Mulai 2022 Vietnam Wajibkan Standar Euro 5, Ekspor RI Wajib Waspada

Ilustrasi, mobil Toyota yang diekspor ke Viet- dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Majelis Nasional Vietnam pada akhir Mei lalu telah mengesahkan revisi Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Lingkungan yang akan menggantikan UU yang sama versi tahun 2014. Beleid anyar yang akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2022 itu mengharuskan pemilik pabrik – dan termasuk perusahaan pengimpor mesin dan kendaraan – untuk menggunakan teknologi terbaik agar bisa mengendalikan polusi.

Pada sektor industri otomotif, seperti dilaporkan laman Vietnam Trade.Government belum lama ini, pemerintah Vietnam akan menaikkan standar emisi untuk kendaraan bermotor baru yang dijual di negeri itu. “Pemerintah menetapkan aturan (berdasar Undang-undang baru hasil revisi itu) yang mewajibkan pematuhan terhadap standar emisi Euro 5. Ini akan berlaku mulai 5 Januari 2022,” tulis laman itu mengutip salah satu pimpinan Majelis Nasional tersebut.

Sejumlah analis industri di Vietnam yang dikutip Vietnam Insight dan bahkan Lembaga Riset dan Analisa Industri serta Pasar Otomotif asal Inggris, Just Auto, memperkirakan aturan baru tersebut bisa berdampak terhadap ekspor Thailand dan Indonesia. “Dua negara ini – Thailand dan Indonesia – merupakan dua negara eksportir kendaraan bermotor roda empat atau lebih terbesar pertama dan kedua ke Vietnam hingga saat ini,” tulis Just Auto.

Mobil Toyota asal Thailand yang diimpor Vietnam – dok.Vietnam Times

Persoalannya bukanlah negara-negara eksportir ini tidak sanggup memenuhi standar tersebut. Namun bisa saja proses pengujian harus dilakukan di dalam negeri Vietnam. Sehingga bisa saja memunculkan perbedaan dan menjadi hambatan non tarif.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto yang dihubungi di Jakarta, Selasa (23/11/2021) mengaku belum mengetahui rencana kebijakan yang bakal dilaksanakan otoritas di Negeri Paman Ho tersebut. Meski demikian, kata dia, jika itu benar terjadi maka asosiasi industri mobil Indonesia menyerahkan dan menpercayakan kepada pemerintah untuk menyikapinya.

“Karena persoalan ekspor ini bukanlah kepentingan masing-masing industri semata, tetapi juga kepentingan nasional. Bahkan untuk perdagangan internasional itu kan ada aturannya yakni di WTO (World Trade Organization), kalau negara sudah menandatangani tentu harus patuh ke aturan itu. Kan ada punishment dan reward di situ,” papar Jongkie.

Mobil asal Indonesia yang diimpor Vietnam – dok.Vietnam Times

Industri RI tak masalah
Menurut dia sejatinya standar Euro 5 bukanlah persoalan sulit dan serius bagi industri otomotif di Indonesia. Sebab, selama ini ada merek tertentu di Tanah Air yang memproduksi mobil dengan standar itu untuk pasar ekspor.

“Jadi persoalannya, kalau memang benar aturan itu akan diberlakukan di sana (Vietnam), yang perlu dilihat adalah ada aturan-aturan turunan yang menjadikan proses ekspor menjadi sulit. Kalau teknologi standar Euro 5 bagi industri kita tidak jadi soal,” ucap Jongkie.

Produksi mobil di Haipong City, Vietnam – dok.Reuters

Sebelumnya, seperti dilaporkan Hanoi Times, Vietnam Automotive Manufacturers Association (VAMA) menyebut penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih di Vietnam selama Januari – Oktober mencapai 197.222 unit. Jumlah ini menciut 3% diibanding penjualan selama periode sama tahun lalu yang sebanyak 204.145 unit.

Model-model asal impor jumlahnya masih cukup besar. Mobil impor terbanyak berasal dari Thailand, Indonesia, dan Cina. (Fat/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This