Hadang Pabrikan Cina, Isuzu dan Hino Sodorkan Truk Listrik di 2022

Truk ringan listrik Hino – dok.Car Watch


Tokyo, Motoris – Isuzu Motors dan Hino Motors terus membuat terobosan baru di produk kendaraan komersial di tengah tren menuju era elektrifikasi kendaraan, khususnya di segmen pasar bisnis jasa pengiriman dan logistik. Keduanya juga terus berusaha menghadang pabrikan Cina yang terus merangsek pasar dengan iming-iming harga murah.

Seperti dilaporkan Nikkei dan The Green Journal, Senin (2/8/2021), Hino berniat meluncurkan truk listrik Hino Dutro Z pada awal musim panas 2022 nanti. Sedangkan Isuzu akan menggelontorkan Isuzu Elf versi listrik juga pada tahun 2022.

Keduanya mengikuti jejak rekan senegaranya Mitsubishi Fuso Truck and Bus yang memulai debutnya dengan eCanter pada 2017. Truk bertenaga listrik ini semuanya ringan dengan kapasitas 2 ton hingga 4 ton.

Hino dan Isuzu bergabung dengan aliansi kendaraan listrik berasama Toyota Motor. Aliansi ini bertujuan untuk mengembangkan kendaraan komersial listrik ringan plus teknologi baru lainnya.

Isuzu Elf listrik dipamerkan di Tokyo Motor Show 2019-dok.Istimewa

Sebelumnya, dua sekondan Hino dan Isuzu – yakni Suzuki Motor dan Daihatsu Motor – telah lebih bergabung dengan aliansi bersama Toyota tersebut. Dan di bulan Agustus ini mereka telah menginjak ke jadwal untuk mempercepat laju elektrifikasi mereka di Jepang.

Hino – yang merupakan perusahaan bagian dari grup Toyota untuk segmen kendaraan truk – telah mengembangkan truk ringan berteknologi listrik murni, namun dengan jangkauan hingga 100 kilometer.

“Truk ini menawarkan opsi yang mudah digunakan untuk pengemudi pengiriman dan dirancang untuk logistik jarak jauh,” kata Presiden Hino, Satoshi Ogiso.

Saat ini, Isuzu dan Hino dinilai ragu-ragu untuk membangun truk listrik murni, mengingat tingginya rintangan. “Harga baterai yang mahal, menjadikan sulit untuk menekan harga,” kata seorang eksekutif di Isuzu.

Truk ringan listrik Mitsubishi eCanter-dok.Mitsubishi

Maklum, porsi harga baterai mencapai 30% hingga 50% dari total harga produk truk listrik. Padahal, truk membutuhkan banyak baterai untuk menahan muatan berat dan menempuh perjalanan dengan jarak yang sama dengan truk konvensional.

“Sebuah truk listrik dari pabrikan Jepang akan menelan biaya kira-kira dua kali lipat dari model konvensional. Sehingga, hampir tidak mungkin bagi perusahaan truk untuk menggunakan armada tanpa emisi (listrik), jika tanpa subsidi,” ujar seorang juru bicara di Japan Trucking Association.

Selain itu, masalah pengisian daya baterai juga menjadi tantangan tersendiri. Infrastruktur yang terbatas berarti waktu pengisian yang lebih lama akan merugikan pemanfaatan armada.

Truk listrik ringan Isuzu – dok.Japan Bullet

Untuk eCanter Mitsubishi Fuso misalnya, proses pengisian cepatnya membutuhkan waktu setidaknya 90 menit. Namun, proses pengisian normal membutuhkan wakyu 11 jam untuk pengisian normal.

Serbuan truk asal Cina
Kini, industri produsen truk menghadapi kenyataan era dekarbonisasi yang diberlakukan pemerintah di berbagai negara. Tak terkecuali di Jepang sendiri, dimana kendaraan komersial disebut menghasilkan emisi karbon hingga 36,8% di tahun 2019 lalu.

“Hanya, peraturan truk telah ketinggalan dibanding aturan mobil listrik penumpang, dan pembuat mobil Jepang lambat merespons,” ujar analis Okasan Securities, Shinya Naruse.

Ilustrasi pengisian baterai kendaraan listrik – dok.Istimewa

Lantaran itu, banyak perusahaan pengguna truk dengan cepat merangkul pilihan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Dan perusahaan-perusahaan asal Cina yang merupakan pendatang baru hadir dengan cepat memenuhi kebutuhan perusahaan yang membutuhkannya.

SG Holdings, induk dari raksasa logistik Jepang Sagawa Express misalnya, telah memesan 7.200 armada truk listrik ringan dari Guangxi Automobile Group (GAG), pabrikan asal Cina. Truk-truk itu bakal melenggang ke Jepang pada September 2022.

Ilustrasi kantor Sagawa Express-dok.Japan Today

Harganya lebih bersaing, yakni diperkirakan kurang dari 1,3 juta yen – 1,5 juta yen. Harga yang kompetitif seperti itu memberikan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan Cina dibanding pabrikan pesaing mereka dari Jepang. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This