RI Dipastikan Masuk Zona Resesi, Penjualan Motor Diprediksi Kian Ngeri

RI Dipastikan Masuk Zona Resesi, Penjualan Motor Diprediksi Kian Ngeri
Ilustrasi, proses produksi sepeda motor Honda di Indonesia - dok.AHM

Jakarta, Motoris – Indonesia dipastikan masuk ke zona resesi, karena proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III (Juni – September) diperkirakan – 2,9% hingga – 1,0%. Prediksi ekonomi nasional terkontraksi atau minus tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengumumkan revisi proyeksi ekonomi kuartal ketiga tahun ini.

“Yang terbaru per September 2020 ini, (ekonomi) -2,9% sampai -1,0%. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal keempat,” papar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita September yang digelar secara virtual, di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut dari sisi permintaan selama kuartal III, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih berada pada zona kontraksi yaitu -3% hingga -1,5%. “Dengan total outlook 2020 konsumsi kita berarti pada kisaran kontraksi -2,1% hingga -1%. Untuk konsumsi pemerintah pada kuartal yang sama, karena akselerasi belanja yang luar biasa mengalami positif sangat tinggi yakni hingga 17%,” kata dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani – dok.Setkab.go.id

Sementara, investasi disebut sedikit lebih baik meskipun secara umum masih lemah. Hal itu, lanjut Sri Mulyani, terlihat dari indikator aktivitas bangunan, impor barang modal, serta penjualan kendaraan niaga. “Perbaikan aktivitas ekonomi masih tertahan membuat investasi masih wait and see,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Sedangkan ekspor dalam rincian outlook indikator pertumbuhan ekonomi pada kuartal III itu disebut -13,9% hingga -8,7%. Dan Kementerian Keuangan melakukan update proyeksi perekonomian Indonesia untuk tahun ini -1,7% hingga -0,6%.

Lantas bagaimana kemungkinan dampak yang bakal menimpa sektor industri, khususnya industri otomotif? “Tentu ada dampak yang lumayan signifikan. Terutama di segmen kendaran bermotor roda dua. Karena, kalau kita lihat profil konsumen kendaraan ini, mayoritas adalah segmen yang sensitif terhadap kontraksi ekonomi atau rentan dari dampak gejolak ekonomi. Apalagi, kan di outlook indikator perekonomian kuartal III itu sektor rumah tangga -3% hingga 1,5%,” kata pengamat industri Eternity Marketing Ressearch Specialist, Haryajid Widianto, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Ilustrasi, peluncuran All New Yamaha XSR 155 di Indonesia – dok.Motoris

Resesi bakal menyebabkan suplai barang bakal turun drastis, meski tingkat permintaan tetap. Walhasil, letupan inflasi pun terjadi atau harga barang menjadi mahal. Kondisi ini semakin menggerus daya beli masyarakat.

Tantangan kian berat
Menurut Haryajid, penjualan sepeda motor di Tanah Air menghadapi tantangan semakin berat di sisa empat bulan pada tahun ini (terhitung dari September hingga Desember). Walhasil, penjualan bisa melorot lebih dalam dari penurunan yang terjadi hingga saat ini.

Data yang diberikan kolega Motoris di Kementerian Perindustrian menunjukkan, sepanjang Januari – Juli tahun ini, total penjualan sepeda motor di Tanah Air tercatat baru sebanyak 2.178.694 unit. Jumlah itu anjlok 42% dibanding penjualan di periode sama tahun 2019 yang masih sebanyak 3.753.271 unit.

Dengan jumlah 2.178.694 unit selama tujuh bulan pertama itu, artinya saban bulan penjualan yang dibukukan rata-rata hanya 311.242 unit. Padahal, di tahun lalu total penjualan 6.487.460 unit, sehingga penjualan rata-rata per bulan mencapai 540.622 unit.

Ilustrasi, Suzuki NEX II, – dok.Motoris

“Jadi, taruhlah diproyeksi penjualan sampai akhir tahun nanti turun 40% atau hanya 3,9 juta unit, maka dalam lima bulan (dari Juli sampai Desember, berdasar data yang tersaji di Kementerian hingga bulan Juli) penjualan rata-rata setiap bulannya harus 861.753 unit. Jadi, perlu upaya yang benar-benar ekstra untuk mencapainya. Apalagi di saat kondisi seperti ini. Kalau enggak, semakin ngeri,” ungkap sang kolega yang dihubungi di Jakarta, Selasa (22/9.2020) petang.

Sementara itu, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, Sigit Kumala, dalam diskusi virtual bertajuk The 2nd Series Industry Roundtable (Episode 6) – Automotive Industry Perspective di Jakarta, Selasa (22/9/2020), mengakui industri sepeda motor tak bisa menghindar dari dampak pandemi Covid-19. Rekam jejak penjualan menunjukkan, kinerja melorot sejak April dan kembali sedikit meningkat di Juni, tetapi belum mampu pulih seperti sebelum Covid-19.

Rinciannya, Januari penjualan masih sebanyak 462.984 unit, Februari 545.741 unit, Maret 561.739 unit, dan April anjlok menjadi 123.782 unit, Mei menukik tajam menjadi 21.851 unit, Juni sedikit naik menjadi 167.992 unit, dan Juli kembali naik 292.205 unit. “Kami tidak bisa menghindar.Di tahun 2020 ini, kami terdampak dari Covid-19. Sehingga year to date Juli (januari sampai Juli, penjualan) hanya mencapai 2,1 juta (unit motor), pasar terkoreksi -42% dibandingkan periode yang sama (tahun) 2019,” ujar Sigit.

Ilustrasi, Kawasaki W175 Cafe Racer, yang merupakan salah satu andalan Pt Kawasaki Motor Indonesia di segmen pasar motor sport – dok.Motoris

Menurut dia, industri kendaraan bermotor roda dua harus terus bertahan di tengah tekanan karena industri ini melibatkan 1,5 juta orang pekerja. Mereka berada di sektor-sektor yang berada di dalam supply chain (mata rantai pasok) otomotif baik di tier pertama hingga tier tiga.

Seperti diketahui ekonomi selama kuartal pertama tahun ini masih positif 2,97%, namun di kuartal kedua -5,32%. 
Secara teknikal, jika dalam dua kuartal berturut-turut ekonomi negatif atau terkontraksi maka perekonomian mengalami resesi. (Sut/Fat/Fer/ Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This