Mulai Hari Ini Ekspor Mobil ke Filipina Dikenai Tarif, RI akan All Out Berkelit

Mulai Hari Ini Ekspor Mobil ke Filipina Dikenai Tarif, RI akan All Out Berkelit
Suzuki All New Ertiga, salah satu mobil Suzuki yang diproduksi di Indonesia dan diekspor ke Filipina - dok.PT SIS

Jakarta, Motoris – Pemerintah Filipina melalui Departemen Perdagangan dan Industri (DTI) mulai Rabu (13/1.2021) ini hingga 200 hari mendatang memberlakukan safeguard measures berupa pengenaan tarif Bea Masuk Tindakan Pengamanan Perdagangan Sementara (BMTPs) untuk impor mobil. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri mereka yang dinilai terus menyusut akibat serbuan produk impor.

Seperti dilaporkan laman The Inquirer dan Manila Bulletin, Selasa (5/1/2021) penerapan BMTPs itu langsung diungkapkan Menteri Perdagangan dan Industri Ramon Lopez. Dengan dasar kebijakan itu, pemerintah Filipina mengenakan bea masuk sementara berupa uang jaminan sebesar 70.000 peso atau sekitar Rp 20,26 juta (kurs 1 peso Filipina = Rp 289,4) untuk setiap satu unit mobil penumpang yang diimpor. Sedangkan untuk kendaraan komersial ringan (LCV) dikenai bea 110.000 peso atau sekitar Rp 31,8 juta.

“Dengan mengenakan bea masuk mobil impor ini, untuk melindungi pekerja di pabrik perakitan dan manufaktur. Tindakan ini bermaksud baik di tengah industri dalam negeri yang tengah berjuang untuk melakukan pemulihan akibat pandemi dan terus menurunnya produktifitas,” bunyi pernyataan DTI Filipina.

Adanya ketentuan ini dipastikan bakal mengancam kinerja ekspor mobil Indonesia ke Filipina. Terlebih, bagi Indonesia, negeri itu merupakan salah satu pasar tujuan ekspor terbesar.

Ilustrasi, ekspor Mitsubishi Xpander ke Filipina – dok.Istimewa

“Selama ini Filipina merupakan salah satu negara tujuan ekspor dengan volume yang besar.Sehingga, kalau ada hambatan tarif atau lainnya, tentu akan berpengaruh ke kinerja ekspor kita. Apakah impor dari kita memang benar-benar mengganggu industri dalam negeri, kami tidak tahu persis. Tetapi, ini perlu kita bahas bersama dengan pemerintah untuk dicari solusi yang win-win dengan Filipina,” papar Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/1/2021).

Senada dengan Nangoi, Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Pradnyawati mengatakan saat ini pemerintah Indonesia secara intensif melakukan penyelidikan dan kajian untuk melihat secara jernih persoalan itu. Pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan tengah menyusun rencana pembelaan atas tudingan ekspor yang dilakukan Indonesia merugikan industri Filipina.

“Pemerintah bersama kalangan industri dan eksportir kendaraan bermotor di Indonesia akan meminta kepada pemerintah Filipina untuk konsultasi khusus terkait kebijakan itu. Kami juga akan lakukan public hearing di sana, pada awal Februari nanti. Intinya kami akan all out, jika perlu hingga ke WTO (World Trade Organization) untuk menyampaikan keberatan atas kebijakan tersebut,” papar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/1/2021).

Ilustrasi, Honda Brio yang diekspor oleh PT Honda Prospect Motor. Salah satu tujuan ekspor adalah Filipina – dok.HPM

Data yang dihimpun Gaikindo menunjukkan, sepanjang Januari – November 2020 lalu, total ekspor mobil penumpang dan kendaraan komersial ringan dalam wujud utuh (CBU) Indonesia mencapai 206.685 unit.

Jumlah tersebut anjlok 32,6% dibanding ekspor yang dicatatkan selama periode sama tahun 2019 yang masih sebanyak 306.901 unit. Negara tujuan ekspor terbesar di tahun 2020 adalah Filipina.

Ada lima besar pabrikan atau merek dari RI yang mengekspor kendaraan produksinya ke Filipina. Mereka adalah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi Motors, Suzuki, serta Isuzu. Selain itu, Wuling dan Hyundai.

Kinerja industri Filipina
Fakta menunjukkan hal itu. Seperti dilansir Business World, Kamis (7/1/2021), DTI menyebut di rentang tahun 2014 – 2018 impor mobil penumpang Filipina rata-rata naik 35%. Pada kurun waktu yang sama, total impor kendaraan komersial ringan (LCV) – termasuk low pickup dan truk ringan – terus menanjak, jika di tahun 2014 masih sebanyak 17.273 unit pada 2018 telah menjadi 51.969 unit.

Ilustrasi, proses produksi mobil di Filipina – dok.CarGuide.PH

Sedangkan data yang dihimpun Asean Automotive Federation (AAF) menunjukkan, di sepanjang Januari hingga Oktober 2020 lalu, total mobil (penumpang dan komersial) yang diproduksi di lokal Thailand hanya 55.000 unit. Jumlah itu setara hanya 2,5% dari total produksi mobil di seluruh wilayah Asia Tenggara yang sebanyak 2,22 juta unit.

Padahal, pada rentang waktu yang sama, total penjualan mobil (termasuk kendaraan komersial) di Negeri Pisang ini tercatat sebanyak 173.035 unit (turun 42,7% dibanding penjualan selama periode sama 2019). Artinya, jumlah mobil yang berasal dari luar negeri sekitar 70% lebih. (Fat/Mus/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This