PSBB Penuh di Jakarta Berlaku Lagi, Penjualan Mobil Bisa Kembali Letoy

PSBB Penuh di Jakarta Berlaku Lagi, Penjualan Mobil Bisa Kembali Letoy
Ilustrasi, Honda BR-V yang dipasarkan di Indonesia - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi menyatakan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara penuh seperti pada saat awal-awal wabah virus corona (Covid-19) menerpa Indonesia, termasuk Jakarta, mulai 14 September nanti. Bagi dunia usaha – termasuk sektor otomotif – kebijakan ini diakui bakal berdampak, khususnya dalam penjualan.

“Memang, PSBB penuh bisa berdampak kepada penjualan otomotif baik wholesales (penjualan dari pabrik ke diler) maupun ritel (ke konsumen), dikarenakan kantor-kantor APM (Agen Pemegang Merek) dan diler harus tutup,” tutur Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto, saat dihubungi Motoris di Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Pernyataan serupa diungkap pengamat industri dari Eternity Marketing Ressearch Specialist, Haryajid Widianto. Dia memperkirakan, penjuaan mobil yang mulai rebound (kembali naik) pada Juni dan Juli, setelah ambles di bulan Mei, bakal kembali ambrol.

“Bisa diprediksi akan kembali anjlok paling tidak letoy (melemah) lagi. Karena bukan hanya diler-nya saja yang tutup kan, tetapi juga kegiatan masyarakat. Memang, ada cara lain berjualan dengan channel online, tetapi belum sebesar offline. Kegiatan perkantoran juga terbatas dan dikerjakan di rumah. Jadi, praktis kegiatan masyarakat ke luar rumah juga sangat terbatas, ke tempat hiburan tutup, ke luar kota mungkin juga akan terbatas,” kata dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Ilustrasi, Suzuki XL7 – dok.PT SIS

Namun, seberapa besar tingkat anjloknya penjualan yang bakal terjadi kali ini, baik Haryadi maupun Jongkie mengaku belum bisa memastikan. Tetapi, menurut mereka, potensi penurunan bisa dilihat dari pengalaman pada saat pemberlakuan PSBB penuh sebelumnya yakni pada April dan Mei.

“Karena kontribusi wilayah DKI Jakarta terhadap total penjualan otomotif khususnya kendaraan bermotor roda empat atau lebih terhadap penjualan nasional itu sebesar 30-40%. Jadi cukup besar,” kata Jongkie yang diamini Haryajid.

Selain itu, jangka waktu penerapan kebijakan tersebut juga sangat berkorelasi kepada besaran dampak ke penjualan. Semakin lama kebijakan pembatasan itu diterapkan maka akan semakin tertekan pula penjualan.

“Penjualan (mobil oleh diler) secara online kita harapkan dapat menggantikan (penjualan secara online), walaupun tidak sepenuhnya (dapat menggantikan penjualan secara offline),” tandas Jongike yang juga mantan Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia itu.

Toyota New Yaris – dok.Istimewa

Data yang dihimpun Gaikindo menunjukkan, sepanjang Mei atau sebulan setelah diterapkannya PSBB di beberapa daerah penjualan mobil secara ritel hanya sebanyak 17.083 unit. Jumlah itu anjlok 82% dibanding bulan Mei 2019 yang masih sebanyak 93.881 unit.

Begitu pula dengan penjualan secara wholesales yang ambles 95%, yakni dari dari 84.109 unit pada Mei 2019 menjadi 3.551 unit pada tahun ini. Pada di bulan kelima itu, ada hari besar yakni hari raya Idul Fitri yang identik dengan masa panen industri mobil karena banyaknya pembelian untuk keperluan mudik.

Ilustrasi, Daihatsu Sirion versi facelift – dok.Istimewa

Sebelumnya, dalam konferensi pers yang digelar Rabu (9/9/2020) Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan PSBB penuh diberlakukan sebagai “rem darurat” karena melihat fakta masih tingginya angka kasus positif Covid-19 di wilayahnya. Sehingga mulai 14 September, semua kegiatan perkantoran ditiadakan. (Fat/sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This