Naik 25,5% di September, Penjualan Truk Sembilan Bulan Masih Ambrol 49%

Naik 25,5% di September, Penjualan Truk Sembilan Bulan Masih Ambrol 49%
Ilustrasi, truk ringan Hino - dok.Motoris

Jakarta, Motoris -.Penjualan truk ke konsumen (ritel) maupun dari pabrik Agen Pemegang Merek (APM) ke diler atau secara wholesales di Indonesia sepanjang September lalu naik dibanding penjualan bulan sebelumnya. Truk kategori ringan (bobot 5 – 10 ton) mendominasi penjualan di bulan itu maupun kumulatif selama Januari hingga September.

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan ritel pada September 2020 mencapai 3.778 unit atau naik 25,5% dibanding penjualan di bulan sebelumnya yang sebanyak 3.011 unit. Namun, penjualan ritel sepanjang bulan kesembilan itu masih ambrol 56% dibanding penjualan pada September 2019 yang masih sebanyak 8.562 unit.

Sementara, whosales selama September tercatat sebanyak 3.920 unit, tumbuh 26% dibanding wholesales selama bulan Agustus yang sebanyak 3.115 unit. Wholesales truk pada September ini merupakan rebound yang cukup tinggi, karena sepanjang Agustus penjualan turun 0,9% dibanding Juli.

Ilustrasi, truk Mitsubishi Fuso Fighter – dok.Istimewa

“Kenaikan penjualan terbesar terjadi segmen truk ringan dengan bobot 5-10 ton. Truk-truk ini umumnya digunakan untuk bisnis angkutan barang kebutuhan pokok, jasa distribusi, dan logistik yang hingga kini masih tumbuh. Sedangkan, truk-truk menengah dan berat masih ada demand dari sektor tambang dan konstruksi,” ujar pengamat pasar kendaraan komersial dari Eternity Marketing Ressearch Specialist, Ujang Sugiarto, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (21/10/2020).

Hanya memang, secara kumulatif dari Januari hingga September penjualan ritel truk masih ambrol 49% dibanding kurun waktu yang sama di tahun 2019 lalu. Tahun ini penjualan ritel hanya sebanyak 33.142 unit, sedangkan tahun lalu mencapai 65.466 unit.

Salah satu jenis truk yang dipasarkan Isuzu Astra Motor Indonesia yakni Isuzu Elf NMR 80SHD saat diperkenakan di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Faktor ekonomi yang terdampak Covid-19
Penurunan penjualan, kata Ujang, dialami oleh semua merek. Sedangkan tren penurunan penjualan ritel terjadi mulai bulan Maret, Penjualan kembali di tren kenaikan atau rebound pada Juli hingga September.

Fakta berbicara, sepanjang Januari penjualan ritel masih sebanyak 5.778 unit. Kemudian di Februari naik menjadi 6.412 unit. Bulan Maret – ketika Indonesia dinyatakan secara resmi berada dalam status tanggap darurat bencana wabah Covid-19 atau virus corona – penjualan ambles menjadi 4.683 unit.

Penjualan kembali ambles – bahkan sangat dalam – pada bulan April, yakni hanya 2.098 unit setelah sejumlah daerah memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan di bulan Mei, penjualan ritel kembali terperosok dalam sehingga hanya 1.639 unit.

Ilustrasi, truk Scania buatan Scania dan Mercedes-Benz yang dipasarkan di Indonesia – dok.Motoris

Keadaan mulai berbalik pada Juni, dimana penjualan naik menjadi 2.704 unit. Pertumbuhan berlanjut di bulan Juli yang sebanyak 3.039 unit, tetapi Agustus terpeleset 0,9% menjadi 3.011 unit, meski demikian di September penjualan kembali menanjak menjadi 3.778 unit.

“Tetapi, secara umum sembilan bulan tahun ini masih jauh di bawah penjualan yang dibukukan selama Januari – September 2019, faktor pertumbuhan ekonomi kita yang loyo terkena dampak Covid-19 menjadi penyebabnya,” jelas Ujang.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan kuartalan yang disampaikan ke publik, Rabu (5/8/2020) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II (April – Juni) tahun ini -5,32%. Sebelumnya, selama kuartal pertama ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,97%.

Ilustrasi, salah satu varian UD Trucks – dok.Motoris

Adapun di kuartal ketiga, atau di Juli – September, Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu saat menyampaikan outlook ekonomi Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia berkontrkasi di kisaran -2,9% hingga -1,1%. (Fer/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This