Jadi Pasar Mobil Terbesar Sejagat, Pasar Mobkas di Cina Tak Menggeliat

Ilustrasi, mobil Toyota yang dijual di Cina – dok.Carnew2018.com


Beijing, Motoris – Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 miliar jiwa lebih dengan pertubuhan ekonomi yang tinggi, Republik Rakyat Cina (Cina) menjadi tempat berjualan – bagi produsen mobil – yang menjanjikan. Saban tahun puluhan juta unit mobil baru terjual di negeri ini.

Seperti dilaporkan Bloomberg dan Sino Auto belum lama ini, sepanjang tahun 2019 lalu saja penjualan mobil baru di Cina mencapai 25,77 juta unit. Bahkan populasi mobil yang berseliweran di jalan Negeri Tirai Bambu itu tercatat sebanyak 270 juta unit.

Namun, meski banyak mobil baru yang terjual dan jumlah mobil yang telah digunakan mencapai ratusan juta unit, tetapi penjualan mobil bekas hingga tahun itu hanya 15 juta unit. Kondisi ini sangat kontras dengan yang ada di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia dimana banyak orang yang membeli mobil bekas ketimbang model baru.

Ilustrasi, pengunjung pameran mobil di Wuhan, Hubei, Cina – dok.Xinhuanet

Menurut Asosiasi Dealer Mobil China (CADA) ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar mobil bekas (Mobkas) di negara itu tak berkembang. Pertama, pasar mobil pribadi – secara keseluruhan yakni mobil baru – masih berusia muda yakni baru meningkat pesat mulai pada awal tahun 2000-an.

Kepemilikan mobil – di negara yang masih menganut sistem komunis ini – masih tertinggal dibanding negara-negara lain. Rasio kepemilikan mobil (di tahun 2019) masih 173 unit dalam 1.000 orang penduduk.

Jumlah ini jauh lebih kecil dibanding di Malaysia yang mencapai 433 unit atau Rusia yang sebanyak 373 unit. Bahkan, hasil laporan lembaga riset McKinsey & Co menunjukkan, rasio kepemilikan mobil di Cina jauh tertinggal dari Amerika Serikat dan Australia yang masing-masing mencapai 837 unit dan 747 unit.

Ilustrasi, produksi mobil di Cina – dok.Financial Times

“Oleh karena itu, banyak masyarakat di Cina yang lebih suka membeli mobil baru ketimbang mobil bekas,” bunyi penjelasan McKinsey.

Faktor budaya
Faktor kedua adalah budaya. Bagi sebagian besar masyarakat Cina membeli mobil baru berkaitan dengan gengsi atau status sosial dan ekonomi individu maupun keluarga.

Sehingga, membeli mobil bekas dinilai mencerminkan kemampuan ekonomi dan sosial seseorang. Meski, cara berpikir seperti itu mulai berubah sejak beberapa tahun terakhir.

Kini pemerintah Cina berupaya untuk memacu segmen pasar mobil bekas untuk memacu pertumbuhan konsumsi domestik. Walhasil, pertumbuhan ekonomi nasional pun bisa menggelembung lebih besar lagi.

Ilustrasi, suasana di sebuah diler mobil di Cina – dok,Bloomberg

Caranya, pemerintah akan memangkas pajak bagi mobkas dari sebelumnya yang sebesar 3% menjadi 0,5%. Besaran pajak ini jauh di bawah pajak untuk mobil baru yang sebesar 17%.

Selain itu, proses tukar tambah mobil bekas dengan mobil baru juga didorong jauh lebih mudah. Khususnya dalam hal balik nama dan mendapatkan pelat nomor baru. Maklum, untuk mendapatkan pelat nomor kendaraan di Cina juga cukup mahal.

“Bisnis perdagangan mobil bekas akan memasuki babak baru. Kami akan melihat lebih banyak kebijakan positif di bidang ini,” ujar Sekretaris Jenderal CADA, Xiao Zhengsan.

Ilustrasi, Tesla Model 5 di Cina – dok.The Detroit Bureau

Lebih dari itu, pemerintah menargetkan pasar mobkas menjadi sekitar 2 triliun yuan (atau sekitar US$ 306 miliar) pada tahun 2025 nanti. Hal ini diharapkan banyak orang memnjual atau menukar mobilnya dengan mobil baru yang lebih ramah lingkungan atau mobil elektrifikasi alias mobil listrik.

Sementara, mobkas yang tak laku di dalam negeri, akan diekspor ke berbagai negara. Dan itu sudah mulai dirintis Cina pada tahun 2019 lalu, ke Azerbaijan, Bangladesh, dan Tajikistan.

Bahkan ke negara-negara mitra dagang yang pasar mobilnya kurang kompetitif dan berkembang.(Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This