PPnBM 0%: Ini Mobil Merek Jepang, Korea, dan Cina di RI yang Bakal Gigit Jari

Ilustrasi, Suzuki New Baleno – dok.Motoris


Jakarta, Motoris – Patyung hukum atau peraturan dasar kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga 100% alias tarif PPnBM menjadi 0% untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat (mobil) dipastikan segera terbit, dan berlaku efektif mulai awal Maret. Sejumlah pertanyaan pun mencuat di masyarakat khususnya mobil apa saja dan buatan merek mana saja yang bakal mendapatkannya.

“Soal Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai dasar pelaksanaan relaksasi perpajakan itu (PPnBM) itu, sekarang on process yang sudah tahap final. Sebentar lagi akan diterbitkan,” ujar Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo, saat dihubungi di Jakarta, Senin (22/2/2021).

Yustinus kembali menegaskan bahwa kebijakan relaksaski PPnBM sehingga tarifnya menjadi 0% (berlaku Maret hingga Mei), kemudian 50% berlaku Juni – Agustus, dan 25% yang diberikan periode September – November tahun 2021 ini, berlaku bagi mobil yang diproduksi di dalam negeri. Konten atau kandungan komponen lokalnya harus minimal 70%.

Ilustrasi, Mazda 2 versi kini yang masih dijual di Eropa – dok.Autocar

Mobil tersebut bermesin dengan kubikasi 1.500 cc ke bawah. Dengan demikian, tidak semua mobil yang bermesin 1.500 cc ke bawah dan dibuat di dalam negeri sekali pun akan mendapatkan fasilitas ini.

“Karena kebijakan ini diberikan selain untuk mengakselerasi pertumbuhan penjualan juga menjadi trigger bagi industri (mobil) di Indonesia, sehingga kapasitas produksi juga meningkat. Berikut supplay chain-nya yaitu industri komponen pendukung,” ujar dia.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menyebut, sejatinya kalangan industri menginginkan syarat yang lebih longgar yakni semua mobil berkubikasi 1.500 cc ke bawah buatan dalam negeri mendapatkannya.

Ilustrasi, Daihatsu Sirion facelift – dok.Istimewa

“Tetapi kan itu kewenangan pemerintah. Dan tentu pemerintah mempunyai tujuan yang bagus bagi industri nasional. Ya kita mengikuti saja lah,” ucap dia saat dihubungi di Jakarta, Senin (22/2/2021).

Jongkie menyebut, PPnBM merupakan salah satu dari komponen perpajakan yang ada di dalam penjualan mobil. Sebab selain PPnBM, juga ada Pajaka Pertambahan Nilai (PPN) yang sebesar 10%, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang besarannya tergantung kebijakan daerah dan kini rata-rata 10% – 12,5%.

“Selain itu ada pajak kendaraan bermotor (PKB) yang dipungut tahunan sebesar 2%. Jadi, yang perlu diketahui adalah, informasi pajak 0% itu hanya PPnBM saja ya, dan itu berlaku tiga bulan (Maret hingga Mei). Dan untuk medapatkannya ada syarat-syarat bermesin 1.500 cc ke bawah, dipoduksi dalam negeri dengan kandungan lokal minimal 70%,” tandas Jongkie.

Ketua I Gakindo, Jongkie Sugiarto – dok.Istimewa

Gigit jari
Melihat ketentuan yang menjadi syarat itu, Jongkie mengaku ada beberapa mobil dari sejumlah merek yang dibuat di dalam negeri dan bermesin 1.500 cc atau kurang, tetapi bakal tak mendapatkannya. “Alasannya yak arena kandungan komponen lokalnya kurang dari 70%. Tetapi saya enggak hafal mobil-mobil mana saja,” ucap dia.

Sementara, kolega Motoris di Kementerian Perindustrian mengatakan, pihaknya sudah mengindentifikasi mobil yang memenuhi syarat kubikasi mesin, namun tidak untuk akan mendapatkan fasilitas relaksasi PPnBM itu. “Ada sejumlah mobil dari beberapa merek yang (bermesin) di bawah 1.500, tetapi tidak bisa (mendapatkan),” kata dia saat dihubungi di Jakarta, Senin (22/2/2021).

Ilustrasi, Suzuki New Ignis atau Suzuki Ignis faceift yang dipasarkan di Indonesia sejak 9 April 2020 – dok.PT SIS

Alasan pertama, mobil-mobil itu masih diimpor secara utuh dari luar negeri. Kedua kandungan lokal yang masih jauh di bawah ketentuan minimal 70%.

Bahkan mobil-mobil seperti itu ada di merek Jepang, Republik Rakyat Cina (Cina), yang telah diproduksi di Tanah Air. Di antara mobil itu, kata sang kolega, adalah Suzuki Ignis, hatchback Suzuki Baleno, dan crossover Suzuki SX4 S-Cross yang didatangkan secara utuh (CBU) dari India.

Kemudian Daihatsu Sirionyang diimpor secara utuh dari Malaysia. Lalu, Mazda 2, dan Mitsubishi Eclipse Cross.

Ilustrasi, Wuling Cortez CT Tipe S – dok.Motoris

Sementara mobil merek asal Cina – yang meskipun sudah diproduksi di dalam negeri – namun belum memenuhi syarat kandungan lokal minimal 70% juga tak bakal bisa memanfaatkan fasiitas tersebut. Mereka adalah DFSK Glory (baik 580 maupun 560) yang disebut kandungan lokalnya masih berkisar 20% – 30%.

“Begitu pula Wuling Confero yang masih kurang lebih 60%, Wuling Cortez yang masih 47% dan Wuling Almaz yang berkandungan lokal sekitar 43,5%,” imbuh dia.

Sedangkan mobil merek Korea Selatan yakni Kia yang tak mendapatkan fasilitas PPnBM 0% maupun 50% dan 25% adalah Kia Piacnto dan SUV Kia Seltos. Meski keduanya memiliki mesin yang memenuhi syarat di kebijakan itu, namun mereka masih diimpor secara utuh. (Fan/Ril/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This