Digebuk Vietnam, Ekspor Mobil Sempoyongan

Digebuk Vietnam, Ekspor Mobil Sempoyongan

Jakarta, Motoris – Ekspor mobil dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) terpangkas 1,5% menjadi 129.550 unit per Mei 2018, dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 131.584 unit. Hal ini dipicu kebijakan Vietnam yang sempat membatasi impor mobil.

Sementara itu, impor mobil utuh nasional naik 7,22% dari 123.345 unit menjadi 132.255 unit. Indonesia banyak mengimpor mobil dari Thailand dan India. Jenisnya beragam, antara lain kabin ganda, sedan, mobil kota (city car), dan mobil premium.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan, ekspor mobil menurun karena banyak faktor, salah satunya kebijakan pemerintah Vietnam yang membatasi impor kendaraan. Hal ini berlaku pada Januari-Maret 2018.

Vietnam merilis Decree No. 116/2017/ND-CP (Decree on Requirements for Manufacturing, Assembly and Import Of Motor Vehicles and Trade in Motor Vehicle Warranty and Maintenance Services), yang mengatur sejumlah persyaratan untuk kelaikan kendaraan, termasuk emisi, dan keselamatan. Regulasi ini mulai berlaku pada 1 Januari 2018 dan mengakibatkan kinerja ekspor mobil CBU dari Indonesia ke Vietnam berhenti.

Baca Juga: Menperin Ngotot Dorong Ekspor Mobil ke Australia 

Suzuki berencana ekspor All New Ertiga ke 20 negara mulai September 2018 (motoris)

Dalam aturan itu, Vietnam meminta pengujian emisi dan keselamatan mobil harus dilakukan di setiap pengapalan. Padahal, dulu, hal ini hanya dilakukan pada pengapalan perdana. Selanjutnya, beleid terbaru itu juga mengharuskan sertifikasi persetujuan tipe kendaraan (vehicle type approval/VTA) dirilis oleh otoritas di negara eksportir. VTA menunjukkan suatu kendaraan memenuhi standar Vietnam. Dulu, sertifikasi ini hanya perlu dibuat oleh importir di Vietnam.

Saat ini, Jongkie menegaskan, Vietnam sudah merevisi peraturan tersebut, karena sudah berdiskusi dengan pemerintah Indonesia, yang diwakili Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Gaikindo. Revisi tersebut dilakukan April 2018, namun realisasinya belum 100%, sehingga masih berdampak pada kinerja ekspor.

“Penyebab utama turunnya ekspor pada Januari-Mei 2018 karena kebijakan pembatasan mobil impor yang dilakukan Vietnam,” ujar dia Jakarta, Jumat (29/6).

Dia menambahkan, faktor lain yang memengaruhi penurunan ekspor adalah perekonomian global tidak stabil karena masalah internal. Dia memprediksi ekspor kendaraan kembali meningkat pada semester II, didorong pemulihan ekonomi global. Tahun lalu, ekspor mobil mencapai 231 ribu unit dan tahun ini diprediksi stabil. (gbr)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This