Impor Mobil Listrik Kemunduran Industri Otomotif

Impor Mobil Listrik Kemunduran Industri Otomotif

Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menginginkan pendalaman industri di proyek mobil listrik, termasuk rantai pasok. Kemenperin tak ingin Indonesia hanya menjadi importir mobil listrik.

“Masalah utama kendaraan listrik adalah kedalaman struktur industrinya. Rantai pasoknya harus jelas. Kalau nilai tambah kecil, semua impor, itu langkah mundur bagi industri otomotif kita,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto di Jakarta, Selasa (7/10).

Dia menuturkan, salah satu komponen mobil listrik yang wajib diproduksi di Indonesia adalah baterai. Namun, pembangunan industri baterai membutuhkan investasi yang besar. Oleh sebab itu, dibutuhkan kepastian regulasi untuk menarik investasi.

Saat ini, kapasitas produksi terpasang industri mobil nasional mencapai 2,2 juta unit per tahun. Dari jumlah itu, yang terpakai baru sekitar 1,2 juta unit.

Baca Juga: Sundulan Toyota  Indonesia ke Wacana Mobil Listrik 

Toyota Prius Plug-in hybrid yang digunakan penelitian oleh enam perguruan tinggi – dok.Motoris

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, baterai menjadi komponen vital mobil listrik. Itu sebabnya, pemerintah diminta fokus mengembangkan industri baterai dan infrastruktur pendukung, jika ingin serius mengembangkan kendaraan listrik.  Saat ini, dia menuturkan, belum banyak negara yang mengembangkan industri baterai hingga ke pengelolaan limbah. Hanya ada tiga negara yang memiliki industri baterai, yakni Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

“Baterai ini umurnya tiga tahun, kemudian harus diganti dan maksimal 10 tahun harus dibuang. Pengelolaan baterai ini bagaimana? Sebab, baterai mengandung zat-zat beracun. Negara yang baru bisa mengelola limbah baterai hanya Belgia, dan biayanya mahal,” kata Yohannes.

Dia berharap industri baterai bisa dikembangkan di Indonesia, untuk menghindari ketergantungan impor. Apalagi, jika rencana pengembangan baterai dari nikel kobalt bisa berjalan. Di Indonesia, yang cukup mumpuni dalam riset ini baru Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). (gbr)

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono – dok.Kemenperin

 

CATEGORIES
TAGS
Share This