Ngotot Usulkan Pajak Mobil 0%, Ini Alasan Kemenperin

Ngotot Usulkan Pajak Mobil 0%, Ini Alasan Kemenperin
Ilustrasi, pajak mobil - dok.Istimewa via takape.id

Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan relaksasi pajak bagi sektor otomotif terutama perpajakan hingga Desember nanti.Upaya itu disebut tak hanya berdampak bagi industri di dalam negeri tetapi juga berpengaruh terhadap peran Indonesia di luar negeri.

Perpajakan yang diusulkan untuk direlaksasi tak hanya Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi 0%, tetapi juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Bea Balik Nama (BBN), Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) hingga pajak progresif. Dengan keringanan pajak tersebut diharapkan daya beli naik dan permintaan terjadi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan dengan mengalirnya permintaan maka detak nadi produksi industri otomotif masih terjadi terjaga. Jika produksi dan permintaan industri masih berlangsung, permintaan pasar ekspor atau luar negeri pun bisa dipenuhi.

Ilustrasi, usher Wuling Motors di GIIAS 2019 – dok.Motoris

“Dengan relaksasi pajak ini, paling tidak kita bisa memberikan upaya baru dalam membuka demand di masyarakat. Dengan demand yang terjadi itu, selanjutnya kita dapat meningkatkan utilisasi industri baik untuk men-suplai dalam negeri maupun pasar luar negeri. Kita saat ini mempunyai 80 pasar ekpor yang harus dijaga agar tidak diambil oleh negara lain,” papar Taufiek dalam webinar bertajuk Prospek Pemulihan Ekonomi Sektor Industri Otomotif Nasional, yang digelar di Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Taufiek menegaskan, industri otomotif menyerap 1,5 juta tenaga kerja dan industri pendukung skala industri kecil. Oleh karena, jika permintaan terjadi, maka upaya menggerakan industri melalui masyarakat itu juga akan menyelamatkan sektor-sektor pendukung.

Relaksasi pajak – yang diusulkan hanya sementara, sampai Desember tahun ini – berlaku untuk kendaraan bermotor roda empat baik untuk penumpang maupun niaga atau komersial. (Fat/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This