Insentif LCGC Bisa Dihapus

Insentif LCGC Bisa Dihapus

Jakarta, Motoris – Mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) dikhawatirkan tidak lagi mendapatkan insentif tarif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 0%, jika regulasi mobil rendah emisi karbon (low carbon emission vehicle/LCEV) keluar. Saat ini, program LCGC yang bergulir sejak 2013 dievaluasi pemerintah.

“Jika hal itu terjadi, LCGC akan sulit bersaing dengan kendaraan serbaguna bawah (LMPV), karena kalah dari sisi kualitas dan harga,” ujar ekonom senior Bank Mandiri Anry Asmoro dalam laporan riset yang dirilis Rabu (25/7/2018).

Seiring dengan itu, dia menyarankan perbankan berhati-hati menyalurkan kredit ke pemasok komponen LCGC. Sebab, performa bisnis mereka dipastikan terganggu jika LCGC tak lagi menikmati insentif.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan LCGC tahun lalu turun 0,3%, saat pasar mobil tumbuh 1,5% menjadi 1,079 juta unit dari 2016 sebanyak 1,062 juta unit. Namun, pangsa pasar LCGC stabil di level 28%.

Baca Juga: Kabar Mulai Merebak, LCGC Jilid II Dipertanyakan 

Toyota Calya, mobil murah andalan Toyota (autoindustriya.com)

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kucuran kredit ke sektor industri kendaraan bermotor (motor vehicle) mencapai Rp 9,7 triliun kuartal I-2018, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 4,4 triliun. Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) rendah, hanya 0,8%.

Sementara itu, pada periode sama, penyaluran kredit ke sektor aksesoris dan suku cadang mobil mencapai Rp 14,6 triliun. NPL membengkak dari 0,4% menjadi 0,9%.

Sebelumnya, kolega Motoris di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mengaku, sampai saat ini masih bingung memastikan, apakah ada dampak yang cukup signifikan kehadiran LCGC terhadap konsumsi BBM nasional, penciptaan pasar suku cadang untuk mengganti insetif pajak yang diberikan, hingga persoalan transfer teknologi. Sebab, hal itu semua terkait dengan insentif fiskal yang diberikan.

“Ini pendapat pribadi saya bukan institusi ya. Soal LCGC, memang perlu dikaji lagi. Bukan hanya di atas kertas, tetapi fakta riilnya seperti apa. Mungkin di atas kertas konsumsi BBM 1:20 kilometer, tapi faktanya seperti apa? Dan yang terpenting dievaluasi adalah bagaimana dampaknya selama lima tahun? Ini perlu dievaluasi secara menyeluruh. Kalau bagus ya tentu bisa diteruskan,” ujar dia. (gbr)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya. Sokonindo Rela Boncos Ketimbang Bangkrut.

 

CATEGORIES
TAGS
Share This