobil Vietnam (VAMA) dan Asosiasi Importir Mobil Vietnam (VIVA) yang dilansir Retail News Asia dan Vietnam Business Journal, belum lama ini. “Harga Honda CR-V yang dirakit di provinsi Vinh Phuc misalnya, harganya VND (Vietnam Dong) 1,2 miliar. Harga ini lebih mahal VND25 juta dibanding versi dari impor,” kata sumber di VIVA.

Begitu pula dengan Toyota Fortuner rakitan lokal , banderolnya lebih mahal VND 7 dibanding mobil yang sama dari impor. “Banyak pembeli berharap harga mobil rakitan lokal lebih murah daripada mobil impor, tetapi beberapa faktor tidak memungkinkan hal ini terjadi,” kata pejabat di VAMA.

Biaya impor suku cadang – yang umumnya berasal dari Jepang, Cina, dan Korea Selatan – lebih mahal. Selain dikenai pajak impor 7 – 9%, harganya pun tak bisa ditekan.

Pasalnya, industri di Negeri Paman Ho itu mengimpor tidak dalam jumlah banyak, karena disesuaikan dengan skala pasar yang ada atau volume penjualan. Padahal, jika membeli dalam partai atau volume besar, harga suku cadang itu bisa lebih miring.

Ilustrasi, All New Ertiga di Vietnam Motor Show 2019 – dok.Viet Giai Tri

Merek mobil harus mengimpor suku cadang karena pemasok lokal tidak mampu membuat suku cadang yang dinilai rumit proses produksinya. Vietnam sejatinya sempat menargetkan angka lokalisasi 60% untuk mobil penumpang pada 2010.

Tetapi, nyatanya hingga saat ini masih di angka 7-10%. Angka ini dibanding jauh lebih rendah dibanding rata-rata ASEAN yang telah mencapai 55-60%.

Sekadar catatan, penjualan mobil di Vietnam tahun 2019 lalu sebanyak 385.600 unit. Jumlah ini jauh dibanding Indonesia dan Thailand yang 2,6 kali lebih besar, dan Malaysia 1,6 kali lipat lebih banyak.

“Memproduksi mobil di Vietnam, menjadikan ongkosnya 15-20% lebih mahal daripada di negara lain,”ujar seorang kepala strategi dan perencanaan merek mobil asal Jepang yang tidak bersedia disebut namanya.

Maklum, lanjut dia, dengan volume pasar yang masih relatif kecil, menjadikan impor suku cadang juga lebih mahal karena volume yang diimpor sedikit atau bukan dalam partai besar sesuai volume produksi. Untuk membuat suku cadang di lokal pun juga terbentur pada skala produksi, sehingga tidak memenuhi skala ekonomi.

Ilustrasi, Vietnam Motor Show 2019 – dok.VMS via Vietnam Express

“Itu berbeda dengan skala produksi model mobil yang sama di Thailand yang bisa dua atau tiga kali lebih, sehingga membuat harga lebih rendah,” ujar dia.

Terlebih, lanjut sang sumber, impor mobil dari Thailand dan Indonesia lebih murah karena bebas pajak. Hal itu berdasar Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA) yang berlaku sejak tahun 2018 lalu. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This