Riset ITB: Mobil Hybrid Bisa Langsung Ngegas di RI

Riset ITB: Mobil Hybrid Bisa Langsung Ngegas di RI

Tangerang, Motoris – Mobil hibrida (hybrid electric vehicle/HEV) berpeluang besar dikembangkan sebagai tahap awal program kendaraan listrik. Selain dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM), HEV tidak membutuhkan dukungan infrastruktur tambahan seperti mobil elektrifikasi lainnya.

Sebaliknya, mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) membutuhkan infrastruktur penunjang, seperti stasiun pengisian listrik umum (SPLU) dengan teknologi pengisian cepat (fast charging). Sementara itu, HEV tak memerlukan SPLU, karena mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) dapat mengisi daya baterai.

Berdasarkan hasil awal  riset dan studi komperatif Electrified Vehicle Comprehensive Studi oleh Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI), HEV bisa langsung diimplementasikan, karena tidak membutuhkan dukungan tambahan, seperti jenis kendaran listrik lainnya.

Ketua Tim Riset ITB Agus Purwadi mengatakan, konsumsi bahan bakar HEV dua kali lebih efisien dibanding mobil konvensional. Dari pengujian selama 44 hari dengan jarak tempuh 2.000 kilometer (km) dalam dan luar kota Bandung, konsumsi bahan bakar Toyota Prius Hybrid mencapai 22,7 kilometer per liter (kpl), dua kali lebih efisien dibandingkan Corolla pembakaran dalam 10,2 kpl.

Baca Juga: Toyota Indonesia Paling Siap Garap Pasar Mobil Hybrid 

Toyota Prius Plug-in Hybrid dipamerkan di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Sementara itu, konsumsi bahan bakar Prius PHEV (plug in hybrid electric vehicle) jauh lebih irit lagi, yaki 56,7 kpl atau lima kali dari Corolla. Namun, kendaraan ini membutuhkan infrastruktur tambahan, karena waktu pengisian baterai lumayan lama, dengan catatan baterai belum diisi penuh. “Kalau mau segera implementasikan, HEV pilihannya, karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan berupa SPLU atau privat di level rumah tangga,” kata Agus, Kamis (9/8/2018).

Berdasarkan riset ITB, saat ini, hanya 2% rumah tangga di Indonesia yang memiliki daya listrik sebesar 3.500 VA ke atas, yang bisa mengakomodasi kebutuhan pengisian baterai PHEV atau BEV. Sementara itu, sebanyak 4% rumah tangga lain memiliki daya listrik 2.200 VA.

Meskipun kapasitas daya itu cukup, dia menuturkan, saat melakukan pengisian baterai mobil, semua daya listrik bisa terserap habis. Artinya, kalau sedang mengisi baterai mobil, pelanggan rumah tangga 2.200 VA tidak bisa memakai perangkat listrik lainnya.

Sementara itu, hasil riset dari tim dari UI yang mewakili LPEM UI menekankan pencapaian target pengurangan karbon dioksida (CO2) dan konsumsi BBM secara signifikan. Hal ini menjadi salah satu target kebijakan pengembangan mobil elektrifikasi di Indonesia hanya bisa dicapai, jika penggunaannya mobil jenis ini berlangsung secara masif atau besar-besaran.

Baca juga: Taring Jepang Mulai Kelihatan di Era Kendaraan Listrik Indonesia

Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah untuk membuat teknologi ini populer di kalangan masyarakat. Hal ini akan menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan berteknologi listrik.

“Konsumen harus memahami keunggulan dan keuntungan mengendarai/memiliki kendaraan jenis ini terlebih dahulu, barulah bisa mengharapkan mereka bisa membeli atau memakai. Untuk itu, regulasi harus mendukung  agar industri kendaraan berteknologi listrik ini bisa tumbuh di dalam negeri,” kata Chaykal Nuryakin dari LPEM UI. (Gbr)

FOLLOW IG @motorisindonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya. Ternyata Ekspor Suzuki Indonesia Juga Cemerlang.

CATEGORIES
TAGS
Share This