Alasan di Balik Syarat TKDN Diskon PPnBM Mobil 2.500cc Minimal 60%

Ilustrasi, produksi mobil Toyota – dok.TMMIN


Jakarta, Motoris –Menteri Perindustrian memastikan perluasan relaksasi pajak berupa pemangkasan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) – untuk mobil bermesin 1.501cc hingga 2.500cc – mulai berlaku April nanti. Pemaprasan tarif PPnBM yang diberikan berkisar 12,5% hingga 50% yang diberlakukan dalam dua periode pada rentang waktu April hingga Desember.

Seperti disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, fasilitas relaksasi berupa diskon tarif PPnBM ini berlaku bagi mobil berpenggerak 4×2 maupun 4×4. “Potongan pajak akan diberikan kepada kendaraan bermotor roda empat dengan kapasitas tersebut dan segmen 4×2 serta 4×4,” ujar pria yang pernah menjabat menteri sosial itu dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Rabu (25/3/2021).

Namun, persyaratan lain yakni Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) – yang dalam hal ini dalam bentuk local purchase – berbeda dengan syarat untuk mendapatkan pemangkasan tarif PPnBM di kelompok mobil bermesin 1.500 cc ke bawah. Di kategori itu – yang mulai berlaku 1 Maret lalu berdasar Menteri Keuangan (PMK) Nomor 20/PMK.010/2021 – syarat local purchase minimal 70%.

Apakah penurunan ini benar-benar didasari niatan mengakomodir mobil dari berbagai merek dengan jumlah yang lebih banyak, ataukah hasil lobi-lobi maut pabrikan untuk menikmati insentif diskon pajak yang ditanggung oleh pemerintah itu?

Proses produksi mobil Toyota di pabrik TMMIN – dok.Mobil123.com

“Kami tidak melihat hal itu (lobi-lobi khusus). Tetapi, memang kalau dilihat dari tujuan awal yang disampaikan (pemerintah) adalah bagaimana memacu purchasing power dari masyarakat. Sehingga, akan banyak mobil yang terserap oleh konsumen,” ujar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat dihubungi di Jakarta, Kamias (25/3/2021).

Jika produk pabrikan (mobil) terserap oleh konsumen, lanjut Jongkie, maka permintaan pasokan dari pabrik juga akan meningkat. Seiring dengan meningkatnya pasokan produk, maka aktifitas produksi juga naik.

“Pada gilirannya, jika kegiatan produksi naik maka kapasitas terpasang industri kita juga naik. Karena saat ini, akibat pandemi Covid-19, darai kapasitas produksi terpasang yang 2,4 juta unit per tahun, baru terpakai 40% – 50%. Selain itu, supply chain juga akan berjalan karena permintaan komponen dari industri komponen lokal kita juga terjadi. Karena itu, soal besaran local puchasing itu, kita (Gaikindo) serahkan ke pemerintah,” kata dia.

Ilustrasi, pajak mobil – dok.Global Fleet

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Taufiek Bawazier, yang dihubungi di hari yang sama, juga mengungkapkan hal senada. Bahkan, dia memastikan angka local purchase 60% itu merupakan besaran yang sangat moderat.

Dengan batas minimal seperti itu, maka mobil-mobil yang bakal berhak mendapatkan diskon tarif PPnBM juga semakin banyak. Walhasil, bukan hanya industri pembuat mobil yang merasakannya, tetapi masyarakat juga mendapatkan ;pilihan yang beragam.

“Karena tujuan kita untuk menggairahkan pasar dengan mengungkit purchasing power masyarakat sehingga penjualan mobil meningkat juga akan tercapai, dan memacu roda pergerakan industri juga berlangsung. Ini murni pertimbangan demi memajukan industri kita dalam rangka menggerakan ekonomi nasional kita,” papar dia.

Ilustrasi, produk komponen otomotif – dok.Istimewa

Menperin Agus dalam keterangan resmi mengklaim, dari evaluasi yang dilakukan pihaknya program relaksasi PPnBM yang baru berlangsung 1 Maret lalu, telah menunjukkan hasil yang gemilang, meski belum sebulan berjalan. Hal itu terlihat dari melonajkanya pemesanan mobil.

“Hal ini juga berdampak positif karena dapat men-jumpstart perekonomian. Pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif akan memiliki multiplier effect bagi sektor industri lainnya,” ucap dia. (Sut/.Has/Don/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This