RI Obral PPnBM, Leasing di Thailand Jor-joran Salurkan Kredit Mobil

Ilustrasi, pameran Bangkok Auto Show 2020 – dok.News18.com


Bangkok, Motoris – Seperti halnya Indonesia yang memacu penjualan – setelah di tahun 2020 lalu penjualan dan produksi mobil ambrol – Thailand juga melakukan serangkaian langkah pemantik pembelian mobil oleh masyarakat.

Jika di Indonesia pemerintah memberikan insentif berupa pemangkasan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan mendorong bank maupun leasing memberikan uang muka (DP) 0%, di Thailand juga dilakukan langkah serupa.

‘Seperti dilaporkan Bangkok Post, Senin (1/3/2021), sepanjang tahun 2020 lalu total penjualan mobil di Negeri Gajah Putih itu hanya 710.000 unit alias ambrol 30% – 31%. Dan tahun ini Federasi Industri Thailand (FTI) mematok target penjualan harus mencapai 800.000 – 810.000 unit.

Ilustrasi, gadis usher di Bangkok International Motor Show – dok.9tro.com

“Sejumlah lembaga penyedia kredit (leasing) – baik bank maupun non bank – terkemuka (di Thailand) menetapkan target pertumbuhan (penyaluran kredit) sejalan dengan target peningkatan penjualan mobil di tahun ini,” bunyi pernyataan FTI seperti dilansir Bangkok Post dan Bangkok Times, Senin (1/3/2021).

Bahkan Krungsri Auto – unit kredit mobil di Bank Ayudhya, dan Bank Kiatnakin Phatra – menyebut persaingan lembaga keuangan penyalur kredit mobil semakin ketat di tahun ini. Keduanya mematok target penyaluran kredit, masing-masing 5%.

Sementara lembaga penyalur kredit lainnya, yakni Tisco Bank mengaku telah mengerek portofolio kredit hingga 2% – 3%. Bahkan, bank ini memberikan layanan yang agresif dengan menggandeng unit-unit layanan masyarakat seperti kantor pos di semua wilayah untuk melayani kredit mobil.

Ilustrasi, proses produksi mobil Mazda di Jepang – dok.Istimewa via Nikkei

RI relaksasi pajak
Sementara di Indonesia relaksasi pajak – khususnya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga tarifnya menjadi 0% – telah dimulai 1 Maret kemarin. Pemangkasan tarif PPnBM secara bertahap (Maret – Mei menjadi 0%, Juni – Agustus menjadi 50%, dan September – Desember 25%) itu ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 20/PMK.010/2021

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto mengatakan, stimulus diberikan untuk mendorong konsumsi dan peningkatan utilitas industri otomotif.

Pasalnya, kata dia, tahun lalu sektor otomotif turun tajam hampir 50%. Industri mesin beserta perlengkapannya dari 80,5% jadi 40% dan kendaraan bermotor dari 80,8% menjadi 40%.

Ilustrasi, kredit mobil – dok.Istimewa via LendingArch

“SepanjangtTahun 2020 terjadi penurunan penjualan. Penjualan sepeda motor turun sebesar 43,57%, mobil turun 48,35%, dan suku cadang minus 23%,” papar dia dalam konferensi pers virtual yang digelar di Jakarta, Senin (1/2/2021).

Padahal, lanjut dia, industri manufaktur berkontribusi 19,88% terhadap produk domestik bruto. Secara khusus, pangsa industri alat angkutan menyumbang 1,35%. Namun, di tahun 2020 lalu, pertumbuhan sektor ini terkontraksi paling dalam, yaitu 19,86%.

Ilustrasi, Toyota Avanza – dok.PT TAM

“Oleh karena itu diperlukan stimulan, melalui relaksasi perpajakan ini. Selain itu BI (Bank Indonesia) telah mendorong lembaga keuangan untuk memberikan uang muka (DP) bagi kredit (otomotif) sebesar 0%,” ungkap mantan Menteri Perindustrian RI ini. (Sut/Fat/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This