Ekspor Diganjal Filipina, Menperin: Bukti Industri Mobil RI Lebih Bersaing

Ekspor Diganjal Filipina, Menperin: Bukti Industri Mobil RI Lebih Bersaing
Toyota Agya, salah satu mobil Toyota yang diekspor ke Filipina - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Terhitung mulai hari ini, Rabu (13/1/2021) Filipina menerapkan kebijakan pembatasan impor mobil dari berbagai negara – termasuk Indonesia – dengan pengenaan tarif dalam kerangka safeguard measures berupa pengenaan tarif Bea Masuk Tindakan Pengamanan Perdagangan Sementara (BMTPs). Kebijakan ini diberlakukan setelah industri lokal Negeri Pisang itu dirasakan mulai kocar-kacir akibat serbuan mobil impor.

“Dengan mengenakan bea masuk mobil impor ini, untuk melindungi pekerja di pabrik perakitan dan manufaktur. Tindakan ini bermaksud baik di tengah industri dalam negeri yang tengah berjuang untuk melakukan pemulihan akibat pandemi dan terus menurunnya produktifitas,” ujar Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Ramon Lopez dalam keterangan resmi yang dilansir laman The Inquirer dan Manila Bulletin, Selasa (5/1/2021) lalu.

Data yang dihimpun Departemen Perdagangan dan Industri (DTI) Filipina yang dikutip Business World, Kamis (7/1/2021), DTI menyebut di rentang tahun 2014 – 2018 impor mobil penumpang Filipina rata-rata naik 35%. Pada kurun waktu yang sama, total impor kendaraan komersial ringan (LCV) – termasuk low pickup dan truk ringan – terus menanjak, jika di tahun 2014 masih sebanyak 17.273 unit pada 2018 telah menjadi 51.969 unit.

Ilustrasi, kendaraan komersial ringan Suzuki Carry. Kendaraan komersial ini juga dikespor ke berbagai negara. Salah satunya Filipina- dok.Motoris

Sementara, data yang dirilis Asean Automotive Federation (AAF) menunjukkan, di sepanjang Januari hingga Oktober 2020 lalu, total mobil (penumpang dan komersial) yang diproduksi di lokal Thailand hanya 55.000 unit. Jumlah itu setara hanya 2,5% dari total produksi mobil di seluruh wilayah Asia Tenggara yang sebanyak 2,22 juta unit.

Padahal, pada rentang waktu yang sama, total penjualan mobil (termasuk kendaraan komersial) di Negeri Pisang ini tercatat sebanyak 173.035 unit (turun 42,7% dibanding penjualan selama periode sama 2019). Artinya, jumlah mobil yang berasal dari luar negeri sekitar 70% lebih.

Menanggapi berlakunya kebijakan ini, Menteri Perdagangan RI, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa hambatan yang diberlakukan oleh Filipina itu membuktikan daya saing industri otomotif Indonesia lebih tinggi. “Penerapan safeguard tersebut menunjukkan bahwa Industri otomotif Indonesia berdaya saing di atas Filipina,” kata Agus dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Ilustrasi, Honda Brio yang diekspor oleh PT Honda Prospect Motor. Salah satu tujuan ekspor adalah Filipina – dok.HPM

Dia menyebut sepanjang tahun 2019 saja, jumlah produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih di Indonesia mencapai 1.286.848 unit. Jumlah ini jauh di atas angka produksi yang dibukukan Filipina pada tahun yang sama, yakni sebanyak 95,094 unit.

Konsekwensi di WTO
Agus juga mengatakan, penerapan safeguard oleh Filipina itu memiliki konsekwensi di internasional khususnya di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). “Filipina harus membuktikan bahwa memang terjadi tekanan pada industri otomotif dalam negerinya akibat impor produk sejenis dari Indonesia, sehingga perlu mengambil kebijakan penerapan safeguard bagi produk impor dari Indonesia,” papar dia.

Melalui BMTPs itu Filipina mengenakan bea masuk sementara berupa uang jaminan sebesar 70.000 peso atau sekitar Rp 20,26 juta (kurs 1 peso Filipina = Rp 289,4) untuk setiap satu unit mobil penumpang yang diimpor. Sedangkan untuk kendaraan komersial ringan (LCV) dikenai bea 110.000 peso atau sekitar Rp 31,8 juta.

Kebijakan penerapan tarif ini berlaku selama 200 hari ke depan. Atau selama enam bulan lebih. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menyebut kebijakan itu bakal berdampak ke ekspor Indonesia.

Mitsubishi Xpander, salah satu mobil yang diekspor Mitsubishi Indonesia ke Filipina – dok.Istimewa

“Karena selama ini, Filipina merupakan salah satu pasar tujuan ekspor terbesar kendaraan bermotor roda empat atau lebih dari Indonesia,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/1/2021).

Data yang dihimpun Gaikindo menunjukkan, sepanjang Januari – November 2020 lalu, total ekspor mobil penumpang dan kendaraan komersial ringan dalam wujud utuh (CBU) Indonesia mencapai 206.685 unit.
Jumlah tersebut anjlok 32,6% dibanding ekspor yang dicatatkan selama periode sama tahun 2019 yang masih sebanyak 306.901 unit.

Kendaraan tersebut diekspor oleh Toyota, Daihatsu, Mitsubishi Motors, Suzuki, serta Isuzu. Selain itu oleh Wuling dan Hyundai. (Fat/Mus/Fer/Sut/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This