Pabrikan Eropa Hentikan Produksi Truk Diesel Mulai 2040

Pabrikan Eropa Hentikan Produksi Truk Diesel Mulai 2040
Ilustrasi, truk Mercedes-Benz Axor - dok.Motoris

Brussels, Motoris – Sejumlah produsen truk kondang di Eropa – yakni Daimler, Scania, MAN, Volvo, Daf, dan Iveco – telah bersepakat meghentikan produksi dan penjualan truk bermesin dengan bahan bakar fosil atau truk diesel pada tahun 2040 nanti. Sebagi gantinya, merek akan menggelontorkan truk berbahan bakar hidrogen, listrik baterai, serta berbahan bakar bersih atau energi terbarukan lainnya.

Seperti dilaporkan The Financial Times dan Transport Engineer, Jumat (18/12/2020) lalu, pernyataan itu ditegaskan oleh produsen truk melalui Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA). Organisasi tersebut menegaskan kesepakatan dibuat demi mewujudkan target netral karbon (carbon neutrality) industri di Eropa pada tahun 2050 nanti.

Untuk itu, para produsen itu akan patungan merogoh kocek dan menggelontorkan sebagai investasi anyar. Total dana yang mereka keluarkan mencapai 50 miliar hingga 100 miliar euro, yakni untuk mengadopsi tekanologi baru seiring dengan perubahan produk yang bakal mereka hasilkan.

Target mendekarbonisasi industri angkutan truk Eropa akan layak, bunyi pernyataan ACEA, jika infrastruktur pengisian daya listrik atau bahan bakar yang tepat dibangun. Selain itu kebijakan yang diberlakukan di wilayah Eropa maupun di luar wilayah itu juga mendukung.

Ilustrasi, Truk MAN TGX yang digunakan oleh perusahaan logistik Abacus – dok.MAN Truck & Buses Press Newsroom

“Kesepakatan ini sangat penting dan harus diterapkan secara bersamaan agar dekarbonisasi sektor ini berjalan efektif. Karena perubahan iklim merupakan tantangan paling mendasar dari generasi kita,” tutur Ketua Bidang Kendaraan Komersial ACE, Henrik Henriksson.

Pria yang juga Chief Executive Officer (CEO) Scania AB itu menyebut pandemi Covid-19 yang merupakan wabah ganas telah membuktikan betapa pentingnya peran angkutan logistik dalam memberi kepastian tersedianya makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya yang dibutuhkan masyarakat. Pada sisi lain, target untuk membuat lingkungan yang bersih dengan tingkat emisi gas rumah kaca juga harus diwujudkan demi keselamatan dan keseimbangan ekologi mahkluk hidup di bumi.

“Jika angkutan jalan barang ingin mempertahankan perannya dalam melayani masyarakat, kita perlu beralih dari bahan bakar fosil secepat mungkin. Tapi kita tidak bisa melakukannya sendiri; kami membutuhkan pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dengan kami,” tandas Henriksson.

Ilustrasi, truk Scania buatan Scania dan Mercedes-Benz yang dipasarkan di Indonesia – dok.Motoris

Seperti diketahui Uni Eropa tahun ini mengurangi emisi CO2 hingga 50%. Bahkan, pemerintah Inggris pada pertengahan November kemarin telah menetapkan kebijakan untuk penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal mulai tahun 2030.

Kebijakan yang sama ditetapkan oleh pemerintah Jepang, yakni akan menyetop penjualan kendaraan konvensional pada tahun 2030. Sedangkan Cina – seperti ditegaskan Presiden Xi Jin Ping- menargetkan negerinya bebas karbon (netral karbon) pada tahun 2050.(Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This